Bagaimana Amerika Serikat terlibat dalam pembantaian massal 1965?

Jakarta, Indonesia— Lima puluh tahun lalu, Kedutaan Besar Amerika untuk Indonesia mengirim pesan kabel pada pemerintah pusat di Washington. Pesan itu intinya menanyakan kesiapan dana untuk membantu kelompok sipil yang aktif memerangi pengaruh komunisme di Indonesia.

Pada 1965, kelompok sipil dan militer di bawah komando Jenderal Suharto bahu-membahu membantai anggota Partai Komunis Indonesia dan para pengikutnya, setelah tujuh jenderal terbunuh pada 30 September.  

Tapi seperti apa keterlibatan Amerika dalam operasi ini?

Kai Thalter, kandidat PhD di Departemen Pemerintahan Universitas Harvard, yang sedang mendalami perang sipil, kekerasan politik, dan kenegaraan, memaparkan dalam tulisannya yang diterbitkan di The Washington Post.  

Thalter memulai tulisannya dengan menyatakan telah menelusuri dokumen milik pemerintah terkait tragedi pembantaian massal 1965 di Indonesia. 

“Saya sudah menelusuri Bab dalam dokumen pemerintah, (kesimpulannya) pejabat Amerika Serika adalah bagian dari pembunuhan dari pembunuhan massal ini,” katanya, 2 Desember.

Dengan peran para pejabat ini, pemerintah Amerika Serikat telah membantu menciptakan kondisi sehingga terjadinya pembunuhan.

“Alih-alih mengutuk, mereka (pemerintahan Amerika Serikat) mendukung para pelaku pembantaian (paramiliter),” katanya. 

Kai menambahkan, selain mendukung, Amerika Serikat tidak pernah meminta maaf meskipun organisasi intelijen mereka, CIA, diduga terlibat dalam peristiwa pembantaian terburuk sepanjang abad ke 20 itu. 

Peneliti asal Harvard itu juga menyebut ada “Black Letter Operation” oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mendukung gerakan membasmi PKI dan simpatisannya. 

PERANG MEDIA. Media PKI dan Masyumi berlomba-lomba mengabarkan berita yang mendukung gerakan masing-masing partai. Foto oleh Majalah Historia

PERANG MEDIA. Media PKI dan Masyumi berlomba-lomba mengabarkan berita yang mendukung gerakan masing-masing partai.

Foto oleh Majalah Historia

Kronologis keterlibatan AS pasca 30S

Pada 5 Oktober, Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green merekomendasikan pemerintahnya untuk menyebarkan propaganda antiAmerika. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Dean Rusk menyatakan niat  memberikan dukungan sepenuhnya pada militer dalam membasmi gerakan komunis di tanah air. 

Pada 12 Oktober, Pemerintah Amerika Serikat menyampaikan pada Pemerintah Indonesia bahwa Inggris siap mundur dalam konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia agar Tentara Nasional Indonesia bisa semakin memperkuat posisinya di wilayahnya.

Beberapa bulan kemudian, Green memberikan sinyal kepuasan tentang kinerja militer dalam membasmi PKI, dan Rusk juga memastikan Amerika Serikat mendukung Indonesia.  

Kai juga mengungkap bahwa Amerika Serikat juga memberikan seratusan daftar anggota PKI kepada TNI dan kelompok sipil yang antikomunis. Bahkan Amerika melaporkan serta memantau nama anggota PKI yang sudah dibunuh dan ditahan. 

Pada akhir Oktober, Rusk dan Departemen Keamanan Nasional merencanakan untuk memberikan bantuan senjata dan peralatan komunikasi pada TNI. 

Pada 1966, Green menyatakan bahwa Komunis telah berhasil dibasmi hingga ke akar-akarnya. —Rappler.com

BACA JUGA