Puasa media sosial saat berkelana ala Alanda Kariza

Di saat para pelancong berlomba check-in di Foursquare atau mengunggah foto-foto liburan mereka ke Instagram, penulis muda Alanda Kariza justru berpuasa dari media sosial ketika berkelana.

Zaman sekarang kita diberi banyak kemudahan untuk traveling, baik ke dalam maupun luar negeri. Dengan semakin menjamurnya penerbangan murah, disertai paket tur yang terjangkau dan buku panduan perjalanan, kamu tinggal siapkan uang dan terbang ke tempat tujuan.

Namun menurut Alanda, salah satu tantangan traveling zaman sekarang datang dari media sosial. “Kita tidak menikmati perjalanan secara penuh karena banyak distraksi macam media sosial,” cerita Alanda saat peluncuran buku terbarunya, Travel Young, di sebuah toko sepatu di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (21/12).

“Misalnya, kita lagi jalan-jalan bareng orang lain, mereka malah sibuk nge-tweet atau nge-Path. Kesibukan itu mengurangi keseruan perjalanan itu sendiri,” akunya.

“Jadi, kalau saya sedang melakukan perjalanan, mending puasa media sosial, sehingga lebih bisa menikmati perjalanan secara penuh,” lanjut Alanda. 

Dengan demikian, berkelana dapat membuka wawasan baru, mengenal budaya lain, bahkan menemukan diri sendiri dalam keterasingan.

Dalam buku terbarunya, gadis berusia 23 tahun ini berbagi banyak kisah perjalanannya ke beberapa negara, baik untuk berlibur atau urusan pekerjaan.

Lulusan Binus International University ini adalah representatif Indonesia di Global Changemakers Guildford Forum 2009, sebuah kesempatan yang membuatnya menikmati kota London, Inggris. 

Pendiri yayasan The Cure for Tomorrow dan Indonesian Youth Conference ini tahu betul triknya bekerja sambil jalan-jalan. Alanda menggunakan istilah “improvisasi perjalanan” untuk mendeskripsikan kegiatan traveling-nya.

“Saya pernah ke Jenewa, salah satu kota termahal di dunia, yang tidak pas kalau untuk backpacking. Jadi, sebelum ke sana, saya pergi ke Prancis dulu, mengunjungi kota-kota yang lebih murah,” terang Alanda.

Sebelum bepergian, Alanda akan melakukan riset terlebih dahulu tentang kota atau negara tujuannya. Dari situ ia kemudian menentukan akan mengunjungi tempat wisata mana saja, menggunakan apa, dan tinggal di mana. Ia mengaku ia tidak pernah membeli buku panduan perjalanan.

“Karena kalau ikut guide book, belum tentu sesuai dengan kita,” kata perempuan yang memiliki impian ke Disneyland di California, Amerika Serikat, itu.

Dalam perjalanan, Alanda rajin mencatat tempat yang ia kunjungi untuk bekal penulisan bukunya Travel Young. Selain itu, ia juga menyimpan rapi arsip catatan, tiket, dan segenap hal remeh-temeh lainnya sebagai bekal pengingat nanti.

Ketika sedang traveling, ia mengaku lebih suka menghabiskan banyak waktu di luar kamar hotel, menikmati kota yang ia singgahi dan berinteraksi dengan orang sekitar. “Saya orang yang mementingkan pengalaman di kota itu, bukan hotel. Jadi, yang penting tidur nyaman, sudah cukup. Tidak perlu hotel mahal atau terkenal,” tutur penulis yang sudah menerbitkan buku-buku seperti Mint Chocolate Chips, Vice Versa, dan DreamCatcher.

Dengan demikian, biaya akomodasi dapat ditekan dan dialokasikan untuk kegiatan menarik lainnya. “Soal akomodasi, bisa tinggal di budget hotel, hostel, atau menginap di rumah kenalan. Itu jauh lebih murah,” ujarnya.

Pesan yang ingin Alanda sampaikan melalui Travel Young, sesuai judulnya, ialah menikmati hidup, bepertualang selagi muda. Ia mengaku sejak kecil memang memiliki cita-cita untuk berkeliling dunia. Dan sejak muda pula, ia sudah mulai menggagas impiannya itu.

Alanda percaya, traveling is about discovering yourself — and your flaws. Selagi waktu, mari jalan-jalan dan melihat dunia. —Rappler.com