Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Prestasi Indonesia di SEA Games 2015: Kegagalan yang sudah diprediksi

JAKARTA, Indonesia — SEA Games 2015 Singapura resmi ditutup pada Selasa, 16 Juni 2015. Hingga semua cabang olahraga dilombakan, Indonesia hanya mampu meraih 47 medali emas, 61 medali perak, dan 74 medali perunggu.

Hasil tersebut membuat Merah Putih harus puas di posisi kelima di bawah Thailand sebagai juara umum, diikuti tuan rumah Singapura sebagai runner-up, kemudian Vietnam, dan Malaysia. 

Hasil ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah partisipasi Indonesia di SEA Games. Sejak diadakan pada 1977, baru kali ini Indonesia melorot ke peringkat kelima dengan hanya 47 medali emas.

Pada 2005, Merah Putih memang terjerembab di peringkat yang sama tapi dengan koleksi medali emas lebih banyak. Rinciannya, 50 medali emas, 79 medali perak, dan 89 medali perunggu. 

Koleksi emas Indonesia berada pada titik terendah saat SEA Games 2009 dengan 43 medali, namun bertengger di posisi ketiga.

Rappler sudah memprediksi hasil ini sebelum ajang bergengsi ini dimulai. (BACA: Target tak realistis Merah Putih di SEA Games 2015)

Ketua Kontingen SEA Games 2015 Taufik Hidayat mengakui hasil buruk tersebut. “Hasilnya memang seperti ini. Saya percaya semua atlet yang turun sudah berbuat maksimal. Saya akan bertanggung jawab dan melaporkan hasilnya ke KOI, KONI, maupun pemerintah,” kata Taufik, Selasa, seperti dikutip Okezone.com.

Taufik menyebut persoalan utama adalah program pembinaan yang tak pernah jangka panjang. Indonesia selalu terkendala anggaran dan pembinaan yang hanya mengejar target instan. Padahal, menurut dia, pembinaan sudah harus berpikir prestasi jauh sebelumnya. Misalnya, program Asian Games 2018 sudah harus dimulai saat ini. “Itu belum termasuk masalah sarana dan prasarana,” kata Taufik.

Di SEA Games 2015, beberapa cabang olahraga menjadi penyelamat muka Indonesia. Cabang olahraga dayung yang mempunyai tiga disiplin seperti kano/kayak, rowing dan perahu naga menjadi penyumbang emas terbanyak dengan 13 medali emas.

Kekalahan paling menyesakkan mungkin datang dari cabang olahraga yang dibantai 0-5 berturut oleh Thailand di semifinal dan Vietnam di perebutan juara ketiga.

Hasil itu membuat target pemerintah tak hanya meleset, tapi menyimpang jauh. Pemerintah sebelum ajang tersebut digelar menyatakan bahwa mereka mengincar posisi runner-up dengan raihan 76 medali emas. 

Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo sudah sesumbar sebelum ajang dua tahunan negara-negara ASEAN tersebut digelar. “Kami berusaha keras untuk bisa menjadi juara. Tapi kalau hitung-hitungan, setidaknya bisa bersaing di runner-up,” kata Rita, 4 Juni 2015.

Tanda-tanda prestasi jeblok Indonesia tak hanya dari persiapan yang amburadul, tapi juga penentuan target. Pernyataan Rita tersebut tak diamini Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Suwarno. Mantan Pangdam V Brawijaya tersebut menyebut target realistis adalah 46-54 medali emas. “76 medali emas tidak realistis,” kata Suwarno saat itu. –Rappler.com