Tragedi Hercules: Kiamat kecil di atap rumah Suwondo

Febriana Firdaus
Tragedi Hercules: Kiamat kecil di atap rumah Suwondo
Suwondo adalah salah satu saksi kunci dalam kecelakaan pesawat Hercules di Medan. Ia melihat detik-detik puing pesawat jatuh di atap rumahnya sendiri.

 

MEDAN, Indonesia—Suwondo sedang menelepon istrinya ketika ia mendengar suara deru mesin menggema di atas atap rumahnya, di dekat Hotel Beras Pati Simpang Sima Lingkar, Medan, Sumatera Utara, Selasa, 30 Juni. 

“Saya keluar dan saya melihat ada pesawat terbang sangat rendah sekali, mungkin sekitar 15-20 meter dari permukaan tanah, sebegitu dekatnya sampai saya pikir ini kiamat,” katanya pada Rappler, Rabu. 

Suwondo melihat bagian sayap pesawat sepanjang 6 meter jatuh di atap rumahnya. Ia semakin panik ketika pesawat itu mengeluarkan api di bagian baling-baling sebelah kiri. 

Tidak lama kemudian, ia mendengar ledakan seperti gunung atau bom meletus, disertai guncangan kecil. 

“Saya melihat asap tebal hitam pekat sudah membubung setinggi 100-200 meter.” Dia baru sadar, kiamat kecil, jatuhnya pesawat Hercules, terjadi tepat di sebelah rumahnya.

Selamatkan ibunda dulu baru harta

Suwondo, pemilik hotel yang berlokasi di dekat tempat kecelakaan pesawat Hercules. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Menyadari bahwa ada pesawat jatuh, Suwondo langsung teringat ibunya yang sudah tua. Ibunya sudah berusia 90 tahun dan tak bisa berjalan lagi, hanya menggunakan kursi roda. 

Ia sigap mendorong kereta ibunya keluar kamar karena lokasi sumber ledakan yang hanya berjarak 30 meter dari kamar orang tua tunggalnya itu. 

“Saya langsung perintahkan karyawan saya untuk mengevakuasi dan menyelamatkan ibu kandung saya kepada baby sitter dan pegawai saya ke tempat yang jauh, sekitar 100 meter dari lokasi,” katanya.

Ia kemudian kembali ke lokasi dan mengambil mobil Honda Jazz yang sudah diisi beberapa dokumen penting. 

“Saya melawan arah (mengendarai mobil), karena kalau saya tidak melawan arah, saya harus melewati sumber ledakan.”

Suwondo mengaku sudah pasrah setelah berhasil menyelamatkan ibunda, sebuah mobil, dan dokumen penting miliknya. 

Lalu mobil pemadam kebakaran mulai berdatangan. Tiga mobil pemadam berhasil menembus kerumunan dan langsung memadamkan api di lokasi jatuhnya pesawat. Dan satu pemadam masuk ke hotelnya untuk memadamkan api yang tersisa. 

“Ledakan itu tak biasa dan bau asap pesawat juga.”

Berbagai material pesawat yang jatuh di atap rumahnya, antara lain sayap pesawat. Tapi yang paling diingat Suwondo adalah bunyi ledakan pesawat. Pesawat itu tidak hanya meledak sekali. Tapi berkali-kali.

“Ada letupan beberapa kali. Setiap ada ledakan, material pesawat terlempar ke sini. Baru terakhir itu ada ledakan yang menyerupai bom,” katanya. 

“Ya tepatnya suara ledakan itu seperti gemuruh, seperti air bah yang datang menghantam bangunan. Dan suara itu bukan sekedar sekali. Ada suara rentetan yang agak panjang,” katanya. 

Lalu bau dari pesawat yang terbakar juga tak biasa. 

“Baunya saya pikir kurang enak, bau yang jarang kita cium, ya sepertinya itu bau dari daging yang terpanggang, bau aneh,” katanya. 

Ia menduga bau itu berasal dari korban jatuhnya pesawat Hercules. 

Pesawat diduga menabrak tower 

Setelah keadaan mulai reda. Suwondo pun berbincang dengan tetangganya. Ia masih penasaran dengan pesawat Hercules tersebut, meski ia adalah salah satu saksi kunci. 

“Saya mendapat informasi dari tetangga saya, pesawat ini sebelumnya menyentuh tower di Sima Lingar. Sekitar 100 meter dari sini,” katanya. 

Pesawat itu memang sempat berputar-putar di atas atap rumah Suwondo, dan akhirnya terbang rendah lalu jatuh di sebelah rumahnya. 

“Tapi saya masih belum menemukan jawabannya, pesawat yang sebesar itu bisa jatuh di lokasi yang luasnya hanya 17 meter persegi,” katanya. 

Mungkinkah pesawat itu jatuh dalam keadaan tidak utuh? Ia tak bisa menjawab. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.