Blusukan asap Jokowi di Riau berhasil cegah kebakaran hutan untuk saat ini

 

JAKARTA, Indonesia — Masalah kebakaran hutan selalu menjadi perhatian publik, terutama masyarakat di Riau yang harus hidup di tengah kabut asap dari kebakaran hutan.

Hal inilah yang mendorong Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk melakukan blusukan ke Riau, termasuk ke salah satu daerah yang paling parah dalam hal kebakaran hutan, yaitu desa Sungai Tohor di Kabupaten Kepulauan Meranti, pada 27 November 2014.

Desa ini terletak di sebuah pulau yang dikelilingi kawasan hak konsesi perusahaan besar dan merupakan langganan api hingga dijuluki kampung asap.

Warga desa selalu terkepung asap setiap tahun selama hampir dua dekade terakhir.

Hal ini disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang membangun kanal-kanal untuk mengeringkan gambut yang berakibat pada kebun sagu warga. Sagu di desa itu adalah sumber makanan pokok, dan kanal mengakibatkan tanah turun sehingga gambut dan sagu warga menjadi kering.

Hanya beberapa hari setelah pelantikannya sebagai Presiden, seorang warga Riau bernama Abdul Manan mempetisikan Jokowi untuk melakukan blusukan ke Riau, sebuah permintaan yang dikabulkan Jokowi sebulan kemudian.

Pada kunjungannya tersebut, Jokowi menginstruksikan masyarakat setempat untuk membangun sekat kanal gambut (canal blocking). Dengan bantuan tunai Rp 300 juta dari Presiden langsung, masyarakat Sungai Tohor berhasil membuat 10 sekat kanal gambut.

Setelah hampir 3 bulan semenjak pembangunan sekat kanal tersebut, bagaimana kondisi kebakaran hutan di desa Sungai Tohor?

Ternyata, sekat kanal tersebut berhasil berperan mengatasi bencana kekeringan dan mengurangi kebakaran hutan, menurut Greenpeace Indonesia.

“3 bulan terakhir blocking kanal itu memang memberikan manfaat signifikan ke ekosistem gambut dan restorasi,” ujar Teguh Surya, juru kampanye politik hutan Greenpeace Indonesia, Selasa, 24 Februari 2015.

Abdul Manan, warga asli desa Sungai Tohor, juga mengatakan hal yang sama.

“Untuk sekat kanal pada musim ini sekarang sudah basah dan pohon sagu sudah mulai menghijau. Semenjak sekat kanal ini kita belum ada terjadi kebakaran lagi,” ungkapnya.

Untuk daerah lain di Riau, memang masih ada beberapa titik kebakaran mengingat sekarang sudah mulai memasuki musim kemarau, ujar Teguh.

“Setelah akhir Januari, titik panas bermunculan walaupun eskalasinya tidak setinggi tahun lalu,” imbuhnya.
Selain membasahi gambut sehingga mencegah terjadinya kebakaran, sekat kanal ini juga berfungsi sebagai mata air baru bagi masyarakat.

Abdul menambahkan, “Banyak manfaat juga untuk masyarakat karena bisa mengambil air untuk mandi dan minum. Masyarakat  juga ada yang menangkap ikan”.

Alhasil, masyarakat tidak perlu lagi membeli air untuk kebutuhan sehari-hari seperti tahun lalu di mana warga harus merogoh kocek sebesar Rp 30.000 per galon air.
Mengingat besarnya manfaat dari sekat kanal ini, maka Greenpeace Indonesia menghimbau agar sekat kanal ini diimplementasikan dalam kebijakan permanen.

“Jadi kalau sekat kanal ini dipermanenkan kebijakannya dan diinstruksikan jadi kebijakan nasional oleh Presiden, kami yakin kebakaran itu bisa dicegah lebih awal,” ujar Teguh. —Rappler.com