Dana latihan bermasalah, Menpora wacanakan badan pendanaan olahraga

JAKARTA, Indonesia – Dalam sebuah perbincangan di kawasan Senayan, Jakarta, Februari lalu, salah seorang pelatih berkeluh kesah tentang dana pelatihan nasional (pelatnas) yang belum turun. Padahal, SEA Games 2015 yang diadakan pada bulan Juni hanya kurang dari tiga bulan. 

“Akhirnya saya gadaikan rumah di Yogyakarta, dapat Rp 300 juta. Maksud saya, nanti uang pribadi yang saya keluarkan tinggal saya klaim ke Satlak Prima (Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas),” kata pelatih perempuan yang namanya enggan disebut itu. 

Sang pelatih merasa harus segera melakukan langkah cepat. Sebab, jika menunggu dana pelatnas, latihan tidak akan ideal. Padahal, cabang olahraga (cabor) yang dia tekuni sudah dijanjikan dana pelatnas sejak Desember 2014.

Namun, masalah justru muncul jelang SEA Games. Duit pribadi yang dia keluarkan tak semuanya diganti Satlak Prima. “Saya hanya diberi ganti Rp 50 juta, tapi harus meneken tagihan Rp 300 juta. Ini gila!” katanya.

Pelatih tersebut lantas berusaha menagihnya dengan memanfaatkan jalur pengurus pusat cabor di Jakarta. Lagi pula, pengorbanannya membuahkan hasil. Salah seorang atlet binaannya mendapat satu medali emas di SEA Games 2015. 

Dana pelatnas memang menjadi persoalan utama olahraga Indonesia. Dana yang seharusnya turun setahun sebelum ajang digelar ternyata justru baru cair dua bulan sebelumnya — atau lebih mepet. Padahal, kebutuhan untuk latihan sudah sejak lama. Akibatnya, banyak yang harus berlatih dengan peralatan dan perlengkapan seadanya. 

Tak heran jika SEA Games 2015 menjadi SEA Games terburuk Indonesia. Indonesia terpuruk di peringkat kelima dengan hanya 47 medali emas.

Karena itu, dalam evaluasi SEA Games 2015 di gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Kamis, 25 Juni 2015, muncul wacana untuk membentuk badan pendanaan. “Ini bisa jadi terobosan,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. 

Fungsi badan pendanaan tersebut, kata Nahrawi, adalah untuk memberi solusi cepat dalam hal keuangan, perlengkapan, sport science, atau segala kebutuhan terkait percepatan prestasi. “Jadi, saat keadaan darurat, badan ini bisa menjadi jalan keluar,” kata Nahrawi.

Penyiapan badan ini akan dilakukan secepat mungkin. Sebab, sudah banyak ajang multi-event menanti, mulai dari Olimpiade 2016, SEA Games 2017, hingga Asian Games 2018. Anggaran bisa didapatkan dari Kemenpora, pihak ketiga, dan anggaran dari dana solidaritas Olympic yang didapatkan melalui Komite Olahraga Indonesia (KOI).

Hampir setiap SEA Games dana selalu bermasalah 

Persiapan Indonesia untuk menghadapi ajang multi-event olahraga selalu bermasalah. Karena itu, hasil buruk dengan gampang diprediksi. Sejak persiapan SEA Games 2011, saat Indonesia menjadi tuan rumah, atlet harus menunggu sampai satu bulan jelang kejuaraan baru bisa mendapatkan perlengkapan latihan. Padahal itu sudah sangat mepet.

Bukan hanya perlengkapan pertandingan, seragam panitia pun bermasalah. Tidak ada perusahaan yang mau mengikuti tender. Mereka tahu pencairan dana akan berbelit dan lama. Belum lagi resiko hukum karena situasi yang mepet membuat penunjukkan langsung tak terhindarkan. Jadilah, seragam panitia SEA Games 2011 saat itu “belang-belang”, tak seragam.

Beruntung, akhirnya muncul peraturan presiden untuk penunjukkan langsung. Tapi, momen persiapannya sudah lewat. Dan untungnya lagi, faktor tuan rumah menyelamatkan muka Indonesia. Merah Putih menjadi juara umum dengan koleksi 182 medali emas — meskipun medali tersebut banyak didapatkan dengan memperbanyak nomor yang menjadi potensi tuan rumah.

Situasi yang sama juga terjadi pada persiapan menuju Olimpiade 2012. Indonesia lagi-lagi telat mengucurkan dana. Korbannya, para atlet angkat besi dan panahan. Atlet panahan sampai harus berlatih menggunakan busur dan anak panah lama. Hasilnya, gagal total. Beruntung Triyatno meraih medali perak (angkat besi 69 kg putra) dan Eko Yuli Irawan mendapatkan medali perunggu (angkat besi 62 kg putra). 

Pada SEA Games 2013, lagi-lagi masalah berulang. Menpora saat itu Roy Suryo tak bisa berbuat banyak untuk membuat terobosan. Akibatnya, di SEA Games 2013 Indonesia harus terjun bebas. Dari juara umum di 2011 menjadi gagal total dan hanya di peringkat empat. 

Di 2015, kondisi itu kembali terjadi, Nahrawi yang belum genap setahun menjabat dihadapkan pada masalah serupa: lambannya pencairan anggaran. Masalah ini juga diutarakan oleh seluruh perwakilan cabor. 

Mantan atlet yang kini menjadi Chef de Mission alias Ketua Kontingen Indonesia Taufik Hidayat juga mengungkapkannya. 

“Kalau ingin maju, harus ada terobosan baru. Jangan mengulang yang sudah-sudah. Harus ada terobosan dari bidang prestasi, keuangan, administrasi, sport science, dan  iptek,” kata Taufik usai evaluasi di Kemenpora.—Rappler.com