Beras plastik, panik, dan kedewasaan publik

Kokok Herdhianto Dirgantoro
Beras plastik, panik, dan kedewasaan publik
Pesannya: Jangan terlalu mudah dikibuli karena jika kondisi ekonomi memburuk, yang rugi ya kita juga.

Luar biasa berita tentang beras plastik. Hasil uji laboratorium belum keluar tapi media sudah membuat running news dengan dahsyatnya. 

Pakar gizi dan kesehatan langsung mengambil panggung memberikan penjelasan bahayanya mengonsumsi beras plastik. Panik merajalela di publik. Masyarakat takut, pemerintah bingung, haters langsung tuding pemerintah tidak becus. Semuanya terjadi tanpa menunggu hasil uji lab keluar. Dan ternyata hasilnya beras yang diuji negatif.

Setidaknya 4 dari 5 lembaga yang menguji keabsahan beras plastik mengumumkan hasilnya negatif, termasuk Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Pusat Laboratorium Forensik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Hanya badan usaha milik negara PT Sucofindo yang menyatakan hasilnya positif. (BACA: Simpang siur beras plastik, Sucofindo harus diselidiki)

Publik yang panik sungguh susah diduga tindakannya. Sangat irasional. Seorang teman menelepon saya kemarin dengan nada serius. Berikut percakapan kami:

A: Kok, sepertinya aku keracunan beras plastik. Kepala pusing, mual, dan badan lemas. Persis seperti penjelasan pakar nutrisi di TV.

B: Wah, ceritanya bagaimana?

A: Siang ini aku lapar banget. Lalu makan di restoran Padang. Makan kepala kakap, rendang, tunjang, cincang kambing, dan nasi tiga piring. Pas diantar bill, badanku mendadak sakit. Ini pasti karena beras plastik.

B: Yaelah, Bro. Gajian masih seminggu lagi belagu makan segambreng. Ya pusinglah, wong kamu nggak punya duit. Kalau makanmu aku bayar, pasti langsung sembuh, kan? Kebaca banget trik murahan kamu.

Kepanikan publik mudah disulut

Tentu saja cerita di atas adalah khayalan saya belaka. Tapi seirasional itulah individu saat panik. Tanyalah ke semua ekonom perencanaan hingga yang pakar ekonomi mikro sampai pengusaha apakah ketakutan mereka terbesar. Apakah bunga tinggi, fiskal tak terkontrol, moneter buruk, pertumbuhan turun, atau perdagangan jeblok? Publik yang panik saya yakin akan keluar sebagai jawabannya.

Hari-hari ini saya melihat kepanikan publik mudah disulut. Semua orang tetiba menjadi pakar ekonomi. Berbekal analisis otak-atik gathuk menyebarkan kepanikan seolah ekonomi Indonesia akan kiamat esok hari. Iya, ekonomi lagi tidak begitu bagus tapi jangan bikin masyarakat makin panik.

Beberapa postingan di Facebook dan Twitter mulai membuat panik terkait kurs. Arahnya adalah RI terancam krisis ekonomi seperti 1998. Lihat rupiah terus melemah, bahkan lebih buruk dari tahun 1998. Ini jelas sinyal akan terjadi krisis besar. 

Orang yang minim pengetahuan ekonomi dan kebetulan #uhuk tidak memilih Joko “Jokowi” Widodo akan serta merta memanfaatkan isu ini untuk pelampiasan emosi mereka. Meluapkan segalanya ke pemerintah. Pokoknya Jokowi salah, bodoh, bikin krisis.

Simple googling sebenarnya akan menjawab ancaman krisis dari kurs tersebut. Pada 1997, pendapatan per kapita Indonesia sudah menembus $1.000 lebih. Kurs rupiah sekitar Rp 2.000/US$. 

Pada 1998, ekonomi kontraksi 13 persen, pendapatan per kapita turun lebih dari 50% menjadi $400-an, kurs melemah 700% bahkan lebih. 

Bandingkan dengan kondisi saat ini. Ekonomi masih tumbuh, pendapatan per kapita di atas $3.000 dan kurs melemah mungkin puluhan/belasan persen. Ekonomi slowing down? Yes. Krisis seperti 2008? Mungkin terjadi. Krisis multidimensi seperti 1998? Di atas kertas tidak, namun tetap bisa terjadi. 

