US elections

Kisah cokelat Mozart di Palais Coburg

Uni Lubis
Kisah cokelat Mozart di Palais Coburg
Apakah Iran Nuclear Deal akan menurunkan harga minyak dunia? Berikut kisah di balik layar perundingan dan informasi harta karun emas hitam Iran

Saya mengikuti proses negosiasi nuklir Iran dengan harap-harap cemas. Kepedulian saya yang pertama adalah, semoga ujungnya bisa mewujudkan perdamaian di kawasan yang terus bergolak: Timur Tengah.  

Kedua, saya ingin tahu bagaimana dampak Iran nuclear deal (kesepakatan nuklir Iran), pada harga minyak dunia. Salah satu efeknya ke Indonesia, misalnya, jika kesepakatan tercapai, ada potensi harga minyak dunia turun. 

Buat Indonesia ujungnya, investasi di sektor minyak menjadi makin kurang seksi, apalagi saat terjadi lesu ekonomi. Benarkah demikian?

Di Wina, peristiwa bersejarah itu terjadi pada Selasa, 14 Juli 2015. Iran, Amerika Serikat, dan sejumlah negara adidaya lain mengumumkan terjadinya persetujuan yang bakal memaksa Iran memangkas program nuklirnya.  

Di Washington D.C., Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan bahwa persetujuan itu membuka kemungkinan baru untuk membawa dunia ke arah baru. Pidato Obama juga disiarkan langsung oleh televisi Iran. ‘’Adanya kemungkinan baru itu harus kita tangkap,’’ kata Obama.

Di Teheran, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa tata kelola baru dalam hubungan internasional antara negaranya dengan pihak luar telah tercapai. Namun, Rouhani juga mengklaim pihaknya tidak punya program untuk membuat bom nuklir. 

Perikatan penting itu tercapai di Hotel Palais Coburg, Wina. Di depan hotel, ratusan wartawan selama berminggu-minggu mendirikan tenda, menunggu keluarnya kabar penting. Di dalam hotel, pembicaraan berlangsung alot, bahkan beberapa kali nyaris terjadi petaka yang bisa menggagalkan rencana perundingan.  

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Navis berkali-kali mengungkapkan bahwa pembicaraan ini terjadi antara negaranya dengan pihak lain adalah atas dasar ‘saling menghormati, saling menguntungkan, di antara sesama negara berdaulat. Ia tak mau negaranya dianggap sebagai pihak bersalah, yang datang ke meja perundingan untuk membicarakan pengurangan hukuman.

Laman The Guardian menuliskan, Javad pernah begitu jengkel atas sikap mitra perundingannya. Di tengah-tengah debat panjang, tiba-tiba ia bersuara lantang, ‘’Kalian semua yang dulu membantu Saddam Hussein ini harusnya dihukum. Iran tak akan pernah bisa diancam.’’ 

Suasana mendadak tegang. Butuh beberapa saat untuk membuat suasana cair kembali.

Perundingan yang dimaksud adalah pembicaraan mengenai nuklir, antara Republik Islam Iran dan sekelompok negara plus organisasi, dikenal sebagai P5 + 1. P5 adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yakni Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Perancis, dan Cina, plus Jerman, ditambah  Masyarakat Eropa. Hasil perundingan itu diwujudkan dalam sebuah dokumen bertajuk ‘’Joint Comprehensive Plan of Action – Rencana Bersama Aksi Menyeluruh.

Untuk mencapai perundingan final di Wina itu, perjalanan panjang telah ditempuh. Setelah melewati lobi-lobi tidak resmi, pada November 2013, terjadi perundingan antara Iran dengan P5 + 1, di Jenewa, Swiss. 

Hasilnya, sebuah dokumen berjudul Joint Plan of Action (Rencana Kerja Bersama), yang merupakan rencana sementara program nuklir Iran, ditandatangani Iran bersama utusan P5 + 1.  

Sesuai jadwal, pada April 2015 berlangsung perundingan di Lausanne, Swiss, menghasilkan dokumen Framework Agreement for the Final Agreement  atau Persetujuan Kerangka Kerja untuk Persetujuan Final. Setelah itu, baru perundingan final di Wina, yang menghasilkan persetujuan menyeluruh mengenai program nuklir Iran.

Presiden AS Barack Obama berbicara dalam konferensi pers mengenai perikatan nuklir Iran di Gedung Putih, Washington DC, 15 Juli 2015. Foto oleh Michael Reynolds/EPA

Pengaruhnya ke harga minyak dunia

Begitu kesepakatan antara Iran dengan P5+1 itu diumumkan ke publik, pengaruhnya terasa pada harga minyak. Kesepakatan damai itu akan membuat sanksi politik dan ekonomi yang menimpa Iran sejak 2007, bakal diangkat. 

