Aturan identitas asli pengguna Facebook diprotes

Uni Lubis
Aturan identitas asli pengguna Facebook diprotes
Sekelompok penampil panggung hiburan, juga penyintas kekerasan seksual, memprotes aturan Facebook yang wajibkan pengguna gunakan identitas asli. Mengapa?

Selain status Chief Operating Officer Facebook, Sheryl Sandberg, 30 hari setelah kematian suaminya, ada status Facebook lain yang tengah jadi perhatian di jagat berita teknologi informasi.

“By allowing any user to report profiles for having “fake names” without any proof, and by blocking accounts if users fail to submit identification confirming that their Facebook name is their legal name, Facebook’s policy silences the users who often need the site the most, and not the trolls doing the false, often-malicious reporting. 

Numerous users tell us that they believe their accounts were reported fake as a form of bullying or harassment, often motivated by homophobia or sexual aggression. One user wrote that she was told by a user “that he hopes that a man beats me to death” after rejecting his sexual advance, and then immediately found her account reported.” 

Kutipan di atas adalah status di dinding Facebook “Lil Miss Hot Mess”, seorang “drag queen” yang tengah jadi buah bibir di media di Amerika Serikat. Drag queen adalah pria yang mengenakan busana yang feminin, untuk perempuan. Biasanya mereka bekerja di dunia hiburan, misalnya sebagai penampil di kabaret.  

@LilMissHotMess, demikian akun twitter-nya, adalah penampil dari San Francisco, California.  Karena saya tengah berada di kawasan ini, berita Lil Miss Hot Mess dan seratusan orang unjuk rasa di depan kantor pusat Facebook, di Menlo Park, California, menarik perhatian saya. 

Lil Miss Hot Mess membawa teman-temannya, para penampil di dunia hiburan yang bersikeras menggunakan nama panggungnya di akun media sosial. Ikut dalam unjuk rasa itu warga lain, termasuk mereka penyintas kekerasan seksual. 

Mereka berbagi kekhawatiran bahwa menggunakan identitas asli di media sosial, sebagaimana diwajibkan Facebook sejak 2004, menempatkan mereka dalam posisi yang rawan. Mudah jadi korban bullying, pelecehan, maupun sasaran ancaman kekerasan.  

Ini bukan kali pertama Lil Miss Hot Mess dan kawan-kawannya unjuk rasa memprotes aturan Facebook. Musim gugur tahun lalu mereka memulai kampanye dengan tagar #MyNameIs, dan membuat petisi di dunia maya yang berhasil mendapat lebih dari 30 ribu pendukung.  

Menurut mereka, aturan Facebook membuat akun mereka rawan ditutup, akibat pelaporan oleh pihak lain yang berniat jahat, baik itu yang mengenali mereka, maupun pihak lain.  

Facebook lantas merespon dengan melonggarkan aturan. Pengguna mendapat tenggang waktu 7 hari untuk membuktikan identitasnya kepada pihak Facebook sebelum permintaan tutup akun dieksekusi. 

Pengguna bisa menunjukkan salinan bon belanja, langganan majalah sampai kartu keanggotaan perpustakaan untuk membuktikan identitasnya. Bagi Lil Miss Hot Mess, kelonggaran dari Facebook dianggap sebagai kemenangan kecil

Alasan Facebook 

Sebenarnya, Facebook juga menggunakan alasan keamanan (dan kenyamanan) bagi penggunanya saat melahirkan aturan penggunaan identitas asli. Wakil Presiden Facebook untuk Operasi Global, Justin Osofsky, mengatakan perusahaan mendorong penggunaan identitas asli untuk melindungi komunitas dari interaksi yang berbahaya.    

“Ketika orang menggunakan identitas asli berupa nama yang asli di akun Facebook, mereka akan lebih akuntabel atas apa yang mereka katakan. Orang diyakinkan bahwa mereka benar-benar terhubung dengan orang yang mereka sayangi, orang yang mereka kenal benar.” 

Identitas asli juga mencegah orang menggunakan akun media sosial untuk melancarkan pernyataan yang tidak berdasar seperti fitnah, maupun hal yang tidak pantas dilakukan di ranah publik.  

