Tragedi Hercules: Salah antena atau mesin mati?

Adelia Putri
TNI AU menyalahkan keberadaan antena yang menjulang tinggi, sementara pengamat mengatakan masalahnya ada di mesin.

Puing pesawat Hercules yang jatuh di Medan, Sumatera Utara, 30 Juni 2015. Foto oleh Dedi Sahputra/EPA

JAKARTA, Indonesia — Setelah evakuasi korban jatuhnya pesawat Hercules berakhir, perhatian beralih ke alasan mengapa pesawat bisa sampai jatuh dan meledak. 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) pada awalnya menyebutkan masalah mesin sebagai penyebab awal jatuhnya pesawat. Namun, mereka kemudian mengatakan pesawat tersebut bisa saja selamat jika tidak menabrak antena.

“Secara teori bisa di-recovery. Tapi karena ketinggian masih rendah, itu masih ada antena, kalau itu flat (datar), itu bisa terselamatkan karena ada beberapa teman yang punya pengalaman (masalah) seperti itu,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Dwi Badarmanto, seperti dikutip media, Kamis, 2 Juli.

“Idealnya pangkalan TNI, ring paling luar harus 5 kilometer tidak ada obstacle seperti itu. Tapi ini di sana enggak sampai 5, sekitar 4 kilometer,” kata Dwi.

(BACA: TNI AU: Antena radio penyebab pesawat Hercules jatuh di Medan)

Sementara itu, menurut pengamat penerbangan Gerry Soedjatman, keberadaan antena itu sebenarnya bukan penentu utama kejatuhan pesawat. Ia malah mempertanyakan jumlah mesin yang mati. 

“Pesawat itu (kalau) mesinnya satu mati seharusnya masih bisa melanjutkan, masih bisa mengudara terus balik lagi. Lalu kenapa jatuh?” tanyanya. “Ini kita lagi menghitung, harusnya enggak kena (antena).”

Dari data sementara, ia mencurigai jika ada 2 mesin atau lebih yang mati.

Tower antena radio sekolah Bethany di Medan, Sumatera Utara. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

“Dari foto yang kita lihat dari lapangan, 2 mesin yang mati. Kalau begitu pasti ngga bisa (menyelamatkan diri) karena masih take-off dan belum sampai ketinggian aman. Kena enggak kena (antena), ya enggak ngaruh,” kata Gerry. 

“Pertanyaannya sekarang, berapa mesin yang mati? Karena seharusnya enggak nabrak tower itu. Logikanya secara kasar enggak kena,” ujarnya.

Kesimpulan tersebut bisa diambil dari puing-puing pesawat di lapangan meskipun tak ada black box pesawat.

“Kita lihat dua mesin, posisi baling-balingnya lagi mati. Apakah dimatikan, memang mati, atau salah mematikan?

“Kita lihat dari apa yang ada, posisi sayap benar apa tidak, banyak yang bisa ditentukan dari puing meskipun tidak akan sedefinitif dari black box,” kata Gerry.

Sayangnya, sepertinya hasil investigasi tidak akan keluar dalam waktu dekat. “Kita tidak bicara hari atau minggu. Ini bisa makan waktu hingga setahun,” ujar Gerry.—Rappler.com