DPR: Simpang siur beras plastik, Sucofindo harus diselidiki

Haryo Wisanggeni
DPR: Simpang siur beras plastik, Sucofindo harus diselidiki
Simpang siur beras plastik terus bergulir. 5 lembaga melakukan tes laboratorium, hanya Sucofindo yang positif.

JAKARTA, Indonesia — Lima institusi berbeda melakukan uji laboratorium terhadap beras yang diduga mengandung plastik. Hasilnya, hanya badan usaha milik negara (BUMN) PT Sucofindo yang menyatakan positif.

Berangkat dari fakta ini, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menilai pihak kepolisian perlu menggali keterangan dari Sucofindo.

“Sekarang yang kita dorong pihak kepolisian harus menyelediki hasil tes dari Sucofindo. Karena hanya dia yang berbeda,” kata anggota DPR Komisi IV asal Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) Daniel Johan kepada Rappler, Rabu, 27 Mei.

“Kalau tidak, Indonesia ini bisa kehilangan kredibilitas, tidak ada yang bisa dipegang. Masa dengan sampel yang sama hasilnya bisa berbeda-beda.”

Sebelumnya, pada Selasa, 26 Mei, Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti mengumumkan bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel beras plastik yang ditemukan di Bekasi, Jawa Barat, tidak terbukti. 

Kesimpulan tersebut diambil dari hasil uji lab Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Pusat Laboratorium Forensik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Hasil ini bertolak belakang dengan hasil uji coba yang dilakukan pada 21 Mei oleh Sucofindo, padahal kelimanya menggunakan sampel beras yang sama.

(BACA: Segala hal yang perlu kamu tahu soal beras plastik)

Menurut penelitian di laboratorium Sucofindo, beras plastik terbuat dari berbagai macam bahan kimia.

Jenis bahan kimia yang berhasil diidentifikasi melalui serangkaian tes adalah benzyil butyl phtalate (BBP), diethyl hexyl phthalate (DEHP), dan dimethyl phthalateshalate (DMP).

Bahan-bahan tersebut merupakan bahan pembuat polyvinyl chloride dan kemudian dicampur lagi dengan senyawa kimia untuk melenturkan plastik, sehingga bentuknya menyerupai beras.

Hasil tes yang tak konsisten

Dalam rapat kerja bersama Kementerian Pertanian pada Selasa malam, 26 Mei, Komisi IV DPR mempertanyakan hal ini kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Amran tegas menyatakan bahwa hal ini tidak benar.

Adalah hasil uji laboratorium dari 4 lembaga pemerintah yang menjadi dasar pernyataan Amran tersebut.

“Alhamdulillah tadi ‎hasil lab dari BPOM negatif tidak ada kandungan plastik, kemudian Polri juga tidak. Deptan kami sudah tahu lebih dahulu beras ini tidak mengandung plastik. (Hasil Kementerian) Perdagangan juga negatif,” ujar Amran sebagaimana dikutip oleh media.

Namun demikian, sebelumnya telah ada hasil tes dari Sucofindo dengan hasil yang sebaliknya.

“Mengidentifikasi adanya kandungan senyawa yang identik dengan polyfiner. Ini bahan baku pipa plastik,” ujar Walikota Bekasi Rahmat Effendi pada 21 Mei 2015 kepada media, mengutip hasil uji laboratorium Sucofindo.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pakar teknik kimia Universitas Indonesia Prof. Nasikin memiliki dugaan. “Cara mengujinya saya rasa. Sampel yang sama, diuji dengan cara yang berbeda maka akan menghasilkan keluaran yang berbeda pula,” kata Nasikin.

“Sampai sekarang kan semua lembaga yang melakukan tes ini belum mengungkapkan dengan jelas alatnya apa yang mereka gunakan untuk menguji. Terus caranya bagaimana? Apa dihaluskan, dicairkan, atau dilarutkan dengan pelarut misalnya,” Nasikin melanjutkan.

Pintu masuk bentuk Pansus

Dari DPR, bergulirnya isu beras plastik ini menurut Daniel Johan juga akan dijadikan pintu masuk bagi para wakil rakyat untuk membentuk panitia khusus (Pansus) terkait isu perdagangan dan keamanan pangan.

Hal ini menurutnya menjadi semakin krusial menjelang bulan suci Ramadan saat permintaan pangan akan meningkat.

“Jadi opsinya ada dua, apakah Pansus Tata Niaga atau Pansus Keamanan Pangan. Selain beras plastik, sekarang ini kan ada bermacam-macam. Susu palsu misalnya, atau yang lain lagi,” kata Daniel menjelaskan latar belakang pembentukan Pansus. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.