Ibuku dan Gerakan Minum Jamu

Hari ini kita memperingati Hari Perempuan, 22 Desember 2014. Puluhan tahun sejak era Orde Baru kita memperingati hari ini sebagai Hari Ibu. Ada salah kaprah, tapi tidak perlu jadi perdebatan. Kalau mau dijadikan momen mengingat ibu, mengapa tidak? Mengingatnya tentu tidak hanya tanggal 22 Desember. 

Salah satu hal yang saya warisi dari almarhumah ibu saya adalah kebiasaan minum jamu. Ibu saya asli dari Yogyakarta.  Seingat saya, sejak usia lima tahun, ibu saya dan ibunya, yakni eyang saya, sudah mengajak saya minum jamu di dekat rumah eyang di kawasan Panembahan Senopati, Yogyakarta. 

Awal perkenalan saya dengan jamu, saya dicekoki cairan hijau pahit, jamu. Tak berdaya, mulut saya dipaksa dibuka oleh Mama, panggilan saya ke ibu. Kepala tengadah, agar cairan tidak tumpah dan langsung masuk ke tenggorokan — ini asal istilah “dicekoki”. Proses pemaksaan, tanpa kuasa ditolak karena yang dipaksa tiada berdaya.  

Lalu si mbok penjual jamu di depan kompleks Taman Hiburan Rakyat Purawisata, mengucurkan cairan dari rebusan segala macam daun yang dibungkus sapu tangan. Sebagian cairan tertinggal di mulut. Saya megap-megap. Rasanya pahit. “Supaya sehat, untuk menambah nafsu makan,” kata Mama. Bersih atau tidak sapu tangan itu dan sudah berapa ratus mulut anak dicekoki dari sapu tangan yang sama, baru saya pikirkan sesudah saya remaja. Hiks.            

Proses itu membuat saya terbiasa minum jamu. Padahal ayah saya bermarga Lubis, dari Mandailing, Tapanuli Selatan. Sampai kini, setiap kali liburan atau tugas ke Yogyakarta, meskipun cuma satu sehari, saya mencoba mampir ke depo jamu Lugu Murni di jalan Brigjen Katamso. Ini langganan sejak era almarhumah eyang. Jamu yang dijual beragam. Dari sebuah warung kecil, kini menjadi semacam kafe jamu. Dijual juga bahan jamu untuk rebusan.  

Di rumah ibu dan ayah di Jakarta, bahan jamu selalu tersedia. Segala macam rebusan rempah. Ketika ayah saya kena diabetes belasan tahun lalu, koleksi jamu rebusan ibu saya bertambah. Di halaman rumah, baik di Jakarta maupun Yogyakarta, ada tanaman obat semacam tanaman brotowali, daun mahkota dewan sampai rimpang-rimpang, termasuk jahe merah.           

“Karena yang pahit itu bisa menyehatkan dan yang manis belum tentu membahagiakan,” ini salah satu filosofi hidup saya. 

Filosofi-filosofian ini lahir dari kebiasaan minum jamu pahit. Juga makan segala macam masakan yang terbuat dari pare (bagus untuk mengontrol gula darah). Waktu kecil, saat masak oseng pare yang rasanya masih pahit, ibu saya komentar, “Supaya kita selalu siap dengan segala kemungkinan dalam hidup. Yang tidak selalu manis.” 

Benar juga. Sejak kecil saya tidak terlalu suka manis. Kini minum kopi dan teh dengan gula sangat sedikit. Office boy saat masih bekerja di kantor paham kebiasaan ini. “Ih, kayak minum jamu,” begitu komentar suami kala mencicipi kopi untuk saya. Iya, pahit. Tapi enak.           

#JumatMinumJamu ala Mendag Gobel

Jadi, ketika Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah IGN Puspayoga, mampir ke Pasar Gaul Santa, awal November 2014, dan sempat nongkong di kedai saya, di Read & Eat, di lantai atas, dan berkomentar, “Harusnya di sini jualan jamu tradisional juga, Mbak,” saya menyambut ide itu. 

Benar juga ya, belum ada yang sedia jamu di sana. Sejak itu di kedai yang saya kelola bersama adik-adik untuk tempat nongkrong santai hore-hore itu disediakan jamu tradisional yang dibuat sendiri: beras kencur, kunyit asam, dan galian sehat. Yang populer dan tidak pahit.            

Saya tidak menduga bahwa Menteri Rachmat Gobel serius soal jamu, sampai saya membaca berita bahwa Jumat pekan lalu (19/12) ia mencanangkan Gerakan Minum Jamu setiap hari Jumat, sehabis olahraga, di Kementerian Perdagangan. Hadir di situ Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Puan Maharani dan Menteri UMKM Puspayoga. Ada koran yang menulis dengan judul besar, “PNS Wajib Minum Jamu Setiap Jumat.”            

