Kementerian Perhubungan desak AirAsia tambah modal

JAKARTA, Indonesia — Maskapai penerbangan AirAsia bisa jadi harus menghentikan operasinya di Indonesia. Ini akan terjadi jika mereka tak bisa memenuhi permintaan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk melakukan penambahan modal.  

AirAsia termasuk ke dalam salah satu dari 13 maskapai penerbangan yang diminta oleh Kemenhub untuk melakukan hal ini pasca laporan keuangan mereka menunjukkan nilai ekuitas yang negatif

Jika sampai sampai tanggal 31 Juli 2015 penambahan modal tidak bisa dilakukan sehingga nilai ekuitas tetap negatif, Kementerian Perhubungan akan mengevaluasi bisnis dari ke-13 maskapai ini.

Apakah proses evaluasi ini dapat berujung pada pencabutan izin operasi?

Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Angkutan Udara Kemenhub Muhammad Alwi pernah mengungkapkan bahwa kemungkinan tersebut memang ada.

“Kalau sudah dicabut izin usahanya, maka semuanya usahanya di-drop, sudah tidak bisa apa-apa lagi,” kata Alwi sebagaimana dikutip oleh media.

Namun belakangan, pihak Kemenhub membantah bahwa proses evaluasi akan serta merta berujung pada pencabutan izin operasi. Kemenhub justru siap mendukung maskapai-maskapai ini untuk menyehatkan kondisi keuangannya. 

"Ekuitas negatif ini akan menimbulkan persoalan bagi perusahan itu sendiri. Jadi kita tanya apa rencana mereka, kita bantu," kata juru bicara Kemenhub J.A. Barata kepada Rappler, Kamis, 8 Juli.

Sebelumnya, sesuai amanat Undang-Undang No. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, perusahaan pemegang izin penerbangan komersial di Indonesia telah menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen kepada Kemenhub.

Tentang nilai ekuitas

Dalam akuntansi, ekuitas sama dengan aset dikurangi beban.

Jika kamu memiliki sebuah warung tegal, maka nilai ekuitas warungmu adalah seluruh aset yang kamu miliki, mulai bangunan warung hingga uang tunai hasil berjualan dikurangi beban yang harus kamu keluarkan dalam menjalankan usaha, mulai gaji penjaga warung hingga tagihan listrik.

Nilai ekuitas yang negatif menunjukkan bahwa terdapat potensi kerugian dalam usaha warung milikmu.

Pandangan konsumen

Menyambut langkah Kemenhub, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI) memberikan apresiasi positif dan menganggap hal ini merupakan bagian dari upaya untuk melindungi konsumen jasa transportasi udara di tanah air. 

"Kecukupan modal berkorelasi langsung dengan aspek pelayanan bahkan keselamatan penerbangan maskapai. Pada titik tertentu ketika maskapai sudah tidak mampu, ya mau tidak mau Kemenhub perlu mengevaluasi," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Kamis. —Rappler.com