Sepp Blatter mundur, apa implikasinya bagi Indonesia?

Kemelut di federasi sepak bola dunia (FIFA) belum berakhir. Setelah tujuh pejabat top mereka ditangkap biro investigasi federal Amerika Serikat (FBI) pada Rabu,  25 Mei 2015, kali ini giliran Presiden FIFA Sepp Blatter yang menyatakan mundur, Selasa, 2 Juni 2015. 

Blatter yang menjabat pucuk pimpinan FIFA sejak 1998 itu mundur dengan alasan tidak bisa lagi mengemban mandat organisasi sepak bola dunia. Alasannya, dugaan korupsi pada para pejabat top di bawahnya menimbulkan banyak keraguan terhadap integritas kepemimpinannya. 

Meski memenangi voting pemilihan presiden pada Jumat, 29 Mei 2015, lalu (Blatter menang 133 suara berbanding 73 dari Pangeran Ali Bin Al Hussein dari Jordania), mantan Sekretaris Jenderal FIFA itu tetap ingin hengkang. Lelaki 79 tahun itu menganggap hasil voting tersebut “tidak didukung oleh semua insan sepak bola dunia.” 

Pengunduran diri tersebut hampir di hari yang sama dengan terbongkarnya keterlibatan Sekjen FIFA Jerome Valcke dalam proses transfer kepada Jack Warner, mantan Wakil Presiden FIFA. Valcke mentransfer duit suap sebesar USD 10 juta kepada Warner terkait penyelenggaran Piala Dunia Afrika Selatan 2010. Namun, seperti dikabarkan New York Times, Valcke tidak mengetahui bahwa uang tersebut adalah suap.  

Sepp Blatter usung perubahan FIFA sejak lama

Dalam pidato pengunduran diri, Blatter tidak membahas soal keterlibatan Valcke. Dia mengatakan, alasan lengserkarena kegagalannya dalam melakukan perubahan di tubuh FIFA. “Saya telah memperjuangkan perubahan ini sejak lama, semua orang tahu. Tapi upaya saya selalu diganjal. Kali ini pasti sukses,” katanya.

Apa yang dimaksud Blatter dengan perubahan itu? Berikut ini poin-poin perubahan berdasarkan pidato Blatter. 

 

Executive committee adalah pejabat pembuat keputusan di FIFA. Anggotanya terdiri dari presiden FIFA yang dipilih dalam kongres, delapan wakil presiden, dan 15 anggota yang dipilih konfederasi dan asosiasi sepak bola negara anggota. 

 

Konfederasi adalah federasi sepak bola di bawah FIFA yang membawahkan negara-negara anggota di level benua. Mereka adalah:

Kongres Luar Biasa FIFA digelar secepatnya

Dari pernyataan tersebut, sepertinya Blatter ingin memberi tanda bahwa kemelut di FIFA disebabkan para executive committee yang tidak berintegritas. 

Blatter juga mengatakan bahwa dia akan memerintahkan pelaksaan Kongres Luar Biasa (KLB) FIFA untuk memilih presiden baru. Kemungkinan kongres itu digelar Desember karena kongres tahunan FIFA akan digelar di Meksiko pada 13 Mei 2016. 

Blatter tak ingin menunggu terlalu lama. “Akan ada penundaan tidak perlu. KLB harus secepatnya,” kata Blatter.  

‘Blatter-effect’ di Indonesia 

Lantas, bagaimana di Indonesia? Belum ada reaksi dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Namun, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menganggap pengunduran diri tersebut memperkuat bukti kecurigaan mereka terhadap surat sanksi FIFA yang diteken Jerome Valcke pada 30 Mei 2015.

“Kemenpora sudah merasakan buruknya tata kelola manajemen FIFA saat mengirim surat sanksi kepada PSSI. Surat tersebut memuat sejumlah kejanggalan. Kemenpora mempertanyakan tingkat keseriusan FIFA dalam menjatuhkan sanksi karena faktanya tidak berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya,” kata Deputi 5 Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora Gatot S Dewa Broto, Rabu, 3 Juni 2015.

Kementerian pimpinan Imam Nahrawi itu memang sempat ragu dengan surat sanksi FIFA yang diteken Jerome Valcke pada 30 Mei 2015. Salah satunya, banyak kesalahan kronologis dalam pernyataan Valcke. Dia juga salah dalam tata bahasa. 

“Timnas Indonesia baru akan memainkan pertandingan pertama di cabang sepakbola SEA Games 2015 pada tanggal 2 Juni 2015. Bagaimana mungkin kalimat tersebut dalam bentuk past continous tense, sesuatu yang sedang terjadi pada masa lalu, sementara SEA Games itu sendiri belum berlangsung,” kata Gatot, 30 Mei 2015. 

Kecurigaan Kemenpora terhadap surat sanksi FIFA selengkapnya di sini.

Bagaimanakah efek pengunduran diri Blatter bagi Indonesia? Apakah akan diikuti pejabat top PSSI? 

Tim Transisi sudah membentuk kelompok kerja investigasi untuk mencari tindak pidana di tubuh PSSI. Mereka terinspirasi dengan FBI yang menangkap tujuh pejabat top FBI dalam kasus pencucian uang, suap, dan penipuan. 

Kita tunggu “Blatter-effect” di Indonesia. —Rappler.com