Sanksi itu, dalam bahasa resminya bertajuk “The Iran Sanctions Enhancement Acts 2007”, dipelopori oleh anggota Kongres, Mark Kirk, politisi Partai Republik dari Illinois, dan Rob Andrews, anggota Kongres dari Partai Demokrat wilayah New Jersey. 

Pada prinsipnya, sanksi itu melarang siapapun membeli, mengimpor, atau mengangkut minyak dari Iran. Mereka yang membandel bakal kena hukuman dari Pemerintah Amerika. Pihak yang terancam sanksi ini bervariasi, mulai dari pialang minyak, pengusaha tanker, dan asuransi. Perusahaan Amerika dilarang berbisnis dengan Iran. 

Bila sanksi itu diangkat, demikian asumsi umum, artinya Iran akan segera bebas ria memproduksi minyak. Akan ada tambahan baru jutaan barel minyak dari Iran, membanjiri pasaran minyak (dan gas) yang sedang lesu darah.

Harga minyak jenis Brent, dari Laut Utara, Norwegia, untuk pengiriman Agustus turun US$ 75 sen menjadi $ 57,10 per barel, di Bursa London, pada Selasa siang, sesaat setelah pengumuman damai itu disampaikan. Minyak andalan Amerika Serikat, West Texas Intermediate, turun lebih dari 2,5 %. 

Tapi, itu penurunan harga yang sifatnya emosional. Setelah mendapatkan informasi lebih lengkap, harga West Texas kembali naik pada perdagangan sore hari, menjadi $ 53,26 per barel. 

Kenaikan harga itu terjadi setelah para saudagar minyak mendapat informasi lebih lengkap, bahwa Iran tak serta-merta bisa membanjiri pasaran minyak. Negeri di Teluk Parsi itu harus melakukan berbagai langkah lain, sebelum akhirnya bisa kembali ke pasar ekspor sebagaimana sebelum adanya sanksi.

Masuknya limpahan baru minyak ke pasar yang loyo, memang sesuatu yang sangat menakutkan bagi para pedagang. Kata Quincy Krosby, ahli strategi pasar dari Prudential Financial kepada koran USA Today, ‘’Dengan pasar yang tengah banjir, tambahan minyak dalam jumlah besar dari Iran pasti akan mendorong harga turun, meski tidak dalam tempo cepat.’’

Tambahan produksi itu diperkirakan baru kelihatan dalam 6 bulan ke depan. Tentu tak mudah untuk langsung menghidupkan mesin-mesin di kilang yang sudah lama beristirahat. Perjanjian yang ditandatangani di Wina itu juga mensyaratkan sejumlah langkah yang harus dilakukan Iran, agar sanksi ekonomi bisa dicabut.

Bila semua sesuai rencana, dan Iran menepati langkah-langkah yang ditetapkan di perjanjian, sanksi ekonomi terhadap Iran baru dilepas pada awal 2016, atau 6 bulan lagi. Bila itu terlaksana, Iran bisa melepas sebagian dari stok produksi minyaknya, yang selama ini disimpan di tanki terapung di lepas pantai, yang diperkirakan mencapai 30-37 juta barel. 

Inilah yang diperkirakan bakal mengguncang harga. Setelah itu, Iran bisa menggenjot secara penuh produksi minyaknya.

Harta karun emas hitam Iran

 Pasangan Iran menjunjung poster Presiden Hassan Rouhani ketika merayakan kesepakatan nuklir yang berpotensi mencabut sanksi bagi Iran, 14 Juli 2015. Foto oleh Abedin Taherkenareh/EPA

Potensi minyak Iran memang termasuk luar biasa. Sebelum kena sanksi, produksi minyaknya lumayan besar, pernah mencapai 4,1 juta barel per hari pada 2005-2006, kira-kira 5 kali produksi minyak Indonesia pada tahun itu. Setelah muncul sanksi, produksi minyak Iran langsung anjlok. 

Menurut data OPEC, produksi harian minyak Iran langsung turun tak menentu: menjadi 176 ribu barel, 79 ribu barel, atau bahkan tak berproduksi sama sekali. Sanksi membuat Iran kekurangan dana untuk merawat sumur minyak produksinya. 

Fatih Birol, Kepala EkonomiInternational Energy Agency(IEA), organisasi bentukan negara maju konsumen minyak, mengatakan akibat perawatan yang kurang itu Iran tak bisa segera menggenjot produksi minyaknya.

