Kisah anak Rohingya yang diculik dan dihanyutkan ke laut

Nurdin Hasan
Ibunya dibunuh di kota asalnya, adiknya meninggal dalam pengungsian, anak Rohingya ini korban penculikan manusia yang harus terpisah dari ayahnya.

DILARUNG. ??Janggir Husen, seorang anak pengungsi Rohingya, mengisahkan perjalanan hidupnya yang diculik para penyeludup manusia. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

KUALA CANGKOI, Indonesia – Anak 12 tahun itu menyandarkan tubuh kurusnya di sebatang pohon. Dia memilih menyendiri dari keramaian. Tatapannya hampa, seolah sedang larut dalam pahitnya kehidupan yang dialaminya.

Janggir Husen namanya. Dia adalah sebatang kara dalam rombongan 315 pengungsi Rohingya yang terdampar di perairan Kabupaten Aceh Utara, 10 Mei silam. Tidak ada anggota keluarga menemaninya. Juga tak warga kampungnya yang dia kenal.

Pertemuan Rappler dengan Janggir terjadi secara kebetulan di tempat penampungan sementara di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, Minggu malam, 14 Juni. (BACA: Jumlah pencari suaka Rohingya terdampar di Aceh bertambah)

Usai shalat Maghrib, bocah pendiam itu berdiri seorang diri dekat sebuah kedai kopi di pelabuhan kecil, tempat nelayan tradisional setempat mendaratkan ikan. Menurut beberapa nelayan, mereka sering melihat bocah itu menyendiri dekat kedai kopi itu selama sebulan tinggal di tempat penampungan tersebut.

Atas bantuan seseorang yang bisa berbicara bahasa Rohingya, Rappler menghampiri Janggir. Ternyata kisah hidupnya begitu tragis. Dia adalah korban penculikan di Kota Sittwe, Myanmar, yang dilarung ke laut.

Janggir mengisahkan bahwa ketika terjadi kerusuhan besar di Sittwe, di mana Muslim Rohingya dibantai milisi Buddha yang didukung pasukan keamanan Myanmar, dia lari bersama kedua orangtuanya dan seorang adiknya yang masih berusia 1 tahun untuk menyelamatkan diri.

Ayahnya, Shabir Ahmad, menggendong adiknya, Nabi Husen. Keluarga miskin itu terus berlari bersama ratusan Muslim Rohingya lain yang diburu milisi Buddha. Naas, ibunya, Syafika Beghum, tertangkap dan dianiaya dengan parang oleh para milisi. Perempuan malang itu tewas di tempat.

“Saya hanya bisa menangis sambil terus berlari. Ayah yang menggendong adik ingin membantu ibu, tapi milisi Buddha bersenjata parang dan tombak sangat banyak. Ayah tak bisa berbuat apa-apa,” tutur Janggir sambil menitikkan air mata.

Setelah berlari selama dua hari dua malam, mereka mencapai kamp pengungsian di luar Kota Sittwe. Janggir tinggal dengan ayah dan adiknya di kamp penampungan itu bersama ribuan Muslim Rohingya yang terusir dari kampung halaman mereka.

“Tetapi, adik saya sakit. Hanya semalam saya tinggal dengannya di kamp. Akhirnya ia dipanggil oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Mungkin karena adik tidak ada susu,” kata Janggir, sambil mengusap air mata di pipinya.

Selama hampir tiga tahun tinggal di kamp pengungsian, ayahnya tak bekerja. Janggir tidak sekolah, sama seperti anak-anak pengungsi Rohingya lain di kamp. Sehari-hari, mereka mendapat jatah makanan sedikit.

“Dulu sebelum kerusuhan, ayah bekerja di tempat orang kaya. Ayah kerjanya bantu orang kaya memotong kambing,” ucap Janggir.

Diculik, lalu dilarung ke laut

Anak-anak Rohingya di Kamp Kuala Cangkoi sedang mengantri makanan bersama orang dewasa. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler Indonesia

Suatu sore, bulan Februari 2015, Janggir bersama lima teman sebayanya – Khalawah, Lalu, Rasyid, Abdullah, dan Ilyas – bermain bola di lapangan dekat kamp pengungsian, aktivitas yang sering dilakukan anak-anak pengungsi menjelang petang.

Tiba-tiba seorang pria datang memanggilnya. Dalam kebiasaan masyarakat suku Rohingya, jika ada orang dewasa memanggil anak-anak, maka harus datang sebagai bentuk penghormatan kepada yang tua.

“Saya bilang pada kawan-kawan, kalian lanjutkan bermain. Saya dipanggil oleh orang itu. Nanti setelah selesai membeli mata pancing saya akan bergabung lagi bermain bola,” katanya.

