Barang palsu beredar di situsnya, Lazada siap bertanggung jawab

Haryo Wisanggeni
Barang palsu beredar di situsnya, Lazada siap bertanggung jawab
Pengguna Lazada khawatir untuk berbelanja online setelah barang yang mereka terima tak sesuai pesanan.

JAKARTA, Indonesia — Sejumlah barang palsu ditengarai kembali beredar dalam situs perdagangan daring Lazada. 

Baru-baru ini, Budi, seorang pria asal Wajo, Sulawesi Selatan, menuliskan pengalamannya menerima barang palsu saat berbelanja melalui situs Lazada dalam sebuah surat pembaca yang dimuat harian Kompas. 

Budi yang membeli sepasang sepatu dengan merek Nike seharga Rp. 570.000 akhirnya merasa kecewa karena menurut pengakuannya, sepatu yang ia terima bukanlah sepatu Nike asli. Sebagai informasi, sepatu yang Budi pesan di Lazada berharga asli Rp. 1,2 juta. Harganya menjadi lebih murah karena telah didiskon. 

Merespon terjadinya kasus ini, pihak Lazada telah menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil tanggung jawab.

“Kami telah menghubungi pelanggan yang bersangkutan dan sedang menyelesaikan perihal ini. Kami tanggapi secara serius semua masukan dari konsumen mengenai produk yang dijual melalui website kami dan kami sedang menyelidiki,” kata co-CEO Lazada Indonesia Elizabeth Craft melalui sebuah keterangan tertulis, Rabu, 15 Juli. 

Secara khusus terkait dengan peredaran barang palsu di situsnya, Elizabeth menegaskan bahwa Lazada tak akan memberikan toleransi terhadap penjual yang diketahui menjual dan mendistribusikan barang palsu. 

“Lazada memiliki kebijakan untuk tidak mentoleransi penjualan produk tiruan di website kami. Pada kejadian tertentu dimana ada dugaan khusus terhadap penjual maupun produk yang dijual pada platform kami, tindakan tegas akan diambil, termasuk menghapuskan produk maupun penjual tersebut sesegera mungkin. 

“Kami berjanji bahwa konsumen akan menerima produk yang sesuai, baru, asli dan tidak rusak maupun cacat,” ujarnya.

Jual beli daring bermasalah tanggung jawab siapa?

Budi tak sendiri. Andrew Atmadja juga rupanya pernah mengalami nasib serupa dan seperti Budi, membagikan pengalamannya melalui surat pembaca harian Kompas.

Andrew bahkan telah berupaya untuk mengembalikan produk yang ia beli, yaitu krim tangan dengan merek L’Occitane. Namun hingga saat ini menurut pengakuan Andrew, upayanya belum memperoleh respon yang memuaskan dari pihak Lazada.  

Tak hanya barang palsu, belakangan Lazada juga memiliki persoalan dengn pengiriman barang yang tak sesuai pesanan. 

Rizki Kartadikaria yang memesan ponsel pintar Asus Zenfone 6 malah menerima dua kotak pewangi pakaian dari Lazada.

Senasib, Danis Darusman menerima sabun batangan alih-alih Apple iPhone 6 Plus yang dipesannya. Khusus untuk Danis, Lazada akhirnya memberikan pesanan iPhone 6 Plus yang dipesan. 



Konsumen pun menjadi khawatir untuk berbelanja di Lazada.


Lalu siapa yang harus bertanggungjawab jika terjadi kasus seperti ini? Penyedia platform? Penjual? Atau pengirim?

Sayangnya jika merujuk pada draf Rancangan Peraturan Perundang-Undangan (RPP) Perdagangan Elektronik yang tengah dipersiapkan oleh Kementerian Perdagangan, belum ada jawaban yang jelas untuk pertanyaan tersebut.

(BACA: Efek kasus iPhone Lazada, penanggungjawab perdagangan elektronik belum jelas)

Bagaimanapun, menurut Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, pihak penyedia platform seperti Lazada tak boleh lepas tangan. 

“Konsumen berhak atas kompensasi dan ganti rugi jika dirugikan oleh penjual. Mereka (penyedia platform) harus bertanggungjawab, kan bagaimanapun mereka ikut menawarkan. Mereka harus bersinergi dengan para penjualnya,” kata Tulus, Rabu. 

Lazada sendiri memang tak menjual barang mereka sendiri melainkan hanya berfungsi sebagai platform tempat berjualan bagi toko-toko daring yang mendaftar ke situs Lazada. Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.