Catatan, definisi tidak pantas jadinya sangat longgar. Mirip pasal karet di UU Kriminal. Aturan ini juga disoroti karena rawan dimanfaatkan pihak otoritas di negara pengguna untuk mengincar mereka yang kritis terhadap pengusaha.  Tapi biasanya Facebook cukup ketat melindungi privasi pengguna. 

Unjuk rasa Lil Miss Hot Mess dan kawan-kawan mengingatkan saya pada sebuah diskusi yang diadakan Dewan Pers dan UNESCO dalam rangka Hari Pers Internasional, akhir bulan lalu.   

Bahaya mengunggah informasi pribadi di internet

Donny Budi Utoyo (@donnybu), praktisi Internet Sehat, mengingatkan kepada saya betapa bahaya mengunggah informasi terkait privasi, termasuk foto keluarga, ke ranah internet. Informasi itu bisa dimanfaatkan pihak lain untuk maksud jahat.  

Wow, padahal saya termasuk yang sering mengunggah foto kegiatan termasuk foto keluarga di Facebook. Awalnya, saat mulai aktif di Twitter, lebih dari 4 tahun lalu, sering juga saya unggah foto kegiatan pribadi di Twitter.  

Lama-lama saya merasa tidak nyaman. Pengikut makin banyak, dan sebagian besar tidak saya kenal dan menggunakan identitas anonim, membuat saya tidak nyaman keseringan melaporkan kegiatan pribadi di ranah Twitter.  

Saya kembali aktif di Facebook, dan mulai menyeleksi teman di Facebook. Yang saya pilih adalah mereka yang saya kenal, minimal pernah bertemu dalam berbagai kegiatan, termasuk teman sekolah. 

Prinsipnya memang tak ada privasi di ranah internet. Tidak ada jaminan juga kan informasi yang saya unggah di Facebook tidak disebarluaskan oleh teman saya? Lihat saja sejumlah kasus terkait pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik bahkan berawal dari percakapan jejaring Path, Whatssapp group, bahkan inbox messenger Facebook!

Berapa banyak di antara Anda yang memilih aktif di media sosial Facebook karena faktor trust dan intimacy di antara sesama penggunanya? 

Identitas otentik untuk kampanye sosial 

Foto dari Facebook John Patrick Raphael Kenny

Tahun lalu saya menuliskan tips ber-socmed ria ala Randi Zuckerberg. Di situ kita bisa mengetahui mengapa Facebook sejak awal peduli akan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna.  

Randi, pendiri dan kepala eksekutif dari Zuckerberg media, menceritakan hal itu dalam bukunya, “Dot Complicated, How To Make It Through Life Online in One Piece.”.  

Menggunakan nama atau identitas asli adalah kultur yang dibangun sejak awal di Facebook. Soalnya, para pengguna pada awalnya membuka akun menggunakan alamat email yang didapat dari kampus. 

Kita ketahui bahwa Mark Zuckerberg mengembangkan medium ini saat ia kuliah di Universitas Harvard. Mark tidak menyelesaikan kuliah. Randi lulus studi psikologi dari universitas bergengsi itu.

Menurut Randi, menggunakan identitas asli juga membuat sesama pengguna Facebook relatif menjaga kalimat dalam berkomentar. Relatif ya. Bahkan tidak ketidaksetujuan disampaikan secara lebih sopan ketimbang debat di Twitter misalnya. 

Di bukunya, Randi yang juga editor kepala Dot Complicated, komunitas gaya hidup modern, membahas bagaimana kultur menggunakan identitas asli itu juga membuat Facebook efektif sebagai medium untuk menggerakkan kampanye sosial. 

“Keberanian dan sikap individu menginspirasi pihak lain untuk bergabung, karena individu itu muncul sebagai dirinya sendiri, berbagi sikap pribadi melalui Facebook,” kata Randi. 

Sikap pribadi itu menyebar melalui kekuatan media sosial.

I am a passionate believer in the power of authentic identity,” ujar Randi.

Lil Miss Hot Mess dan kawan-kawannya, jelas keberatan dengan prinsip ini. Ada kelompok korban kekerasan yang juga keberatan. Bagaimana dengan Anda? — Rappler.com

Uni Lubis, mantan pemimpin redaksi ANTV, nge-blog tentang 100 Hari Pemerintahan Jokowi. Follow Twitter-nya@unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.