Keureuto: Bendungan terbesar di Aceh yang diklaim bisa atasi banjir

 

JAKARTA, Indonesia —Presiden Joko "Jokowi" Widodo dijadwalkan akan meresmikan bendungan Keureuto di Aceh hari ini, Senin, 9 Maret 2015. Tak tanggung-tanggung, peresmian tersebut juga dihadiri Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto.

Presiden Jokowi menyebut, bendungan ini sangat penting buat warga Aceh. “Saya perlu datang sendiri dan ini juga bendungan yang sangat diperlukan di Aceh,” katanya pada wartawan di Istana, sebelum bertolak ke Aceh, Minggu, 8 Maret 2015. 

Seperti apa mega proyek bendungan tersebut? 

Keberadaan Krueng (sungai) Keureuto di Kabupaten Aceh Utara disebut sebagai penyebab utama terjadinya banjir di Ibu Kota Lhoksukon dan sekitarnya. 

Krueng Keureuto merupakan ibu dari 6 anak sungai di Aceh Utara. Sungai yang mempunyai luas daerah tangkapan air ± 916 km2 dengan trase sungai yang panjang dan melebar, menerima kiriman air dari 6 anak sungai tersebut. Antara lain Krueng Pirak, Krueng Ceku, Krueng Aluleuhop, Krueng Kreh, Krueng Peuto dan Krueng Aluganto.

Pada 1 Desember 2012 lalu, puluhan desa di Aceh Utara terendam banjir, akibat derasnya hujan yang mengguyur wilayah tersebut. Ratusan warga yang rumahnya terendam pun mengungsi. 

Hujan lebat yang melanda Aceh Utara itu menyebabkan beberapa sungai sungai (krueng) meluap, diantaranya Krueng Pase, Krueng Pirak dan Krueng Keureuto. Ketinggian air berbeda-beda di sejumlah kawasan, diperkirakan mulai dari selutut orang dewasa hingga mencapai satu meter lebih. 

Pemerintah bermaksud membangun Bendungan tersebut, karena dianggap sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan banjir tahunan yang pasti terjadi, terutama di Kota Lhoksukon dan sekitarnya.

Target pemerintah dengan dibangunnya bendungan ini adalah, untuk menyediakan tampungan khusus banjir sebesar 30,50 juta m3 yang mampu meredam dan mereduksi debit banjir sampai 50 tahun, saat Krueng Keureuto tak bisa menampungnya lagi. 

Bendungan Kreung Keureuto akan memiliki kapasitas 167 juta kubik, dengan genangan seluas 900 hektar.

Dengan potensi bendungan tersebut, diperkirakan waduk terbesar di Sumatra ini bisa menjadi hidro power Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang bisa menghasilkan 7 mega watt (MW), dan ini mencukupi  aliran listrik cukup untuk Aceh Utara.

Waduk Krueng Keureutoe juga direncanakan menampung air irigasi Alue Bay 4.438 hektar, dan menambahkan suplai air irigasi di sekitar Krueng Pase.

Bendungan Krueng Keureutoe juga bisa menjadi penyedia air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Pase karena memiliki kapasitas air 167 juta kubik, dengan genangan 900 hektar tadi. 

Untuk perencanaan awal, pembangunan bendungan ini telah menghabiskan dana Rp12 miliar. Pembangunan fisik bendungan pada tahun 2013 membutuhan dana Rp1,025 triliun. 

Dana pembangunan itu merupakan bagian dari proyek pembangunan bendungan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kementerian memiliki rencana membangun 13 bendungan di beberapa wilayah dengan total anggaran Rp11,72 triliun. 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan, pekerjaan pembangunan Bendungan Keureuto dilaksanakan dengan anggaran multiyears 2015-2019. Bendungan tersebut akan menjadi bendungan terbesar di Sumatera.

Pusat transmigrasi lokal 

Selain untuk menanggulangi banjir dan memberikan pasokan air untuk lahan dan air bersih, Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib berencana akan membuat program transmigrasi lokal di sekitar bendungan ini. 

"Saudara-saudara kita yang kesulitan hidup bisa diajak kemari untuk memulai hidup baru. Mereka akan kami bantu lahan, bibit dan biaya hidup selama tiga bulan," katanya. 

Jumlah penduduk yang bisa ditampung dalam program awal transmigrasi tersebut diperkirakan sekitar 3000 jiwa. —dengan laporan dari ATA/Rappler.com