Saya protes ke Mendag. Kalau mau mengembangkan kecintaan kepada jamu, kok menggunakan cara-cara “wajib” bagi PNS alias pegawai negeri sipil? Soalnya saya tergolong yang mengkritisi kebijakan bernuansa wajib ini-itu yang belum lama ini diterbitkan Kementerian Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi terkait konsumsi dan rapat. Juga rencana pengurangan jam kerja untuk karyawati.             

“Tidak mewajibkan. Saya menyediakan jamu dan mengajak jajaran Kemendag untuk mengonsumsinya, setiap hari Jumat sesudah olahraga pagi. Minum jamu kan bikin sehat. Kita tidak bisa mewajibkan karena tidak semua orang suka minum jamu.  Tidak bisa dipaksa juga,” kata Menteri Gobel, via telepon kepada saya, Minggu siang (21/12).            

Dia lantas menceritakan keinginannya untuk mendorong jamu menjadi produk ekspor andalan Indonesia. Semuanya harus dimulai dengan menjadikan jamu sebagai produk minuman yang populer di Indonesia, di rumahnya sendiri.  

“Saya ingin jamu sebagai warisan budaya asli Indonesia bisa sepopuler batik,” kata Gobel. Kebetulan dia bos di Kemendag, jadi dia memulainya dengan mengajak lingkungan Kemendag lebih mencintai jamu. Gerakan ini akan diteruskan ke lingkungan kementerian lain mulai Jumat pekan depan.          

  

Mendag Gobel mendapat sambutan. Seolah kebetulan, Jumat lalu pula, sejumlah tokoh sepakat membentuk Asosiasi Dewan Jamu Indonesia. Keputusan ini diumumkan Bayu Krisnamurthi, mantan Wakil Menteri Perdagangan.  

Pihaknya bersama sejumlah pihak seperti Irwan Hidayat bos PT Sido Muncul yang memproduksi jamu herbal, Jaya Suprana pemilik PT Jamu Djago, dan Lula Kamal, penggiat kesehatan masyarakat yang sering memandu acara kesehatan di televisi, juga Profesor Agus Purwadianto yang menyusun Peta Jalan Pengembangan Jamu, mendirikan asosiasi dewan jamu untuk mendorong jamu Indonesia makin berkembang baik di ranah domestik maupun sebagai produk ekspor. Klop dengan niat pemerintah.

Ketika saya kontak semalam, Bayu memaparkan bahwa niat menjadikan jamu Indonesia produk unggulan sudah dimulai tahun 2008. Kantor Menteri Koordinator Perekonomian, lalu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat saat itu memiliki program “Jamu Brand Indonesia”.  

Dalam Simposium Internasional Temulawak, di Istana Negara, Mei 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong temulawak sebagai ikon jamu Indonesia. “Khasiat temulawak tidak kalah dengan ginseng Korea,” kata SBY saat itu. SBY juga berharap omzet industri jamu terus meningkat mencapai Rp 10 triliun di akhir 2008.

Niat pemerintah SBY saat itu ditindaklanjuti. Kementerian Kesehatan pada 2009 mencanangkan program saintifikasi jamu, juga mengembangkan “body of knowledge,’’ kurikulum Jamuologi bagi para praktisi kesehatan.  

Menurut Bayu, bidang penelitian dan pengembangan Kemenkes tahun 2010, yang dipimpin  Prof. Agus Purwadianto merumuskan Peta Jalan Pengembangan Jamu. Peta jalan ini dirampungkan oleh Prof. Latifah Darusman pada 2011, bekerjasama dengan Pusat Biofarmaka Institut Pertanian Bogor. 

Tahun lalu, berlangsung program Ikonisasi Jamu, yang ditindaklanjuti dengan penyusunan draf  Peraturan Pemerintah soal Pelayanan Kesehatan Tradisional yang sudah disampaikan pada tanggal 3 Desember 2014.

Potensi jamu sebagai produk ekspor andalan yang bisa menuai untung besar saat kurs rupiah terhadap dolar AS melemah, seperti saat ini memang besar. Nyaris semua bahan baku jamu berasal dari dalam negeri. Kecuali bahan peppermint dan bahan kemasan. 

Ketua Gabungan Pengusaha Jamu yang juga pemilik perusahaan Jamu Nyonya Meneer, Charles Saerang, pernah mengatakan bahwa potensi pasar industri jamu setiap tahun bisa mencapai Rp 30 triliun. Sekarang baru separuhnya digarap. Sejumlah kendala lapangan harus dibenahi. Termasuk undang-undang khusus soal Jamu

"Dengan UU tersebut, industri jamu tidak ingin lagi di bawah Kementerian Kesehatan tapi masuk Kementerian Industri. Jamu itu sudah terbukti sejak turun temurun, tapi ini tetap tak diakui," jelas Charles, Juni lalu.  

