Apa motif beredarnya ‘beras plastik’?

Tiba-tiba saja di beberapa tempat ada temuan “beras plastik” dan “beras aneh”. Media memberitakan puluhan mahasiswa STP Bandung keracunan beras plastik? Media juga melaporkan bahwa di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ada penjualan beras yang diduga mengandung bahan sintetis.

Ada juga berita warga Papua temukan beras aneh. Beras yang ditemukan warga di Papua tak kunjung matang meskipun telah dimasak selama satu jam. 

Yves Papare, warga Jayapura yang mengaku membeli satu kilogram beras di kios dekat rumah tinggalnya. Dia menggambarkan beras itu berwarna bening, lebih cerah dari beras pada umumnya, bersih tidak ada kutu ataupun gabah, dikemas dalam karung Bulog 50 kilogram.  

Yves mengaku sempat memakan hasil tanakan. “Rasanya beda, saat di perut terasa penuh, bukan kenyang,” kata Papare.   

Kalau benar pengakuan ini, nasi yang dimakan Papare dan istrinya tentu belum matang. Dinas perindustrian dan perdagangan setempat dan Satpol PP sudah mengambil beras itu untuk diuji. 

Kehebohan berawal dari pedagang bubur

Foto dari Instagram

Semua kehebohan ini berawal dari pengalaman Dewi Nurrizza Septiani, seorang pedagang bubur warga Bekasi. Dia memasak beras, yang hasilnya lebih lengket. Pengalaman yang diunggah ke akun Instagram itu memicu heboh temuan “beras plastik”. Media ramai memberitakan.  

Pemerintah turun tangan. Sampel beras diperiksa oleh laboratorium, Sucofindo. Polisi memeriksa Dewi untuk menelusuri siapa yang memproduksi beras yang menurut temuan Sucofindo, mengandung senyawa polyvinyl chloride (PVC)  yang biasa digunakan untuk membuat pipa paralon, kabel sampai penutup lantai. 

Informasi penting mengenai temuan beras plastik dan dampaknya bagi konsumen bisa dibaca di sini

Apa motif menjual ‘beras plastik’? 

Terus-terang, saya bingung juga dengan motivasi pemasok “beras plastik” atau sekarang juga mulai disebut dengan beras sintetis. Menelusurinya tentu mudah.  

Dewi membeli di kios yang jelas. Kios mendapat pasokan dari pedagang yang tentunya sudah dikenal, seterusnya sampai ke produsen. Apakah beras itu dihasilkan oleh produsen atau perusahaan lokal ataukah diimpor? 

Informasi yang beredar di awal adalah, beras diimpor dari China. Pada 2011 sejumlah penerbitan memuat  Negeri Tirai Bambu memproduksi beras artifisial, campuran kentang dan ubi manis dengan senyawa resin untuk memenuhi pangan bagi rakyat miskin di sana.  

Informasi itu antara lain bisa dibaca di sini. Di beberapa situs bahkan bisa kita jumpai iklan menawarkan mesin untuk membuat beras buatan, sehingga mirip dengan bentuk beras asli. 

Tapi, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel membantah kemungkinan ini. Pihaknya merasa belum menerbitkan izin impor beras dari China.  

Beras untuk orang mampu?

Kebingungan atas motivasi pemasok “beras plastik” ini juga kami bahas dalam diskusi yang diadakan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Jumat sore, 22 Mei.  

Asmo Wahyu, pakar kimia UI yang menjadi salah satu narasumber mengatakan bahwa artificial rice yang dikembangkan di China sebenarnya dimaksudkan untuk masyarakat yang mampu membeli.  

“Beras dibuat dengan menambahkan nutrisi, makanya dicampur dengan ubi dan kentang.  Agar adonan menjadi kenyal dan bisa dibentuk, diberi senyawa plastilizer, yang biasanya cukup aman dikonsumsi, misalnya gliserin. Jadi ini upaya memproduksi beras dengan kandungan nutrisi yang lebih tinggi,” kata Asmo.   

Adonan lantas dicetak mirip beras. Beras seperti ini dijual lebih mahal. Pembelinya kelas menengah.  

Dewi si pedagang bubur di Bekasi mengaku membeli beras yang kemudian menjadi obyek penelitian “beras plastik” itu seharga Rp 8.000 per kilogram.  Ini harga yang sesuai pasaran saat ini, yakni Rp 8.000 – 9.000 per kilogram beras.  

Padahal, menurut Asmo Wahyu, harga biji plastik hasil daur ulang saja Rp 15.000 an per kilogram. Jauh lebih mahal dari harga beras. 

Jadi, jika benar ada peredaran “beras plastik” dalam arti mengandung senyawa biji plastik atau beras asli dioplos (dicampur) dengan beras berkandungan biji plastik, bagaimana mungkin dijual dengan harga rata-rata pasar? Belum lagi dengan kondisi Bekasi dan pada umumnya wilayah di Jawa Barat adalah lumbung padi, yang tidak kekurangan beras asli.

Agenda politik beras plastik?

Jadi, soal motivasi masih gelap. Secara hitungan ekonomi tidak masuk. Ini juga menjadi pertanyaan bagi Bustanul Arifin, pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yang menjadi pembicara dalam acara HIPPI yang bertajuk, “Beras Plastik, Beras Oplosan dan Diversifikasi Pangan.”