Birol, yang bakal memimpin IEA mulai September mendatang berpendapat baru dalam 3-5 tahun mendatang, akan terjadi pertumbuhan produksi minyak yang cukup besar. Kepada kantor berita Reuters Birol mengemukakan, Iran memang butuh waktu hingga produksi minyaknya kembali normal. 

‘’Struktur geologi yang rumit plus ladang minyak yang kurang perawatan akibat minimnya dana, membuat Iran butuh waktu untuk menggerakkan mesin produksi minyaknya,’’ katanya.

Iran memiliki cadangan minyak sangat besar: sekitar 158 miliar barel, keempat di dunia setelah Saudi Arabia, Aljazair, dan Venezuela. Dengan cadangan sebesar itu, negara-negara yang selama ini mengimpor minyak dari berbagai sumber, menjadikan Iran sebagai salah satu sumber penting pemasok minyak. Contohnya Indonesia, yang tengah berniat mengimpor minyak dari negari para mullah itu.

Pada 23 Mei lalu, Menteri ESDM Sudirman Said bersama Menko Perekonomain Sofyan Djalil berkunjung ke Teheran, untuk menjajaki kemungkinan membeli minyak langsung dari sumbernya, tanpa melalui perantara. Selama ini konsumen utama minyak Iran adalah Korea Selatan, Turki, Cina, India, dan Jepang. 

Pemerintah Indonesia berasumsi bila bisa membeli minyak langsung dari Pemerintah Iran, Indonesia akan diuntungkan. Selain harga yang lebih murah, juga akan mendapat kepastian pasokan.

Kunjungan itu merupakan kelanjutan pembicaraan Presiden Joko Widodo dengan Presiden Iran Hassan Rouhani sewaktu Peringatan Konperensi Asia Afrika 2015 di Jakarta dan Bandung. Pembicaraan antara Jokowi dan Rouhani ketika itu difokuskan pada bidang energi. 

Sofyan dan Sudirman kemudian menindaklanjutinya dengan berkunjung ke Iran. Intinya, Indonesia ingin membeli minyak mentah dari Iran. Indonesia juga menyampaikan minat untuk terlibat dalam bisnis hulu migas di Iran.

Bila Iran masih kena sanksi, tentu niat itu sulit terlaksana.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi Iran

 Foto oleh Jim Lo Scalzo/EPA

Sejumlah langkah penting harus dilalui Iran agar bisa menggenjot produksinya. Richard Nephew, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang pernah memimpin tim negosiasi sanksi Amerika terhadap Iran, menjelaskan ada beberapa tahapan sampai akhirnya sanksi itu betul-betul diangkat.  

Sebagaimana dikatakan Obama, persetujuan damai dengan Iran tidak dibangun berdasar azas kepercayaan, melainkan azas verifikasi.

Pertama, Amerika Serikat membutuhkan persetujuan dari Kongres agar perjanjian yang diteken di Wina bisa dilaksanakan. Untuk itu, berbagai prosedur kompleks harus ditempuh. 

Kongres akan meminta salinan resmi persetujuan, mengadakan dengar pendapat, sampai akhirnya memutuskan apa yang harus dilakukan Kongres terhadap persetujuan damai itu. Langkah ini butuh 30-60 hari.

Kedua, pelaksanaan perjanjian damai itu membutuhkan langkah panjang. Banyak kegiatan yang harus dilakukan Iran. 

Iran dengan AS, memiliki riwayat panjang ketidakpercayaan. Iran oleh Presiden George Bush pernah disebut sebagai ‘’sponsor utama terorisme’’, sementara Amerika oleh Pemerintah Iran disebut sebagai ‘’setan utama’’.

Untuk melaksanakan perjanjian ini tak gampang. Iran diminta menghilangkan mesin pengaya uranium, disebut sebagai mesin sentrifugal. Dengan mesin inilah uranium dimurnikan. Bila yang dihasilkan adalah Uranium 235 berkadar 3%, si U-235 ini bisa digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir. Bila kadarnya mencapai 90%, bisa untuk bahan utama bom nuklir. 

Berdasar jadwal di persetujuan yang diteken di Wina, semua perjanjian itu baru bisa dilaksanakan mulai hari ke-90 sejak ditandatangani, yaitu pada akhir Oktober 2015. 

Ketiga, sanksi tidak akan diangkat sampai Iran terbukti menjalankan semua langkah yang diwajibkan di perjanjian. Obama memastikan, semua kegiatan bisnis baru bisa dilaksanakan bila Iran patuh terhadap perjanjian yang disepakati. Tanpa itu, jangan harap sanksi terhadap Iran bakal dicopot.

