6 pengungsi anak Rohingya hamil

Febriana Firdaus
6 pengungsi anak Rohingya hamil

EPA

Trauma bisa berlanjut di Aceh jika pemerintah tidak menyediakan fasilitas yang layak pada pengungsi perempuan

JAKARTA, Indonesia—Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), 6 perempuan pengungsi Rohingya dari Myanmar hamil di usia belia, antara 13 – 15 tahun. 

“Usia kehamilannya ada yang sudah mencapai 7 bulan,” kata Ketua Komnas Perempuan Azriana Rambe pada Rappler, Minggu, 28 Juni. 

Ketika Komnas Perempuan berkunjung ke lokasi pengungsian di Aceh, mereka menemukan 5 anak hamil di Kuala Cangkoi dan satu anak hamil di Bayeun, Aceh Timur.

Dari keenam anak yang hamil tersebut, satu pengungsi berhasil diwawancarai dengan bantuan seorang penerjemah dari petugas Komite Tinggi Dunia untuk Pengungsi (UNHCR) pada 5 Juni kemarin. 

Saat wawancara, kata Azriana, anak perempuan tersebut mengaku kakinya sakit dan tak bisa berjalan. Ia menggunakan kursi roda. 

“Kemungkinan karena ia harus melipat kakinya di dalam perahu,” katanya. Padahal saat itu ia dalam keadaan hamil.  

Laporan Komnas Perempuan selengkapnya, bisa dibaca di sini

Hamil di usia muda, menikah atau diperkosa? 

Dari penelusuran Komnas, anak-anak pengungsi ini hamil karena dinikahkan oleh orang tuanya. Alasannya, untuk menghindari pemerkosaan yang sering terjadi di daerah konflik. 

Pengakuan itu diperkuat laporan UNHCR pada Azriana. Organisasi pengungsi dunia itu membenarkan bahwa di Myanmar, para pengungsi perempuan diduga mengami pelecehan seksual, bahkan sampai hamil. 

“Karena di sana kadang-kadang tentara atau polisi bisa datang dan mengambil mereka. Karena di sana daerah konflik,” katanya. 

Azriana mengaku tak heran dengan fenomena ini, karena pola dugaan pelecehan seksual ini juga terjadi di Aceh saat konflik.

“Di Aceh, daripada anak gadis berpacaran dengan tentara atau polisi, maka orang tua mengawinkan saja mereka (bukan dengan tentara), supaya tidak menjadi beban bagi orang tua,” katanya. 

Sementara itu, dari pengamatan Rappler di lapangan saat berkunjung di Kuala Langsa dan Cangkoi, beberapa pengungsi memang masih berusia sangat belia, tapi sudah menimang anak. 

Salah satunya adalah Somida Hatul dari Myanmar. Dia baru berusia 15 tahun, tapi sudah sibuk menimang Muhammad Mahi, yang baru berumur 4 bulan.

Ada lagi pengungsi Rohingya dari Myamar lainnya yang bernama  Rukiyah Hatul. Dia masih berumur 20 tahun, tapi juga sudah memiliki anak. Keduanya bertemu Rappler di kamp pengungsi Kuala Langsa. 

Sedangkan Halimatus Sadiyah yang ditemui Rappler di Kuala Cangkoi juga baru berumur 20 tahun, tapi sudah memiliki anak berumur 3-4 tahun. 

Trauma bisa berlanjut di Aceh 

 Atas temuan Komnas Perempuan ini, Azriana mendesak pemerintah untuk segera berkomunikasi dengan Pemerintah Myanmar lewat Kementerian Luar Negeri, karena diperkirakan masih banyak anak-anak perempuan Rohingya di Myanmar yang mengalami kekerasan seksual dan korban praktik pernikahan dini.

“Pemerintah sebaiknya bisa lebih gencar menekan pemerintah Myanmar,” kata Azriana. “Kami juga mendesak pemerintah melalui Kementerian Sosial untuk memberikan fasilitas terapi psikis sosial pada mereka.”

Menurutnya, trauma bisa berlanjut di kamp pengungsian jika pemerintah tidak peka terhadap para pengungsi anak perempuan ini. 

“Misalnya menyediakan toilet yang aman dan nyaman bagi mereka,” katanya. “Mereka rentan sekali mengalami pelecehan seksual.”

Saat ini, toilet bagi perempuan di kamp pengungsian di Langsa masih bertirai sehelai kain aja.

Perlindungan terhadap anak-anak perempuan di pengungsian itu harus terus diberikan. Sampai kapan? Sampai mereka mendapat kejelasan atas statusnya dan bisa menetap di tempat yang lebih layak dan aman.—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.