Mudik 2015: Waspada lewat Pantura

Haryo Wisanggeni
Mudik 2015: Waspada lewat Pantura
Rencana mudik? Hati-hati mengemudi di Pantura, atau cari jalur lain

JAKARTA, Indonesia — Pemudik yang berencana melewati Pantura tahun ini wajib meningkatkan kewaspadaan. Meski jumlah kecelakaan selama periode mudik tahun lalu menurun, di Pantura justru naik. 

Dari 2013 ke 2014, bila kecelakaan jalur tengah dan selatan masing-masing menurun sebesar 28% dan 3%, di Pantura justru melonjak 33%.

Di luar jalur tol dan alternatif, secara umum terdapat 3 jalur yang dapat ditempuh para pemudik di Pulau Jawa untuk pulang menuju kampung halaman mereka: jalur utara (Pantura); jalur tengah dan jalur selatan.

Dari ketiganya, jalur Pantura merupakan primadona para pemudik. Menurut Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) Edo Rusyanto, itu karena situasi Pantura yang relatif lebih nyaman untuk berkendara. Konturnya lebih dominan lurus dan kondisi jalannya lebih mulus dibandingkan jalur lainnya.

Menurut Edo, banyaknya kecelakaan di Pantura disebabkan oleh banyak faktor. Selain karena Pantura memang merupakan jalur yang paling ramai, juga terdapat persoalan dengan kualitas jalannya sendiri.

“Ada banyak faktornya, misalnya drainase yang kurang sehingga kalau hujan air lalu menggenang, itu kan merusak kualitas jalan sehingga akhirnya menyebabkan kecelakaan,” kata Edo.

Tol Cipali jadi solusi

Saat dikonfirmasi tentang data ini, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Djoko Sasono berharap jalur tol Cipali dapat menjadi salah satu solusi.

Tol yang baru diresmikan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada 13 Juni lalu ini menghubungkan wilayah Cikopo dan Palimanan. 

“Dengan Tol Cipali ini, nantinya beban di jalur Pantura akan berkurang sampai 40%. Dari situ, ya mudah-mudahan kecelakaan berkurang,” kata Djoko.

Untuk melaluinya, masyarakat belum dipungut tarif. Masa ‘promo’ ini akan berakhir pada 26 Juni.

Tapi apa Tol Cipali mampu memenuhi harapan tersebut? Masih menjadi tanda tanya. Belum genap dua pekan diresmikan, sudah terjadi 14 kecelakaan di jalur tol sepanjang 116,75 km ini. 

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Hediyanto W. Husaini memaparkan kepada media bahwa waktu istirahat pengemudi yang kurang ditengarai menjadi penyebab utama kecelakaan-kecelakaan tersebut.

“Ternyata waktu istirahat mereka jadi berkurang karena menemukan jalan baru yang panjang,” kata Hediyanto. Pemudik, berhati-hatilah. Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.