Di bawah Kementerian Perindustrian, industri jamu dharapkan lebih luwes berkembang, termasuk pembinaan petani bahan baku jamu.Urusan jamu selama ini melibatkan 20 kementerian.

Tantangan jamu

Pasokan utama industri herbal dunia selama ini berasal dari Tiongkok, Brasil, dan India. Padahal Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar kedua di dunia setelah Brasil.

“Kalau digabungkan dengan tanaman laut, kita malah nomor satu di dunia. Tapi sebagai supplier herbal, negara kita masih belum ada namanya,” ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang Industri Berbasis Budaya, Putri K. Wardhani, di sela-sela peluncuran Gerakan Minum Jamu di kantor Kemendag, seperti yang dikutip dari Koran Sindo.

Menurut dia, Indonesia memiliki warisan budaya turun-temurun berupa minuman herbal, yaitu jamu. Untuk bisa menjadi pemasok global, kata Putri, volume perdagangan dan ekspor jamu juga harus ditingkatkan berpuluh kali lipat. Putri yang juga pewaris produsen kosmetika tradisonal PT Mustika Ratu ini mengatakan  tren pertumbuhan industri jamu saat ini masih cukup baik, yaitu pada kisaran dua digit.

“Salah satu kendala adalah kurangnya keberpihakan dari pemilik pusat perbelanjaan atau mall. Mereka kerap lebih mengutamakan produk impor daripada produk industri budaya Indonesia sendiri,” cetusnya. Putri menambahkan, jamu sebagai warisan budaya asli Indonesia, juga harus mendapat pengakuan dunia internasional. Untuk itu, pemerintah didesak untuk segera mendaftarkan jamu ke UNESCO, agar tidak diklaim negara lain.

Contohnya Malaysia yang belakangan mulai menggunakan istilah jamu Malaysia untuk menyebut minuman herbal mereka yang dulunya disebut obat kampung. “Jamu itu kan asal katanya dari Jawa, yaitu Jampi Usada yang berarti ramuan kesehatan. Negara lain mungkin juga punya khas sendiri, ya silakan. Misalnya Cina dengan shinshe-nya atau India dengan ayurveda-nya. Kalau jamu, ya, dari Indonesia,” tegasnya. 

Putri juga membahas maraknya peredaran jamu tanpa izin, termasuk yang diimpor dari negara tetangga. Simak selengkapnya di tautan ini.

Data GP Jamu menyebutkan industri ini, mampu menyerap 15 juta tenaga kerja, di mana 3 juta di antaranya terserap di industri jamu yang berfungsi sebagai obat. Sisanya sebanyak 12 juta tenaga kerja terserap di industri jamu yang berkembang ke arah makanan, minuman, kosmetik, spa, dan aromaterapi.

Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu spesies tumbuhan obat. Jumlah tersebut, kata dia, lebih dari cukup untuk memproduksi berbagai jenis jamu dan obat.

Menteri Rachmat Gobel mengatakan, pihaknya akan membantu produsen jamu tradisional, para si mbok-mbok, untuk memproduksi secara sehat dan bersih. Begitu juga untuk produk ekspor.  

“Kita akan membuat acara minum jamu termasuk proses pembuatannya menjadi ciri khas Indonesia. Seperti acara minum teh di Tiongkok maupun Jepang,” kata Rachmat.  

Di kantornya, kini Rachmat siap menyuguhi tamu dengan sajian minum jamu. “Yang nggak doyan, minimal minum ramuan jahe. Ginger tea kan sudah dikenal secara internasional? Ini ramuan jahe Indonesia,” ujarnya.

Ya, sepanjang tidak ada soal wajib-wajiban, saya mendukung upaya menjadikan jamu sebagai warisan budaya yang sepopuler batik. #JumatMinumJamu bagi yang doyan. Nggak ada paksaan.   

Dua puluh tahun terakhir, tren dunia mengarah ke pengobatan dan terapi berbasis bahan natural dari alam. Obat-obatan herbal. Minimalisir bahan kimia. Persis ajaran leluhur. Juga ajaran ibu saya, yang lebih suka memarut bawang merah, menaruhnya di cawan kecil agar dihirup aromanya oleh cucunya, anak saya yang tengah kena selesma alias flu, saat dia masih bayi. Al-fatihah untuk Mama. —Rappler.com

Uni Lubis, mantan pemimpin redaksi ANTV, nge-blog tentang 100 Hari Pemerintahan Jokowi. Follow Twitter-nya @unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.