Keamanan pangan bukan sekedar mengecek label

Jika sedang belanja di pasar swalayan, saya biasanya mengecek tiga hal: asal produksi, tanggal kedaluarsa, dan label halal.  

Herannya, saya seringkali lupa mengecek itu saat sedang belanja di pasar tradisional. Tanggal kedaluarsa sesekali saja, kalau pasarnya rada sepi dan waktu belanja banyak. Di pasar swalayan, karena bersih dan sejuk, proses belanja lebih rileks, pengecekan tiga informasi itu menjadi lebih nyaman.

OK, bukan berarti saya anti-pasar tradisional. Justru setiap minggu saya berbelanja kebutuhan pangan di pasar tradisional. Bisa di pasar dekat rumah di kawasan Jatiwaringin, di Pasar Santa, atau di Pasar Tebet. Sekarang sesekali saya belanja sayur-sayuran di Pasar Pondok Indah.  

Saya ke pasar swalayan untuk membeli barang yang tidak ada di pasar tradisional, misalnya daging untuk sukiyaki, pengharum mobil, atau pembasuh rambut merek tertentu. Oh iya, beli beras juga di pasar swalayan atau di Toko Haji Udin dekat rumah.  

Ketika isu beras plastik muncul, bahkan sesudah isu itu dibantah, saya masih memikirkan soal apakah makanan yang saya beli di pasar maupun di pasar swalayan, sepenuhnya aman. Saya merasa sedikit tenang karena saya selalu membeli beras, selalu beli yang dalam kemasan. Begitu juga gula pasir. 

Masalahnya, apakah beras dan gula pasir dalam kemasan yang saya beli juga aman dikonsumsi? Bagaimana dengan isu merembesnya gula rafinasi ke pasar konsumen?

Apakah membeli beras dan gula di pasar swalayan lebih aman ketimbang beli beras dan gula curah di pasar tradisional? Sepintas, nampaknya pasar swalayan memiliki keunggulan karena ada proses quality control atas produk yang dijual. Ini yang tidak kita temui di pasar tradisional. Jadi, dalam proses belanja di pasar tradisional kita mengandalkan “kepercayaan” kepada penjual.

Masalahnya, dalam hidup, kita juga temukan banyak kasus. Terlalu percaya membawa celaka dan kecewa berkepanjangan.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, ketika saya kontak pekan lalu, mengatakan akan menerjunkan aparat kementerian untuk memastikan bahwa produk yang dijual di pasar tradisional tidak kalah “safety” ketimbang produk di pasar swalayan modern. “Revitalisasi pasar tradisional akan kita arahkan termasuk ke fungsi pasar sebagai penyedia pangan sehat dan aman, serta terjangkau harganya,” kata Rachmat.

Hari-hari ini, saya sedang memikirkan “keamanan pangan”. Karena isu food safety tak kalah penting dibandingkan dengan food security. Yang kedua menyangkut ketersediaan pangan dalam jumlah cukup dan harga terjangkau.

Keamanan pangan menuntut kesadaran yang literasi yang lebih besar dari kita, konsumen, secara individual. Peran pemerintah, dalam hal ini Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), ada dalam cek awal sebelum memberikan label. Tapi, berapa banyak sih yang dijadikan sampel pelabelan?

Belum lagi dengan sinyalemen yang dilontarkan oleh pakar pertanian seperti Profesor Bustanul Arifin saat diskusi “Beras Plastik, Beras Oplosan dan Diversifikasi Pangan” yang diadakan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia beberapa waktu lalu. Bisa saja beras kualitas buruk, termasuk yang dibagikan untuk rakyat miskin, dipoles dengan bahan kimia tertentu untuk menghasilkan beras yang “kinclong” mengkilap, seolah beras berkualitas tinggi. 

Siapa yang mengecek hal seperti ini?  Produk yang dipoles bahan kimia untuk membuatnya lebih menarik?

Di Amerika Serikat isu keamanan pangan ketemu panggung besar: laga antara produsen pangan organik dengan produser pangan transgenik, atau yang menggunakan benih hasil modifikasi genetik (GMO). Ribuan dolar dibelanjakan untuk kampanye kedua belah pihak, baik melalui media, media sosial, sampai membentuk komunitas.  