Lho kok bisa? Iya, bisa jika para pembual tanpa data terus membuat panik publik dengan berbagai informasi yang hanya diambil secuplik-secuplik. Lalu ada yang tanya, 1998 kok bisa ekonomi kontraksi? Lahirannya kapan? #plak

Belajar dari panik 1998

Tinggal Google sebentar pasti sudah pada tahu penyebab krisis multidimensi 1998. Saya tidak ingin membahasnya. Bukan karena tidak tahu, cuma malas kalau ada yang tanya, “Wah tahu banyak permasalahan 1998, pasti usia di atas 40 tahun dong”. Males kan jawabnya.

Ada beberapa kasus panik 1998. Rush BCA misalnya. Secara fundamental, BCA adalah bank dengan modal dan bisnis yang sehat. Dipantik sebuah isu bahwa Sudono Salim (pemilik Salim grup, salah satunya BCA) dikabarkan meninggal. 

Om Liem, panggilan akrabnya, adalah salah satu konglomerat yang dekat dengan mantan Presiden Soeharto. Isu beliau meninggal, ditambah melemahnya rezim Soeharto, menjadikan nasabah BCA panik dan mengambil dana simpanannya. Jangankan yang nasabah level ratusan ribu dan juta rupiah, yang kelas puluhan ratusan miliar juga ikutan panik. Antri di ATM, antri ambil tunai di teller. Semua dilakukan karena panik.

Bank era pra-reformasi belum terlalu kenal dengan instrumen pendanaan jangka panjang. Yang ada, dana masyarakat dengan spesifikasi 70-80% deposito jangka pendek, dijadikan kredit jangka panjang ke grup usaha sendiri dan sebagian lagi ke publik. 

Ketika terjadi rush, sebagian besar uang sudah jadi kredit jangka panjang. Bank pun kelimpungan memenuhi kebutuhan nasabah saving yang menarik uangnya. Ada yang saling pinjam antar bank untuk memenuhi kebutuhan pengembalian uang nasabah. Di ujungnya, pinjaman antar bank itu saling mengunci posisi keuangan satu sama lain. Macet semua. Dipicu karena panik.

Panik juga bisa melanda komoditas. Misalnya, ada rumor yang beredar dan diedarkan banyak pihak bahwa akan ada gagal panen beras seluruh Indonesia. Harga beras akan naik 30-50 persen dalam satu bulan ke depan. 

Jika rumor yang jelas bukan fakta ini dipercaya publik, maka masyarakat akan berbondong-bondong memborong beras di berbagai tempat. Yang biasa konsumsi 20kg/bulan sekeluarga, jadi beli 40-50kg. 

Permintaan beras meningkat mendadak karena rumor. Karena pasokan kosong usai diborong, beras yang diprediksi bakal naik bulan depan, bisa naik lebih cepat. Semua dipicu publik yang mengambil langkah irasional karena panik.

Memang kondisi ekonomi sedang tidak bagus, walau tidak jelek-jelek amat. Kondisi politik pun demikian—hmm kalau politik sih, ya gitu deh. 

Yang pasti keburukan akan menjauh dari negeri ini kalau masyarakatnya dewasa, bersatu dan sama-sama mencari solusi. Kalau yang muncul ke permukaan adalah terlalu banyak orang mengirim sinyal kepanikan daripada harapan, bisa jadi kondisi buruk akan sungguh-sungguh mendekat ke negeri ini. 

Percayalah, jika kondisi memburuk, yang akan mengalami kehidupan yang buruk adalah kita, rakyat biasa. Politisi dan pejabat akan selalu dapat mengelak dari tekanan ekonomi. Wong krisis ataupun tidak mereka tetap gajian. —Rappler.com

Kokok Herdhianto Dirgantoro adalah mantan wartawan, mantan karyawan bank. Kini ia mengelola kantor konsultan di bidang komunikasi strategis. Meski demikian, Kokok sangat berminat belajar seputar isu ekonomi. Gaya menulisnya humoris, tapi sarat analisis. Follow Twitter-nya @kokokdirgantoro.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.