Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Kasus Mary Jane: Ajukan grasi atau PK lagi?

Mary Jane Fiesta Veloso, warga Filipina yang divonis mati menangis di persidangan, Sleman, 3 Maret 2015. Foto oleh Bimo Satrio/EPA

Mary Jane Fiesta Veloso, warga Filipina yang divonis mati menangis di persidangan, Sleman, 3 Maret 2015.

Foto oleh Bimo Satrio/EPA

 

JAKARTA, Indonesia — Kuasa hukum Mary Jane, Agus Salim masih mempertimbangkan langkah hukum yang akan ditempuhnya pasca penundaan eksekusi.

"Kita masih memikirkan dan mengkaji dulu apa yang akan kita tempuh," katanya seusai mendampingi keluarga menjenguk Mary Jane di lapas Wirogunan, Yogyakarta, Kamis 30 April.

Kejagung tegaskan status Mary Jane masih terpidana mati

Meski tidak jadi dieksekusi, juru bicara Kejaksaan Agung Tony Spontana mengatakan bahwa Mary Jane masih berstatus terpidana yang menanti eksekusi. 

“Sampai hari ini tetap ada kemungkinan dieksekusi,” kata Tony seperti dikutip detik.com, Kamis, 30 April.  

“(Mary Jane) dikembalikan ke LP Wirogunan pagi itu (Rabu, 29 April) karena Nusakambangan tidak ada fasilitas napi perempuan.”

Lalu, haruskah PK dan grasi lagi?

Ada dua alternatif langkah hukum yang memungkinkan ditempuh dengan melihat aturan hukum di Indonesia. Yaitu kembali mengajukan PK (Peninjauan Kembali) dan mengajukan permohonan grasi kepada Presiden. 

Untuk mengajukan PK kembali, dasar hukumnya adalah keputusan Mahkamah Konstitusi pada Maret 2014 yang menyatakan bahwa PK dapat diajukan lebih dari satu kali. 

Namun demikian, ada rintangan untuk mengimplementasikannya karena ada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7/2014 yang menyatakan PK hanya dapat diajukan satu kali. 

"MK memperbolehkan PK lebih dari dua kali dengan landasan bahwa mencari keadilan tidak bisa dibatasi. Sementara MA mengeluarkan surat edaran boleh PK dua kali dengan syarat ada tiga keputusan yang bertentangan dalam putusan hakim, itu tidak memungkinkan di pidana, kalau perdata itu bisa," kata Agus.

Sementara untuk grasi juga memungkin dilakukan karena itu adalah hak prerogatif Presiden. "Kalau grasi bisa setiap saat,” katanya. 

Hingga kini, Agus dan kuasa hukum lainnya masih menunggu pembahasan antara Pemerintah Indonesia dan Filipina terkait dengan proses hukum selanjutnya. 

Mary Jane butuh kepastian

BAHAGIA. Ibunda Mary Jane, Celia, dan kakaknya, Darling. Foto oleh Jet Damazo-Santos/Rappler

BAHAGIA. Ibunda Mary Jane, Celia, dan kakaknya, Darling.

Foto oleh Jet Damazo-Santos/Rappler

Agus berharap segera ada kepastian terkait status hukum Mary Jane, karena kliennya mengharapkan kepastian.  "Jangan sampai kasus ini menggantung karena masalah hukum," katanya.

Pengacara juga berharap ada kepastian hukum terkait kasus perdagangan manusia yang dilakukan oleh perekrut Mary Jane, Maria Kristina Sergio. Kristina, yang adalah saudara serani Mary Jane, sudah menyerahkan diri.