Produsen pangan organik yang isinya para petani, mendapatkan keuntungan citra karena pangan organik dianggap lebih aman, bebas dari unsur kimia baik dalam benih maupun pemupukan. Produsen pangan transgenik dilekatkan dengan unsur raksasa korporasi. Keduanya pada ujungnya berebut bisnis yang lukratif.

Seorang pedagang buah di pasar tradisional. Foto oleh Adi Weda/EPA

Seorang pedagang buah di pasar tradisional.

Foto oleh Adi Weda/EPA

Tahun lalu Nutrition Business Journal mencatat nilai penjualan makanan organik di AS mencapai USD 35 miliar. Makanan organik tersedia di lebih dari 20.000 outlet makanan alami di seluruh AS, dijual di 3 dari 4 toko makanan. Untuk makanan transgenik, saya menemukan data penjualan USD 70 iliar pada 2009. Jumlahnya dipastikan meningkat setiap tahun seiring dengan kian banyaknya temuan inovasi bioteknologi terkait pangan.

Dalam “perang” keamanan pangan ini, semua pihak bisa menjadi sumber ketakutan akan pangan (food for fears). Mulai dari grup pencinta lingkungan, jurnalis dan kolumnis makanan, blogger dan aktivis, selebriti dan bintang film, sampai juru masak terkenal, pula komunitas sains dan kesehatan. Ya, banyak bintang film Hollywood yang menerbitkan buku resep masakan dan mengampanyekan makanan organik.

Di pihak lain, ada juga situs yang menyediakan forum untuk diskusi terkait dengan makanan GMO, salah satunya adalah yang didirikan Kevin Folta, professor sains yang belakangan menekuni soal pangan transgenik ini. 

Saya bertemu Kevin Folta dalam Biotech Literacy Project di Universitas California Davis pekan ini.

Yang terjadi di negara maju dengan literasi konsumen yang tinggi seperti di AS, bukan sekedar mengecek label tanggal kadaluarsa dan kandungan isi, melainkan juga bagaimana pangan tersebut diproduksi sejak awal, saat ditanam atau diternakkan. Ini yang kemudian menjadi lahan “perang makanan” antara produsen organik dengan produkses GMO alias transgenik yang melibatkan semua saluran kampanye media. Perang bisa berujung di proses hukum, sebagaimana saya tulis saat membicarakan isu pangan transgenik.

Biasanya, kita peduli akan kualitas dan keamanan pangan saat memiliki bayi atau anak di bawah lima tahun. Kita ingin memastikan agar bayi dan anak-anak saat kecil hanya mengkonsumsi makanan yang sehat dan aman. Ketika mereka beranjak remaja dan mulai mengkonsumsi makanan cepat saji, kesadaran akan keamanan pangan itu pudar. Ini terjadi di kalangan kelas menengah di mana saja.  Baik di AS, juga di Indonesia. Kalau Anda nggak setuju dengan observasi saya, silakan sampaikan pendapat.

Jujur saja, saya mengalami hal yang sama. Begitu peduli akan keamanan pangan saat anak saya masih kecil, dan lantas menjadi jauh lebih longgar saat dia memasuki usia belasan tahun. Ini semacam guilty feeling bagi seorang ibu yang merasa bersalah karena meninggalkan anaknya untuk bekerja di luar rumah setiap hari, lantas mengiyakan semua permintaan anaknya, termasuk soal makanan.  Apakah ada ibu atau ayah yang mengalami hal yang sama dengan saya?

Kalimat “You are what you eat (Anda adalah apa yang Anda makan)” menemukan realitasnya dalam diskusi terkait keamanan pangan. Cerdas mengonsumsi makanan adalah perlawanan terhadap membanjirnya “makanan sampah”, alias jenis makanan yang dianggap bernutrisi rendah dan mengandung lemak jahat. Makanan tidak lagi dicari yang semata enak, melainkan juga yang sehat, bahkan menjadi makanan obat. Perubahan tren memacu produsen makanan melakukan inovasi.

Industri makanan punya kepentingan untuk tetap eksis dengan mencari beragam bentuk inovasi termasuk melalui proses bioteknologi pangan. Dalam konteks budidaya, aplikasinya adalah transgenik alias GMO. Dalam konteks produk makanan siap saji, yang berkembang adalah makanan yang diproduksi dengan nutrisi kesehatan.  

Sebagai konsumen, posisi kita adalah “cerdas memilih”. Literasi makanan penting.—Rappler.com

Uni Lubis adalah mantan pemimpin redaksi ANTV. Follow Twitter-nya@unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.