“Soal beras plastik, saya berspekulasi ada agenda lain. Entah politik, intelejen atau keamananan pangan. Saya melihatnya ke sana,” kata Bustanul yang juga guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Lampung.  

Menurut dia, polisi harus mengangkap tuntas masalah ini dan menghukum pelakunya. “Ini kejahatan pangan. Kejahatan berat,” ujar Bustanul.

Isu makanan mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan masyarakat muncul berulang kali. Mulai dari gorengan yang menggunakan plastik sebagai pemberi efek renyah, ikan asing yang menggunakan pengawet, makanan dengan perwarna tekstil, sampai bakso dari daging tikus pun banyak dimuat di media.  

“Yang tidak pernah tuntas adalah pengusutan pelaku,” kata Bustanul.  

Kali ini soalnya menyangkut beras, yang tidak hanya komoditas pokok, melainkan juga komoditas politik.

Dugaan lain, beras  mengandung bahan berbahaya  yang disebut sebagai beras plastik itu, berasal dari beras lapuk yang dipoles dengan bahan  kimia  tertentu untuk mencari keuntungan. Ini bisa dimungkinkan, karena dengan mencampur beras lapuk dengan bahan kimia tertentu bisa lebih menarik, sehingga bisa laku lagi di pasaran dengan harga yang pantas.  

“Beras lapuk kan hanya Rp 5.000 per kilogram. Bahkan  beras  untuk rakyat miskin, raskin, bisa dibeli Rp 1.700 per kilogram. Bila dipoles (polished)  dan menjadi lebih menarik, kan bisa dijual dengan harga tinggi,” kata Bustanul. 

Diversifikasi Pangan 

Ketua Umum HIPPI Suryani Motik menganggap keresahan yang ditimbulkan akibat isu “beras plastik” terjadi akibat fakta ketidakseimbangan antara supply demand beras di dalam negeri. 

Artinya, tingginya demand beras masyarakat tidak diimbangi oleh supply yang memadai. Itu sebab, katanya, Indonesia acapkali melakukan impor beras,  khususnya menjelang hari besar keagamaan.

“Akibatnya, banyak sekali terjadi masalah dalam sistem perberasan kita. Apalagi pola makan rakyat Indonesia selalu mengutamakan beras sebagai makanan utamanya,” kata Suryani.  

Ini membuat isu terkait beras mudah digunakan untuk menggoyang situasi ekonomi.

HIPPI yang beranggotakan 20.000 pengusaha di 30 propinsi juga mendesak pemerintah untuk menjadikan peristiwa “beras plastik” sebagai momentum serius memperkenalkan produk-produk pangan lain, sebagai langkah diversifikasi pangan di Indonesia. Tujuannya, agar masyarakat Indonesia memiliki banyak pilihan bahan makanan utama, khususnya saat harga beras melambung tinggi. 

Bustanul mengungkapkan penelitian selera konsumen Indonesia yang pernah dilakukan Fakultas Teknologi Pertanian IPB.  Orang Indonesia terbiasa makan nasi, dan bersedia mengkonsumsi bahan pengganti karbohidrat nasi kalau dibuat dengan bentuk butiran mirip butir nasi. 

Ini menjelaskan mengapa di China beras sintetis dari bahan umbi-umbian berkembang dan dikonsumsi kelas menengah yang sadar akan pentingnya nutrisi dalam konsumsi karbohidratnya.  

“Kelas menengah juga kebih sadar kesehatan, termasuk problem diabetes. Makanya pencarian akan bahan makanan mengandung karbohidrat komplek terus dilakukan,” kata Bustanul.   

Kenali bentuk ‘beras plastik”

Asmo mendorong masyarakat untuk mampu mengenali secara sederhana perbedaan beras asli dengan beras yang dioplos material plastik. Paling tidak, kata dia, ada 4 cara sederhana untuk mengenali beras plastik. 

Pertama, dari bentuknya, tampilan beras asli memiliki guratan dari bekas sekam padi, sedangkan beras plastik tidak terlihat guratan pada bulirnya dan bentuknya agak lonjong.  

Kedua, dari ujung-ujung bulir beras, pada beras asli terdapat warna putih di setiap ujungnya, warna tersebut merupakan zat kapur yang mengandung karbohidrat. Sedang beras bercampur plastik tidak ada warna putihnya.

Ketiga, jika beras asli direndam dalam air maka akan berubah warna menjadi lebih putih, sedangkan beras plastik hasilnya tidak akan menyatu dan airnya tidak akan berubah menjadi putih. Keempat, jika beras palsu ditaruh di atas kertas maka terlihat beras tidak natural, berbentuk lengkung, tidak ada patahan. 

"Kalau dipatahkan akan pecah menjadi bentuk kecil-kecil. Sementara beras asli bentuk bulirnya sedikit menggembung dan kalau dipatahkan hanya terbelah menjadi dua," ujar Asmo. — Rappler.com

Uni Lubis, mantan pemimpin redaksi ANTV, nge-blog tentang 100 Hari Pemerintahan Jokowi. Follow Twitter-nya@unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.