Philippine economy

Kemenkeu siap hadapi potensi naiknya BBM di bulan Ramadhan

Haryo Wisanggeni
Kemenkeu siap hadapi potensi naiknya BBM di bulan Ramadhan
Di Indonesia, naiknya harga minyak dunia berpotensi memicu kenaikan harga BBM dan, pada gilirannya, laju inflasi.

JAKARTA, Indonesia — Didorong oleh turunnya jumlah cadangan minyak Amerika Serikat, harga minyak dunia naik ke titik tertinggi sepanjang 2015. Penurunan ini terjadi untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.

Di Indonesia, naiknya harga minyak dunia berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, harga minyak dunia berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 191 tahun 2014 merupakan salah satu variabel yang digunakan pemerintah untuk menghitung harga BBM di dalam negeri.

(BACA: Penundaan kenaikan harga BBM tidak akan lama)

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro menyampaikan bahwa pihaknya memang secara rutin melakukan evaluasi harga BBM non-subsidi untuk menyesuaikannya dengan berbagai variabel penentu harga BBM non-subsidi.

“Untuk non-subsidi seperti Pertamax, rutin kami evaluasi per 2 mingguan,” kata Wianda melalui pesan singkat.

BBM non-subsidi merujuk pada Perpres No. 191 tahun 2014 adalah BBM khusus penugasan dan BBM umum. Sedangkan BBM subsidi adalah BBM jenis tertentu yang terdiri dari minyak tanah dan solar bersubsidi.  

Untuk jenis BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, yaitu Premium, Wianda juga mengatakan bahwa penentuan harganya ada di tangan pemerintah sehingga masih perlu ditunggu apa keputusan pemerintah terkait harga Premium.

Merespon potensi naiknya harga BBM di bulan Ramadhan, ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya berpendapat bahwa sebaiknya pemerintah menggeser kenaikan ke setelah Idul Fitri.

“Diakumulasi saja, jadi naiknya nanti Agustus misalnya,” kata Berly.

Menurut Berly, hal ini karena pada periode bulan Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri tekanan terhadap laju inflasi sudah cukup besar dari potensi naiknya harga pangan karena bertambahnya permintaan.

(BACA: Efisiensi distribusi, kunci redam inflasi pangan)

Kemenkeu siap hadapi potensi inflasi

Namun, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan bahwa pihaknya terus mengupayakan agar fluktuasi harga BBM tidak berdampak terlampau signifikan terhadap laju inflasi.

“‎Terkait kebijakan BBM, kami terus selaraskan dengan pengendalian inflasi nasional. Sehingga ke depan inflasi tidak sensitif dengan kenaikan BBM,” ujar Bambang dalam rapat paripurna di Gedung DPR/MPR baru-baru ini, sebagaimana dikutip oleh media.

Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahazil Nazara, sejauh ini upaya Kemenkeu telah relatif berhasil.

“Anda perhatikan dulu tahun  2013 dan 2014 ketika BBM naik, inflasi melonjak sampai 2,5%. Sekarang tidak setinggi itu dan itupun sudah karena kenaikan harga yang lain-lain, tidak BBM saja,” kata Suahazil.

“Kuncinya kita naikkan BBM jangan mendadak, harus terukur dan sesuai dengan gerak perekonomian,” ujarnya — Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.