Namun inilah awal petaka bagi Janggir. Dia diminta membeli mata pancing ke pasar dekat kamp pengungsian. Tanpa curiga, dia pergi ke pasar. Sejam kemudian kembali membawa mata pancing yang telah dibelinya.

Pria yang diyakininya dari etnis Rohingya mengajaknya untuk memancing. Ternyata pria itu menyekapnya dalam sebuah rumah. Janggir tak berani melawan karena pria itu mengancam akan membunuhnya kalau dia berteriak minta tolong.

Menjelang dini hari, pria yang tak dikenalnya membawa Janggir naik sebuah perahu kecil. Mereka pergi ke tengah lautan. Tujuh jam kemudian, mereka tiba di sebuah perahu besar yang menunggu.

“Saya melihat banyak sekali orang dalam perahu itu. Ada juga perempuan dan anak-anak. Beberapa orang dalam perahu punya senjata pistol. Saya sangat takut, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Janggir.

”Saya ingin bisa sekolah untuk mewujudkan cita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Saya akan balas kejahatan milisi Buddha dan tentara Myanmar terhadap Rohingya”

Selama dua bulan lebih, Janggir bersama ratusan pengungsi Rohingya dan pencari kerja Bangladesh berada dalam perahu yang berhenti di tengah lautan. Setiap hari, dia melihat orang-orang terus dipasok ke dalam perahu itu.

“Kami hanya diberikan sedikit makanan dan sedikit air dua kali sehari. Jika ada yang minta makanan, orang-orang bersenjata memukul mereka. Saya pernah dipukul satu kali karena minta sedikit air ketika saya sangat haus,” tuturnya.

Sebulan sebelum terdampar ke perairan Aceh, perahu yang penuh sesak manusia mulai bergerak. Kepada manusia perahu, kapten menyatakan, mereka menuju ke Malaysia melalui Thailand. Perjalanan akan ditempuh selama 10 hari.

Ternyata mereka gagal mencapai perairan Thailand, karena gencarnya operasi untuk memberantas penyeludupan manusia oleh otoritas negara Gajah Putih itu. Seminggu sebelum terdampar di Aceh, kapten boat dan anak buahnya meninggalkan manusia perahu terkatung-katung di tengah laut. Mereka kabur dengan speed boat

Berbicara dengan ayah

Janggir mengaku pernah sekali menghubungi ayahnya setelah dia tinggal di tempat penampungan Kuala Cangkoi. Mereka berbicara tiga menit.

“Saya telepon ayah melalui nomor kawannya. Kami bicara tiga menit. Ayah menangis begitu mendengar suara saya. Saya juga menangis. Ayah pikir saya sudah tak ada lagi, dibunuh milisi Buddha,” ucap Janggir.

Janggir mengaku ayahnya sangat sedih karena dia telah pergi meninggalkannya. Tapi Janggir bilang bahwa dia tidak lari dari kamp melainkan diculik saat sedang bermain bola dengan teman-temannya.

“Ayah bilang saya jangan melupakan ayah. Kalau saya bisa kerja di sini, ayah minta untuk dikirimkan uang sehingga ayah bisa datang menjemput saya. Ayah tidak punya uang karena di kamp pengungsian tidak bisa bekerja,” tutur Janggir.

“Saya takut pulang ke Myanmar. Kalau saya pulang, nanti ayah saya akan ditangkap oleh polisi. Mereka akan memukul dan menyiksa ayah.” (BACA: Pengungsi Rohingya di Aceh Utara dipindahkan ke barak)

Selama di tempat penampungan sementara Kuala Cangkoi, Janggir mencoba hidup mandiri. Dia mencuci baju sendiri dan tidur bersama ratusan pengungsi lain. Sehari-hari ia sering menyendiri. Seorang anak nelayan Kuala Cangkoi sering menemaninya meski mereka kesulitan berkomunikasi.

Sejak Senin, 15 Juni, Janggir bersama ratusan pengungsi Rohingya telah dipindahkan ke Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Mereka akan menempati dua gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh Utara selama tiga bulan sambil menunggu selesainya pembangunan barak kayu di sampingnya.

Tidak banyak pakaian dimilikinya. Janggir hanya punya delapan helai baju dan enam potong celana – sumbangan warga setempat. Ia membungkus pakaian dalam sebuah tas yang diberikan relawan.

“Saya ingin bisa sekolah untuk mewujudkan cita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Saya akan balas kejahatan milisi Buddha dan tentara Myanmar terhadap Rohingya,” ujarnya lirih. –Rappler.com