100 mantan prajurit GAM ingin gabung ISIS

Nurdin Hasan
Tak memiliki keahlian selain berperang dan daripada menjadi kriminal di Aceh, mantan kombatan GAM lebih memilih belajar agama Islam bersama ISIS

Kombatan GAM memegang senjata saat diliput jurnalis di Bireun, Aceh, pada 29 Agustus 2005 silam. Foto oleh EPA

BANDA ACEH, Indonesia — Seorang mantan Wakil Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan bahwa dirinya dan sekitar 100 rekannya ingin bergabung dengan tentara Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) karena selama hampir 10 tahun perdamaian terwujud di Provinsi Aceh, mereka merasa tak diperhatikan pemerintah setempat. 

Fakhruddin Bin Kasem (35), mantan Wakil Panglima GAM Sagoe Awe Duek Kuta Binje di Kabupaten Aceh Timur, mengaku dengan keahlian berperang yang dimilikinya, dia bisa berjuang sambil memperdalam ilmu agama Islam kalau bergabung dengan ISIS.

“Saya dan sekitar 100 mantan kombatan GAM siap pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS karena tidak ada lagi yang dapat kami kerjakan di Aceh,” katanya kepada Rappler melalui telepon seluler, Rabu, 8 Juli.

“Daripada kami harus berperang sesama mantan kombatan, lebih baik kami pergi ke Suriah untuk berjuang bersama ISIS.” 

Menurut dia, alasan mereka bergabung dengan tentara ISIS karena Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Zaini Abdullah dan wakilnya Muzakir Manaf tidak memperhatikan mantan anggota GAM, padahal keduanya ialah bekas tokoh pemberontakan yang ingin memerdekakan Aceh dari Indonesia.

Zaini adalah bekas menteri luar negeri pemerintahan GAM saat di pengasingan di Swedia. Sedangkan Muzakir merupakan mantan panglima tertinggi Tentara Negara Aceh saat provinsi di ujung barat Indonesia masih berkonflik dengan Pemerintah Indonesia.

GAM dan Pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian perdamaian di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, untuk mengakhiri konflik bersenjata hampir 30 tahun di Aceh yang diperkirakan menewaskan lebih 25,000 orang, sebagian besar warga sipil.

“Saya hanya tamatan SD. Saya tak punya keahlian apa-apa. Keahlian saya hanya berperang,” kata Fakhruddin, yang mengaku bergabung dengan GAM pada 1998.

Dia menambahkan sudah siap untuk menerima segala konsekuensi terkait dengan keinginannya untuk bergabung dengan pasukan ISIS. 

“Kalau polisi mau periksa saya, silakan saja. Saya sudah siap. Polisi boleh datang ke rumah dan lihat bagaimana kondisi saya dan keluarga,” ujarnya. 

“Tidak ada alasan bagi siapapun untuk menghambat saya bergabung dengan ISIS.” 

Fakhruddin mengaku apabila masih tetap bertahan di Aceh, hanya akan menjadi bahan olok-olok warga dan jadi pelaku kriminalitas atau terlibat dalam penjualan narkotika jenis sabu-sabu.

“Daripada kami membuat onar dan melakukan kriminal di Aceh, lebih baik berangkat ke Suriah untuk berjuang bersama ISIS sambil memperdalam agama,” kata Fakhruddin yang di kalangan rekan-rekannya akrab disapa “Robot”.

Ditambahkan untuk membantu keberangkatan para bekas kombatan GAM ke Suriah, mereka telah meminta bantuan pada Tim Pengacara Muslim (TPM).

Ketua TPM Aceh, Safaruddin, membenarkan dia diminta bantu Fakhruddin untuk mencari jaringan ISIS. Malah, Safaruddin mengaku telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Fakhruddin dan puluhan bekas anggota GAM lainnya.

“Dalam setiap pertemuan, mereka telah menyatakan kebulatan tekadnya bergabung dengan ISIS karena keahlian mereka hanya berperang,” kata Safaruddin. 

“Mereka juga bilang daripada membuat keonaran di Aceh, lebih baik mereka keluar berperang bersama para pejuang ISIS. Di sana, mereka mengaku akan digaji sehingga anak-anak dan istrinya terjamin hidupnya.”

Safaruddin menyatakan Tim Pengacara Muslim akan menampung keinginan mantan gerilyawan GAM sambil mencari jaringan ISIS yang bisa memberangkatkan mereka ke Suriah.

Begitupun, Safaruddin tetap berharap agar Pemerintah Aceh segera memperhatikan nasib bekas kombatan GAM sehingga mereka membatalkan keinginannya berangkat ke Suriah.

Sementara itu, Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang ditanya wartawan setelah acara berbuka puasa bersama di Banda Aceh, Selasa malam, terkait keinginan para mantan GAM bergabung ke ISIS terkesan enggan berkomentar. 

“Ini persoalan negara, jadi sangat kita sayangkan. ISIS itu di pihak luar negeri dan kita tak ada sangkut paut,” katanya.

Saat ditanya langkah konkrit yang akan dilakukan Pemerintah Aceh untuk mencegah mantan GAM bergabung ke ISIS, Zaini menjawab, “Tidak ada langkah konkrit karena ini persoalan pusat dan pihak-pihak yang ingin melibatkan diri.” —Rappler.com