Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Indonesia eksekusi 8 napi, Mary Jane Veloso ditunda

JAKARTA, Indonesia — Indonesia telah mengeksekusi delapan terpidana mati, Rabu dinihari, 29 April 2015. Warga negara asal Filipina Mary Jane Fiesta Veloso batal dieksekusi malam ini.

Mereka adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran asal Australia; Martin Anderson, Sylvester Obiekwe Nwolise, Raheem Agbaje Salami Codova, dan Okwudily Oyatanze asal Nigeria, Rodrigo Gularte asal Brazil, dan Zaenal Abidin, seorang warga negara Indonesia.

Menurut Jaksa Agung Prasetyo, pemerintah Indonesia membatalkan eksekusi untuk Mary Jane hari ini untuk menghormati proses hukum di Filipina. 

"Iya, ditunda karena terakhir ada permohonan dari Filipina melalui presiden, ternyata hari ini ada yang menyerahkan diri. Jadi dia menyatakan bahwa dia merekrut Mary Jane," kata Jaksa Agung H.M. Prasetyo seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Kuasa hukum Mary Jane, Agus Salim, mengaku terkejut dengan keputusan pemerintah Indonesia di menit-menit terakhir. 

“Saya sendiri tidak tahu kalau Mary Jane batal dieksekusi. Saya baru tahu barusan dari media,” kata Agus dalam wawancara dengan TVOne, Rabu dinihari.

Sebelumnya, Presiden Filipina Benigno Aquino III meminta pemerintah Indonesia untuk menjadikan Mary Jane  seorang saksi dalam kasus sindikat narkoba yang membuat dia terjebak.

Aquino juga menambahkan bahwa Mary Jane selama ini telah bersikap sangat kooperatif mengenai kasusnya.

Selasa siang, perekrut Mary Jane, Maria Kristina Sergio, menyerahkan diri kepada polisi Filipina. 

 

Biro Investigasi Nasional Filipina sebelumnya telah menuntut Maria Kristina dan dua orang lainnya atas perekrutan tenaga kerja ilegal dan perdagangan manusia, terkait dengan kasus Mary Jane Veloso.

 

Sebelumnya, Aquino, yang berada di Malaysia untuk ASEAN Summit, memberitahu media Filipina bahwa ia telah meminta langsung kepada Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi melalui telepon. 

“Kami memberitahu bahwa satu jalan yang bisa menguntungkan kedua belah pihak adalah dengan membiarkan dia hidup agar dia bisa bersaksi. Ini akan memberikan keadilan bagi kedua pihak,” kata Aquino. 

Aquino juga menambahkan bahwa Mary Jane selama ini telah bersikap sangat kooperatif mengenai kasusnya.  

Hal ini, menurut Aquino, akan memberikan kesempatan untuk menemukan para pelaku dan memberikan keadilan bagi Mary Jane.

 Ini adalah permintaan kedua Aquino kepada Pemerintah Indonesia. Dalam pertemuan dengan Presiden Joko "Jokowi" Widodo, Senin, 27 April, Aquino juga meminta presiden untuk mempertimbangkan kembali hukuman mati yang dijatuhkan pada Mary Jane. 

Jokowi tadinya berjanji akan memberikan jawaban pada sore di hari yang sama, namun kemudian malah memerintahkan Retno untuk memberikan jawabannya pada Aquino. Dalam wawancara dengan TVRI Senin malam, Jokowi kembali menegaskan bahwa itu adalah kedaulatan Pemerintah Indonesia, mengindikasikan penolakan terhadap permintaan Aquino.Rappler.com