Pengungsi Rohingya di Aceh Utara dipindahkan ke barak

Nurdin Hasan
Warga lokal Aceh menangis saat ratusan warga Rohingya dipindahkan ke tempat baru.

Kepala Imigrasi Lhokseumawe, Akmal berbicara dengan pengungsi Rohingya yang didudukkan di tanah sesaat setelah mereka tiba di barak penampungan di Desa Blang Ado, Aceh Utara, 15 Juni 2015.
Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

BLANG ADO, Indonesia – Sekitar 315 pengungsi Rohingya, termasuk 36 perempuan dan 198 anak-anak yang selama sebulan terakhir ditampung di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Cangkoi, Kabupaten Aceh Utara, dipindahkan ke barak di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Senin, 15 Juni.

Pemindahan warga etnis Rohingya dilakukan dengan menggunakan sejumlah bus milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Di Blang Ado, para pengungsi Rohingya ditampung dalam dua bangunan permanen Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh Utara yang dikelilingi pagar seng.

Ketika saat dipindahkan, puluhan pengungsi dan warga Kuala Cangkoi menangis dan saling berangkulan seolah tidak mau dipisahkan. Belasan warga Kuala Cangkoi dan sekitar ikut datang ke Blang Ado dengan menggunakan sepeda motor, padahal jaraknya mencapai sekitar dua jam perjalanan.

Maryani (38) tahun, seorang ibu rumah tangga dari Kuala Cangkoi menyebutkan bahwa dia sengaja datang ke Blang Ado dengan suami dan dua putranya. Perempuan itu seolah tidak mau dipisahkan dengan Rahmatullah, seorang bocah Rohingya berusia 10 tahun.

“Dia hanya seorang diri di sini. Menurut cerita dia, kedua orangtuanya telah dibunuh oleh tentara Myanmar. Dia punya seorang kakak di Myanmar,” kata Maryani kepada Rappler, Senin.

Menurut dia, selama sebulan pengungsi Rohingya, yang terdampar di perairan Aceh Utara pada 10 Mei silam, menetap di Kuala Cangkoi, dia setiap hari datang ke lokasi penampungan untuk bertemu dengan Rahmatullah.

“Saya selalu mencuci baju dia. Kadang dia saya bawa ke rumah untuk mandi, tetapi kemudian saya antar lagi ke tempat penampungan,” kata Maryani seraya mengharapkan agar dia diberikan kesempatan untuk merawat dan menyekolahkan Rahmatullah.

“Saya sudah menganggap dia seperti anak saya sendiri karena usia dia sama dengan anak saya. Mereka sangat akrab dan sering bermain bersama.”

Maryani menyatakan bahwa dia akan sering datang ke Blang Ado untuk mengantar makanan kepada “anak angkatnya” tersebut.

“Apalagi sebentar lagi akan masuk bulan suci Ramadan. Rabu besok saya akan antar daging makmeugang yang sudah masak untuk dia makan di sini. Padahal sebelumnya saya sudah berencana mengajak dia ke rumah untuk menikmati daging makmeugang bersama keluarga saya,” ujarnya.

Makmeugang adalah suatu tradisi turun temurun di Aceh yang sudah berlangsung sejak zaman dulu. Selama dua hari sebelum Ramadan, warga Aceh membeli daging dalam jumlah banyak untuk disantap bersama keluarga meski harganya melambung tinggi.

Begitu tiba di tempat penampungan Blang Ado, pengungsi Rohingya didudukkan di atas tanah untuk pendataan oleh petugas imigrasi. Selanjutnya, mereka makan nasi karena sebelum berangkat dari Kuala Cangkoi, para pengungsi belum makan siang.

Risna (17), warga Kuala Cangkoi lain, mengatakan sangat sedih karena harus berpisah dengan Gultaz Beghum, seorang bocah Rohingya berusia 7 tahun. Selama ini, Risna sering membawa pulang Gultaz ke rumahnya untuk bermain. Menjelang petang, dia mengantar kembali Gultaz ke tempat pengungsian di pinggir laut.

“Saya ingin mengadopsi dia karena saya sudah menganggap Gultaz seperti adik saya sendiri,” ujar Risna seraya menambahkan bahwa ia akan sering datang ke Blang Ado untuk bertemu dengan “adik angkatnya” dan membawa makanan.

Seorang relawan Tagana Dinas Sosial Kabupaten Aceh Utara sedang membagi ikan kepada para pengungsi Rohingya setelah tiba di barak penampungan di Desa Blang Ado, Kabupaten Aceh Utara, 15 Juni 2015.
Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Seorang pekerja Organisasi Internasional untuk Migran (IOM) yang ditanya Rappler menyatakan bahwa para pengungsi Rohingya itu bakal menempati dua bangunan di Blang Ado selama tiga bulan.

Setelah itu mereka akan dipisahkan ke barak dari kayu yang terletak di sisi bangunan. Barak-barak yang dibangun oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT), seorang lembaga swadaya masyarakat kemanusiaan, saat ini sedang dipacu pengerjaan oleh puluhan pekerja dari luar Aceh.

Di barak itu juga akan dibangun musholla, tempat para pengungsi Rohingya shalat. Selain itu juga dibangun tempat bermain anak-anak. Para pengungsi itu ditempatkan di barak tersebut selama setahun sampai ada keputusan tentang status mereka dari Komisioner PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR).

Ingin masak sendiri

Rabya Khatun (25), seorang pengungsi Rohingya yang pergi meninggalkan Myanmar bersama empat anaknya, mengharapkan di tempat barunya diberikan kesempatan untuk memasak sendiri karena makanan dari dapur umum tidak sesuai dengan lidah mereka.

“Saya mau masak kue piazu yaitu kacang yang ditumbuk setengah hancur. Kemudian dicampur bawang merah dan cabe sebelum digoreng. Itu penganan khas kami untuk berbuka puasa,” kata Rabya.

Harapan bisa memasak juga diungkapkan beberapa pengungsi Rohingya lain. Mereka ingin memasak sesuai selera masing-masing terutama lauk yang pedas. Muhammad Husen yang mampu berbicara bahasa Melayu menyatakan bahwa semua pengungsi Rohingya ingin memasak sendiri.

Tetapi, keinginan pengungsi Rohingya untuk bisa memasak sendiri tampaknya belum akan terwujud. Pasalnya hingga kini, relawan dari beberapa organisasi kemanusiaan belum ada yang menyumbangkan peralatan memasak. —Rappler.com