FPI dan warga gelar aksi protes terhadap Ahmadiyah Tebet

FPI dan warga gelar aksi protes terhadap Ahmadiyah Tebet
Menurut ketua RT setempat, jemaat Ahmadiyah di Tebet tidak pernah mendapat masalah berarti sampai kemudian FPI campur tangan dan membuatnya ramai

 

JAKARTA, Indonesia — Dua hari setelah jemaat Ahmadiyah dipaksa Front Pembela Islam (FPI) untuk beribadah di jalanan, sekitar 100 warga Bukit Duri Tebet dan anggota FPI melakukan aksi di depan Masjid An-Nur milik Ahmadiyah, Minggu, 14 Juni. 

“Sebagian yang berdemonstrasi adalah warga, tapi dari FPI juga ada,” kata Pantiarso, ketua RT 02 RW 08 Bukit Duri, Tebet, pada Rappler. 

Sebagai ketua RT, Pantiarso mengatakan dia tidak terlalu memusingkan kegiatan Ahmadiyah, namun khawatir adanya serangan ormas dari luar. 

“Kan ada ormas tertentu berbuat anarkis, seperti kejadian di tempat lain, menyerang, membakar. Takutnya malah warga saya yang tidak tahu apa-apa dikira Ahmadiyah.”

Ketika warganya memilih berdemonstrasi Minggu pagi, Pantiarso mengatakan dia telah menganjurkan mereka untuk mengajukan keberatan dengan damai, tidak boleh anarkis dan provokatif.

SKB yang buat pusing

Pada 2008, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri yang intinya melarang penyebaran ajaran Ahmadiyah. SKB ini tidak melarang kegiatan ibadah. 

Pantiarso mengatakan bahwa jemaat Ahmadiyah yang ada di Bukit Duri sudah sejak lama menjalankan aktivitas mereka di sana. 

“Kalau segala kegiatan Ahmadiyah, sebelum ada SKB 3 menteri aman,” katanya. “Semenjak ada SKB, jadinya kita tuh RT RW dibikin pusing, karena ada orang yang tidak mengerti agama menganggap Ahmadiyah sesat.”

Kiriman warga untuk jemaat Ahmadiyah di Bukit Duri. Foto dari JAI

Ini dikonfirmasi juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana. Masjid An-Nur sudah berdiri lama di Jalan Bukit Duri Tanjakan, tempat bagi sekitar 50 orang warga dan orang yang bekerja di sekitar masjid melakukan ibadah. 

“Sebetulnya masjid itu sudah berdiri lama sejak 1990-an dan kegiatan keagamaan tidak pernah jadi masalah. Baru mulai ada masalah sejak SKB 2008,” kata Yendra.

Lurah Bukit Duri, Mardi Youce, mengatakan bahwa masjid yang digunakan oleh jemaat Ahmadiyah adalah milik seorang warga bernama Diantoro. Warga yang keberatan tidak mempermasalahkan tempat tinggal tersebut, namun mereka tidak ingin ada kegiatan keagamaan yang bisa menimbulkan bentrokan. 

“Harusnya (SKB) dipatuhi dan tidak menggelar ibadah di rumah,” kata Mardi. 

Sebelumnya sudah ada dialog terkait dengan protes tersebut, antara warga, pemerintah, tokoh agama, jemaat Ahmadiyah dan polisi. 

“Kami sepakat menghargai setiap keyakinan agama.”

Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Tebet, I Ketut Sudarma, mengatakan warga hanya keberatan karena rumah milik Diantoro tersebut dijadikan tempat ibadah. 

“Warga mengajak Jumatan bareng bukan bikin jamaah sendiri di rumah,” kata Ketut.

FPI buat ramai

Masjid An-Nur di Bukit Duri sudah ada sejak lama. Menurut Pantiarso, tidak pernah ada masalah yang serius. 

“Saya bisa meredam keberatan warga sehingga tidak jadi besar,” kata Pantiarso.

Bila ada keberatan, menurut Pantiarso, jemaat Ahmadiyah biasanya menghentikan kegiatan mereka sementara. Lalu kemudian beraktivitas lagi. 

“Begitu terus, tapi saya masih bisa menangani sama warga. Empat atau lima minggu yang lalu, FPI tahu, makanya terus ramai di media.”

Menurutnya, polisi, camat, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat dan perwakilan warga, akan melakukan dialog untuk menyelesaikan ini pada Senin, 15 Juni.— Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.