Seandainya sanksi itu benar-benar dilepas, sejumlah langkah penting yang cukup kompleks harus ditempuh Iran. Iran bisa langsung menjual minyaknya yang saat ini tersimpan di tanki penyimpanan lepas pantai. Namun, diperkirakan pelepasannya akan berlangsung perlahan-lahan, yakni 180.000 barel per hari selama 6 bulan, demi menjaga stabilitas harga. 

Pasokan akan naik, tapi tidak terlalu besar, sehingga tak begitu mempengaruhi harga. Setelah itu, Iran juga akan menggenjot produksi di sumur yang sudah ada. Belum diketahui berapa persisnya sumur yang bisa segera berproduksi. IEA memperkirakan, Iran akan bisa menaikkan produksinya saat ini, yakni 2,8 juta barel per hari menjadi 3,5 juta barel. 

Tetapi Nephew meragukan kenaikan produksi itu bisa tercapai segera. Lebih dari 10 tahun menganggur membuat sebagian peralatan di sumur minyak Iran ketinggalan zaman. 

Sekali sebuah pompa minyak tak berproduksi, untuk menggerakkannya lagi butuh upaya, dan biaya. Diperkirakan Iran memerlukan  investasi asing $50-100 miliar untuk mendandani mesin-mesin di sumur minyaknya yang sudah uzur itu.

Hambatan lain terletak pada birokrasi Iran. Investor asing, kata Nephew, agak risau terhadap perilaku birokrasi Iran. ‘’Suasananya membuat tak mudah untuk bekerja,’’ katanya.

Bila berbagai langkah sulit itu bisa dilewati Iran, banyak pihak yang akan menjadi korban akibat turunnya harga minyak. Harga minyak dunia telah jatuh sedemikian dahsyat dari $ 115 per barel pada Juni tahun lalu menjadi $ 58 bulan ini. 

Anjloknya harga membuat harga minyak di stasiun pompa bensin juga menurun. Masyarakat diuntungkan. 

Di sisi lain, penghasilan perusahaan energi berkurang jauh. Situasi ini terjadi juga di Indonesia, sehingga beberapa kegiatan investasi baru ditunda menunggu naiknya harga minyak. 

Energi baru andalan Amerika Serikat, shale gas, yang didapat dengan ongkos tinggi, menjadi tak ekonomis lagi. Padahal, berkat shale gas inilah Amerika mandiri secara energi, dan bisa mengurangi pemakaian bahan bakar tak ramah lingkungan, seperti batu bara dan minyak.

Turunnya harga minyak membuat hanya sumur-sumur berbiaya produksi rendah yang masih bisa bertahan. Sumur di laut dalam, yang biaya produksinya mahal, harus berhenti beroperasi. Perusahaan jasa penunjang, seperti Schlumberger dan Halliburton terancam harus memangkas ribuan pegawainya.     

Isi kesepakatan dan pengorbanan Iran  Pekerja Iran dan Rusia sedang berada di pembangkit tenaga nuklir di Bushehr, Iran, dalam foto dokumentasi Iranian Atomic Energy Organization (IAEO) yang diambil pada Agustus 2004. Foto oleh IAEO/EPA

Pelaksanaan perjanjian nuklir untuk Iran membutuhkan kerja keras, pengawasan yang teliti, plus keikhlasan luar biasa dari pihak Iran. Meski perundingan ini disebut berlangsung di antara sesama negara berdaulat, dengan azas saling menghormati, faktanya pengorbanan yang paling besar harus dilakukan Iran.

Dalam dokumen Joint Comprehensive Plan of Action, dimuat berbagai langkah menyeluruh untuk memastikan bahwa perjanjian itu dilaksanakan. Rencana aksi ini mengadopsi sepenuhnya perjanjian sementara yang diteken pada November 2013, yang disebut sebagai Joint Plan of Action. Langkah-langkah yang ditempuh untuk melaksanakan perjanjian dirumuskan di kerangka kerja, yang diteken di Lausanne, Swiss, April lalu. 

Di dalam perjanjian itu diatur, Iran akan memangkas 98% uranium yang mengalami sedikit pengayaan, serta mengurangi 2/3 mesin pemerkaya uraniumnya setidaknya dalam jangka waktu 15 tahun. Selama 15 tahun berikutnya Iran tidak akan memperkaya uranium lebih dari 3,67%, atau membangun fasilitas pemurnian uranium atau fasilitas air berat.  

Aktivitas pengayaan uranium akan dibatasi pada satu fasilitas menggunakan mesin sentrifugal generasi pertama, selama 10 tahun. Fasilitas lain akan diubah, untuk menghindari risiko penyebaran fasilitas nuklir. 

