Tak layak konsumsi, pemerintah ganti jenis raskin

JAKARTA, Indonesia —  Kerap diprotes karena beras untuk warga miskin (raskin) tidak layak dimakan, pemerintah berjanji untuk mengganti kualitas berasnya.

"Direksi baru akan menghapus image beras raskin dengan kualitas rendah menjadi beras bagus standar beras kemasan," kata direktur Pengadaan Bulog Wahyu Suparyono, Senin, 22 Juni 2015. 

Namun, sampat beberapa waktu ke depan, warga mungkin masih tetap akan menerima raskin tak layak konsumsi ini. 

"Ada kemungkinan beras yang mungkin kurang layak konsumsi yang beredar hampir sekitar 400 ribu ton, tadi yang disampaikan oleh Kepala Bulog. Ini yang harus disisir," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Senin, 22 Juni 2015. 

Raskin tak layak konsumsi

Program raskin adalah subsidi pangan berbentuk beras oleh pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah bagi rumah tangga berpendapatan rendah (rumah tangga miskin dan rentan miskin).

Data pada 2014 menunjukan ada 15,5 juta rumah tangga yang menerima raskin. Khofifah mengatakan akan merevisi data ini karena jumlah penerima seharusnya lebih besar. Pada 2016, sebanyak 18,3 juta rumah tangga akan diikutkan dalam program ini. 

Adanya raskin tak layak konsumsi rupanya bukan merupakan cerita baru dan telah lazim ditemui selama 17 tahun penyelenggaraan program ini. Padahal produksi beras kategori raskin menurut keterangan Menteri Khofifah selama ini merepresentasikan mayoritas bisnis Bulog, yaitu sebesar 92%.

Banyak warga kecewa ketika menerima raskin yang harus ditebus dengan harga Rp 1.600 per kilogram ini, ketika menyadari bahwa beras diterima bau, berwarna kuning kadang hitam, dan berkutu. 

Di Jambi, seorang warga melempar beras pada anggota DPRD dan petugas Bulog karena kecewa dengan beras yang hitam, bau dan membatu. 

Pada Maret 2015, Pemerintah Bogor memutuskan untuk tidak menyalurkan 2.000 ton raskin karena beras penuh kutu. 

”Kalau memang sudah terlalu lama, seharusnya Bulog jangan memaksakan untuk menyalurkan beras tersebut. Bagaimanapun rakyat miskin Kabupaten Bogor tetap berhak menerima beras yang bersih dan layak konsumsi,” kata Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bogor Asep Habudin seperti dikutip media

Raskin jenis baru

Ada beberapa perubahan terkait dengan raskin untuk meningkatkan kualitasnya. Yang pertama, raskin tidak lagi dalam bentuk eceran, tapi diberikan dalam bentuk kemasan. Dalam proses pengemasan, kualitas raskin akan diperiksa ketat.

 

Yang kedua, Badan Urusan Logistik (Bulog) juga akan mengubah struktur produksi berasnya. Jika sebelumnya Bulog memproduksi raskin berkualitas rendah, medium dan  premium maka selanjutnya Bulog akan mengklasifikasikan berasnya menjadi medium, premium dan super. Beras medium akan digunakan sebagai raskin. 

Persoalan kualitas pangan secara umum memang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan bagi Indonesia. 

Salah satunya tercermin dalam Global Food Security Index (GSFI) 2015 terbitan Economist Intelligence Unit (EIU). Terlihat bagaimana skor Indonesia sejak 2012 hingga 2014 stagnan di angka 46,6.

Baru pada 2015 ini terjadi peningkatan tipis menjadi 46,7. Meski demikian, peringkat Indonesia turun ke posisi 74 dari 109 negara tahun ini.

Salah satu indikator yang digunakan EIU dalam menentukan skor sebuah negara dalam GSFI adalah kualitas pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat negara tersebut.