Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Mantan pesepak bola Timnas Anang Ma’ruf daftar jadi pengemudi Go-Jek

JAKARTA, Indonesia — Duet bek sayap Timnas Indonesia di era 90-an selalu identik dengan duo Persebaya: Aji Santoso di kiri dan Anang Ma’ruf di kanan. Sementara Aji bisa meniti karir di jalur kepelatihan, tidak demikian dengan Anang. Dia pun ikut mendaftar sebagai tukang ojek berbasis aplikasi, Go-Jek di Surabaya.

Anang melamar sebagai supir Go-Jek pada Kamis, 27 Agustus, lalu. Saat datang, hampir tak ada yang tahu bahwa dia adalah salah satu pesepak bola legendaris. Namun, salah seorang pegawai mengetahuinya. Dia lantas meminta untuk foto bareng.

Sejak saat itu, kabar bahwa Anang banting setir menjadi supir Go-Jek ramai. Tidak banyak yang mengira dia memilih profesi tersebut.

Selepas dunia sepak bola, Anang memang tidak seberuntung rekan-rekannya. Dia sebenarnya sempat ingin menekuni usaha di Bali. Namun, bisnisnya bangkrut. Semua tabungan saat masa jayanya sebagai penggocek bola ludes.

Begitu juga karir kepelatihannya. Anang sebenarnya masih memiliki hasrat di dunia yang membesarkan namanya itu. Dia bahkan sempat menjadi asisten pelatih di Persekama Kabupaten Madiun. Namun setelah Liga Nusantara berhenti, karirnya ikut mandek.

Padahal, dia dulu adalah salah satu bintang cemerlang di Timnas Indonesia. Dia adalah bagian dari program PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) Primavera. Yakni, program “menyekolahkan” pesepak bola di Italia.

Namanya ikut dalam daftar pemain masa depan Merah Putih pada 1993-1995 bersama Kurniawan Dwi Julianto dan Bima Sakti. Pulang pada 1995, arek Petemon ini langsung bergabung dengan klub kampung halamannya, Persebaya Surabaya.

Karakter Anang adalah kecepatan dan akurasi crossing.

Berikut wawancara Rappler dengan Anang Sabtu, 5 September lalu.

Bagiamana kabarnya, Mas Anang. Apakah benar melamar di Go-Jek?

Iya sih. Awalnya saya kira nggak bakal ramai. Kok jadi ramai ya? Memang benar saya sempat ikut ngelamar di sana.

Kenapa kok sampai ngelamar ke sana, Mas? Apa sudah nggak aktif sepak bola ya?

Saya sih masih melatih. Ini tadi juga melatih anak-anak di Simo, nama timnya Simo United (Simo United adalah Sekolah Sepak Bola di Surabaya). Ini baru ngawali.

Apakah jadi diterima di Go-Jek?

Belum tahu. Masih menunggu pengumuman.

Kok bisa tiba-tiba ke Go-Jek bagaimana ceritanya, Mas?

Awalnya dari teman. Saya ditawari. Katanya Go-Jek buka di Surabaya. Terus tanya-tanya soal waktu kerjanya. Ternyata santai. Tidak harus full, bisa paro waktu. Sistemnya itu enak, saya juga bisa tetap melatih sepak bola.

Tanggapan keluarga bagaimana?

Ya, saya mengambil jalan ini karena keluarga juga. Kalau tidak begini, ya pemasukan kurang. Mengandalkan pelatih sepak bola nggak cukup. Jadi agar ada tambahan, ya kenapa tidak dicoba.

Apakah Mas Anang tidak punya usaha lain?

Saya sebenarnya punya investasi di Bali, ada usaha. Tapi ya nggak jalan. Jadi ya saya pikir memang harus mulai dari nol lagi. Manusia kan begini ini, dulu jadi pemain dari nol, sekarang dari pelatih harus dari nol. Yang penting tidak menyerah tetap berusaha.

Soal kepelatihan bagaimana? 

Ya, waktu ada Liga Nusantara saya mencoba jadi asisten, melatih di Madiun. Belum jalan kompetisinya, PSSI tiba-tiba berhenti juga liganya. Ya, timnya bubar, karena itu saya mengandalkan melatih sekolah sepak bola saja di Simo United.

Ada keinginan melatih tim pro?

Ya, saya memang tujuan saya ke sana. Teman-teman sudah ambil lisensi pro semua. Saya juga ingin ambil, tapi kok PSSI sekarang nggak ada kursus lagi. Mungkin karena disanksi. Ya, nunggu saja, sampai bisa daftar.

Bagaimana melihat PSSI yang masih konflik ini?

Ya, saya harapannya cepet selesai saja. — Rappler.com

BACA JUGA: