Ibu dan Ramadan

Arman Dhani
Ibu dan Ramadan
Selama Ramadan, ibu blogger ini hanya fokus pada dua hal. Ibadah dan merawat anak-anaknya. Merawat kami adalah bentuk lain ibadah baginya.

Setiap bulan puasa, dalam keluarga kami, ibu adalah satu-satunya orang yang paling bergembira. Hampir sepanjang puasa, ibu yang biasanya galak dan cerewet itu jadi sangat manis, sangat memanjakan, dan sangat sabar. 

Bulan Ramadan adalah bulan istimewa bagi ibu saya. Dia bilang dua anaknya, saya dan kakak saya, lahir pada bulan ini. Pada bulan Ramadan itu pula ia pertama kalinya mengkhatamkan Al-Qur’an dan banyak lainnya.

Selama sebulan penuh ibu saya memasak untuk berbuka dan sahur, tidak pernah putus tarawih, dan pada minggu-minggu terakhir ia i’tikaf di masjid, itupun dengan keajabian yang hanya Allah yang tahu, ia masih bisa memasak bagi kami untuk buka dan sahur. Maklum, jarak masjid dan rumah kami hanya dipisahkan tembok halaman saja.

Ibu saya adalah jagoan puasa. Ia melaksanakan puasa Senin-Kamis dan sejak setahun terakhir mulai melakukan puasa Nabi Daud. Sehari puasa dan sehari tidak. 

Ia tidak muda, mungkin sudah menginjak sekian puluh tahun. Saya lupa usia tepatnya, karena ibu selalu senyum saja ketika ditanya umur. Dan tak pernah dalam hidupnya ia membatalkan puasa hanya karena saya makan atau minum. Ibu saya hanya beberapa kali tidak berpuasa saat Ramadan, itupun karena beliau sakit.

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah portal berita yang menuliskan bahwa Menteri Agama meminta kita untuk hormati yang tak puasa dan mengijinkan warung makan boleh buka siang hari. Padahal saya tahu, ini tidak benar.

Saya membaca secara keseluruhan twit yang menjadi dasar pemberitaan itu. Pak Menteri Lukman Saifuddin meminta agar tidak perlu ada penutupan paksa warung saat Ramadan, karena tidak semua orang berkewajiban puasa, dalam hal ini orang orang non-Muslim misalnya.

(BACA: Menteri Agama: Hormati yang tak puasa, warung tak perlu tutup)

Lebih lanjut konteks kalimat itu juga menjelaskan bagaimana nanti jika seluruh warung ditutup? Yang tidak puasa akan cari makan di mana? Pada penjelasannya Lukman juga berkata soal menghormati mereka yang tak wajib puasa dari kalangan Islam, seperti yang hamil, jadi musafir, atau sedang sakit. 

Inilah yang kemudian dimaknai dan diplintir bahwa pak Lukman seolah memaksakan orang agar menghormati yang tak puasa. Akibat orang-orang macam ini dan media macam ini, saya jadi ingat ibu.

Ibu saya yang usianya sudah tidak muda lagi itu, bahkan tidak peduli ada warung buka atau tidak, tayangan televisi seronok atau tidak. Selama Ramadan, ibu saya hanya fokus pada dua hal. Ibadah dan merawat anak-anaknya. Merawat kami adalah bentuk lain ibadah baginya, maka jika kemudian ada yang merasa warung-warung perlu ditutup karena mengganggu mereka yang sedang puasa. Saya hanya bisa ketawa saja.

Kalian lemah. (BACA: Mari bicara bulan puasa, bir, dan keimanan)

Memang apa susahnya menahan diri untuk tidak makan dan minum? Ketimbang menahan makan dan minum, ada yang lebih susah dilakukan saat puasa. Menahan diri agar tidak menyebar kebencian. Tapi ngomong-ngomong soal makanan, dua masakan utama ibu kami di rumah saat sahur adalah Indomie goreng dan tahu telor.

Bukan, bukan karena ibu pemalas atau tidak suka masak. Tapi ibu kami tahu, sahur itu persoalan pelik, makan sehabis bangun tidur itu mesti disesuaikan dengan selera makan. Untungnya, saya dan almarhum kakak saya penggemar berat Indomie dan tahu telor, jadi saat sahur dua menu itu pasti habis dan pasti dimakan.

Buka puasa, di sisi lain, adalah soal pamer. Begini, ibu saya anaknya lima, empat laki-laki dan satu perempuan. Buka puasa bisa jadi seperti persiapan kawinan. Ada banyak menu yang disajikan. Kakak pertama saya suka makanan laut, almarhum kakak kedua saya tidak suka ayam, dan seterusnya dan seterusnya. Masing masing dari kami punya makanan kesukaan.

Menariknya meski demikian banyak menu buka, tidak membuat kami berebut. Karena sudah tahu porsi masing-masing, kesukaan masing-masing, dan apa yang hendak di makan. Saya tidak akan makan ikan laut, kakak saya tidak akan makan ayam, dan saya tidak akan makan yang ada sayurnya. Sesederhana itu. Kami tidak harus menuntut menu buka puasa menjadi seragam, monoton, dan tunggal.

Merepotkan? Tentu saja, ibu saya bisa saja mulai memasak sejak lepas siang, non-stop sampai maghrib. Diselingi jeda untuk sholat dhuhur atau ashar. Saat 10 hari terakhir ketika ada i’tikaf kami tahu diri, biasanya hanya minta dimasakan nasi, lauk bisa masak sendiri atau membeli.

Semuanya sadar bahwa tiap-tiap orang punya pilihan, punya pantangan dan punya kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya. Ibu dalam hal ini, sebagai penguasa rumah, hanya memfasilitasi ruang makan, dapur, dan nasi untuk makan bersama-sama.

Almarhum kakak saya tidak pernah marah, atau memaksa saya makan ayam goreng di tempat lain, karena ia tidak suka dan benci ayam goreng. Kakak pertama saya juga tidak pernah marah ketika almarhum kakak kedua saya makan sambal pedas hingga berkeringat deras.

Kami paham, bahwa menyantap hidangan buka puasa sebagai laku ibadah, adalah kenikmatan masing-masing. Sesuatu yang tidak perlu dipaksakan atau bahkan dilarang hanya karena kami tidak nyaman satu sama lain.

Maka ketika ada gambar macam ini, saya hanya bisa mengelus dada. Oh jangan salah, jika ingin menegakkan asas keadilan, teks dari gambar di bawah ini 100% benar. Bayangkan saja, sebatang pohon cemara saat natal itu berbahaya, bisa mengganggu iman kita. Sementara Nyepi itu pelanggaran hak asasi manusia, bayangkan kita harus berdiam diri tidak melakukan apa-apa. 

Saya hanya ingat ibu dan almarhum kakak saya. Mungkin jika mereka berdua membaca ini, mereka akan sepakat satu hal.

Aleman, koyo cah cilik (Manja, seperti anak kecil). —Rappler.com

Arman Dhani adalah seorang penulis lepas. Tulisannya bergaya satire penuh sindiran. Ia saat ini aktif menulis di blognya www.kandhani.net. Follow Twitternya, @Arman_Dhani.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.