Untuk memantau dan memverifikasi kepatuhan Iran terhadap perjanjian International Atomic Energy Agency (IAEA), lembaga atom internasional, akan memiliki akses untuk secara teratur meninjau fasilitas nuklir Iran. 

Perjanjian setebal 159 halaman itu juga mengatur, sebagai hadiah atas kepatuhan Iran terhadap kesepakatan, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Dewan Keamanan PBB akan membebaskan Iran dari sanksi yang berkaitan dengan nuklir. Sebaliknya bila Iran gagal mematuhi kesepakatan, sanksi akan tetap berlaku.

Cokelat dan kenyamanan Hotel Palais Coburg

 Hotel Palais Coburg ini adalah tempat perundingan nuklir Iran berlangsung di Wina, Austria. Foto oleh Georg Hochmuth/EPA

Untuk memastikan bahwa perundingan nuklir itu berjalan lancar, Pemerintah Austria berperan penting. Keberhasilan perundingan bersejarah akan turut mengangkat pamor negaranya, sebagai tempat yang menggerakkan tatanan perdamaian dunia.  

Pemerintah Austria berupaya keras memastikan bahwa semua anggota tim perunding merasa nyaman, termasuk dengan membayari biaya mereka di Hotel Palais Coburg. Jika menggunakan kurs rupiah saat ini, biaya menginap di hotel bintang 5 ini mulai dari Rp8,5 juta per malam.

Palais Coburg didesain pada 1839 oleh arsitek Karl Schleps, dengan gaya neoklasik, dan dibangun pada 1840-1845 oleh Pangeran Ferdinand dari Saxe-Coburg dan Gotha. Setelah bertahun-tahun menjadi milik keluarga pangeran, pada 1970 sang pewaris menjualnya, dan kini menjadi hotel butik bintang 5, setelah mengalami renovasi menyeluruh. Hotel ini memiliki 33 kamar.

Pemerintah Austria sengaja memilih hotel ini karena nyaman, suasananya klasik, dan aman. Untuk menuju pintu seorang tamu harus melewati halaman yang cukup panjang.

Pemerintah Austria menyediakan biskuit wafer dan cokelat merek Mozart, andalan negeri itu, terus-menerus secara gratis. Kepada tim perunding disediakan sarapan, makan siang, dan makan malam, plus makanan kecil, selama perundingan.

Tim perunding juga mendapat pasokan makanan lokal kesukaan masing-masing. Misalnya, untuk delegasi Iran, disediakan kismis hijau dan pistachio, sejenis kacang yang banyak digunakan untuk camilan, banyak tumbuh di Iran, Turkmenistan, dan Azerbaijan. Bagi  delegasi Amerika disediakan cemilan Twizzlers rasa strawberi, juga kacang, dan kismis.

Setiap kali tim dari Kementerian Luar Negeri Inggris pergi ke London, dalam perjalanan pulangnya mereka membawa biskuit dari Marks & Spencer. Pemerintah Austria memastikan bahwa barang bawaan mereka bisa masuk dengan lancar. Delegasi Perancis diajak ke ruangan anggur milik hotel, dan boleh memilih yang mereka sukai untuk dibawa pada acara makan malam.

Di luar suasana yang nyaman itu, ada masalah lain yang harus diperhatikan: para perunding sebagian besar berusia di atas 60 tahun. Stamina mereka tidak fit lagi. Berunding terus-menerus sepanjang hari, dan tak jelas kapan berakhir, menguras stamina mereka. 

Apalagi, suhu musim panas Wina mencapai 32 derajat celsius. Hotel terasa gerah, meski mesin pendingin sudah bekerja maksimal.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang di perundingan sebelumnya selalu menjadi pemimpin dan tampil penuh energi, kali ini kelihatan loyo. Setiap kali keluar dari meja perundingan ia buru-buru mencari kursi untuk merebahkan badan. Tak tampak lagi kegesitannya. Yang tampak adalah penampilan seorang kakek sepuh berusia 71 tahun.

Tapi, semangat si kakek itu mampu mengalahkan kelemahan fisiknya. Di Wina, tepatnya di Hotel Palais Coburg, Kerry sekali lagi mengukir prestasinya. Jika Iran Nuclear Deal sukses dalam implementasinya, dunia akan mengenang Kerry dan Javad sebagai tokoh perdamaian dunia. — Rappler.com

Uni Lubis adalah seorang jurnalis senior yang memiliki pengalaman lintas medium media. Ia adalah Eisenhower Fellow. Tulisannya bisa dinikmati di www.unilubis.com.

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.