FAST FACTS: Blok Mahakam

Pemerintah Indonesia katakan ingin segera ambil alih kepemilikan Blok Mahakam. Foto dari skkmigas.go.id

Pemerintah Indonesia katakan ingin segera ambil alih kepemilikan Blok Mahakam. Foto dari skkmigas.go.

id

JAKARTA, Indonesia — Pemerintah menegaskan kembali komitmennya untuk mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam, Kalimantan Timur dari perusahaan migas asal Perancis Total E&P Indonesie dan mitranya asal Jepang Inpex Corporation.

Hal ini akan dilakukan saat kontrak bagi hasil berakhir pada 2017. Setelah itu, pemerintah akan menyerahkan Blok Mahakam kepada PT. Pertamina (Persero).

"Presiden Joko Widodo menegaskan kembali bahwa pemerintah telah memutuskan pengelolaan Blok Mahakam akan diambilalih oleh pemerintah," kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno melalui sebuah siaran pers pada Senin kemarin 25 Mei 2015.

Berikut ini, sekelumit data dan fakta seputar sumur minyak yang kepemilikannya kerap menjadi sumber polemik ini.

Berawal pada 1967

Merujuk pada keterangan di laman situs resmi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), kontrak bagi hasil di Blok Mahakam antara pemerintah Indonesia dengan pihak investor asing ditandatangani pada 30 maret 1967 dengan durasi 30 tahun.

Saat jatuh tempo pada 1997, kontrak tersebut diperpanjang 20 tahun lagi dan akan berakhir pada 2017 yang akan datang.

Setelah melakukan eksplorasi hingga tahun 1972, Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation menemukan cadangan minyak dan gas bumi dalam jumlah relatif besar.

Gabungan antara cadangan terbukti dan cadangan potensial yang ditemukan saat itu mencapai 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF).

Minyak dan gas yang diproduksi di Blok Mahakam kemudian turut berkontribusi pada tumbuhnya Indonesia sebagai salah satu  negara eksportir minyak dan gas terbesar di dunia pada periode 1980-2000.

Tentang Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation

Total adalah Perusahaan Minyak Internasional atau International Oil Company (IOC) besar dengan portofolio investasi minyak dan gas yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan laporan "Global Oil and Gas Reserve Study" terbitan Ernst & Young pada 2014, Total adalah IOC yang mengeluarkan jumlah belanja modal terbesar ke-7 secara global.

Dalam mengelola Blok Mahakam, Total bermitra dengan perusahaan asal Jepang yaitu Inpex Corporation. Kembali ke data SKK Migas, kedua perusahaan ini membagi sama rata kepemilikan atas Blok Mahakam, masing-masing sebesar 50%.

Mengapa pengelolaan Blok Mahakam harus diambil alih?

Dalam komunikasi tertulis dengan Rappler, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menyatakan bahwa terdapat sejumlah poin mengapa Pertamina ingin agar pengelolaan Blok Mahakam segera diambil alih dan diberikan kepada mereka.

1. Ingin meningkatkan peranan Pertamina sebagai National Oil Company (NOC) Indonesia dalam pengelolaan sumber daya minyak dan gas yang ada di tanah air.

Menurut Wianda, saat ini baru 26% dari keseluruhan kapasitas produksi minyak dan gas di tanah air yang dikelola oleh Pertamina.

Angka ini memang relatif rendah bila dibandingkan dengan rata-rata global. Merujuk pada studi bank dunia berjudul National Oil Companies and Value Creation yang terbit empat tahun lalu, 75% produksi minyak dan gas dunia berasal dari NOC. Sedangkan 90% cadangannya juga dikuasai oleh NOC.

2. Misi Pertamina untuk meningkatkan kapasitas produksi Blok Mahakam.

Pihak Pertamina yakin bahwa di bawah pengelolaan mereka, Blok Mahakam dapat tumbuh lebih produktif.

“Telah terdapat banyak bukti bahwa blok yang dialih kelolakan dari operator ke Pertamina justru meningkat jumlah produksinya. Contohnya di Blok West Madura Offshore (WMO) dan Blok Offshore Northwest Java (ONWJ),” kata Wianda.

Yang (akan) tersisa dari Blok Mahakam

SKK Migas memperkirakan bahwa pada akhir kontrak bagi hasil pada 2017, jumlah cadangan baik terbukti maupun potensial di Blok Mahakam akan tersisa sebesar 131 juta barel untuk minyak dan 3.8 TCF untuk gas.

Per April 2015, Blok Mahakam memproduksi 66.400 barel minyak dan 1.750 juta kaki kubik gas per harinya.

Dengan asumsi besaran ini tidak berubah, masih tersisa waktu selama kurang lebih 5,5 tahun untuk minyak dan 6 tahun untuk gas sebelum seluruh cadangan minyak dan gas di Blok Mahakam habis. Ini terhitung sejak tahun 2017, saat sedianya kepemilikan Blok Mahakam kembali sepenuhnya ke Pemerintah Indonesia. —Rappler.com