Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Kiriman peti mati untuk Kedutaan Besar Australia

JAKARTA, Indonesia — Dua buah peti jenazah tiba di Kedutaan Besar Australia, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, diantar mobil milik PT Pos Indonesia pukul 12 siang tadi, Senin, 9 Maret 2015. Tertulis di peti itu, nama pengirim Bambang Saptono. 

Bambang, seperti tertulis di peti tersebut, berasal dari Solo, Jawa Tengah. Tak disebut, siapa Bambang dan apa profesinya? Lalu apa kepentingannya mengirim peti jenazah ke Kedutaan? 

Membawa peti itu tak susah, yang lebih susah bagi petugas pos adalah mencari tahu siapa yang akan menerima peti jenazah tersebut. 

Berdasarkan kesaksian Rappler Indonesia, petugas pos meminta izin agar peti tersebut diterima pihak kedutaan besar. Petugas pengamanan pun menyampaikan maksud tersebut pada pegawai kedutaan. 

Tapi mereka ditolak. Pihak Kedutaan mengatakan, tak merasa memesan peti tersebut, atau mengenal orang bernama Bambang Saptono. 

Tak urung menemui tuan pemilik peti, petugas kantor pos langsung kembali ke kantor. Tentunya membawa kedua peti jenazah tersebut. 

Peti jenazah dan protes Australia atas hukuman mati warganya

Entah kebetulan atau tidak, kedatangan peti tersebut bisa saja dikaitkan dengan hubungan Indonesia yang sedang panas dingin saat ini. (BACA: Hubungan benci dan cinta Indonesia-Australia)

Pasalnya 2 terpidana mati kasus narkoba asal Australia, Myuran Sukumuran dan Andrew Chan, sedang menunggu keputusan Pemerintah Indonesia untuk mengampuni keduanya. Mereka sebelumnya dijatuhi hukuman mati pada 2005 karena menyelundupkan 8,2 kilogram heroin. (BACA: WNI penyelundup heroin di Australia bisa dapat pembebasan bersyarat)

Tapi, Presiden Joko "Jokowi" Widodo tampaknya tak lunak soal hukuman mati itu. Meski Perdana Menteri Tony Abbott sudah meneleponnya secara langsung, untuk memikirkan kembali keputusan hukuman mati tersebut. (BACA: Australia says executing Bali 9 pair will be 'grave injustice'). 

Seiring dengan keputusan Presiden Jokowi tentang keputusan hukuman mati, sebagian besar warga Indonesia juga ikut mendukung. Mereka bahkan meminta Australia untuk menghormati keputusan Indonesia. 

Sebagian lagi bahkan bereaksi keras terhadap pernyataan Abbott yang mengingatkan Indonesia akan bantuan tsunami di Aceh 10 tahun lalu. Maka, warga Indonesia yang di Aceh pun sepakat mengumpulkan koin untuk Australia. (BACA: Warga Aceh galang koin untuk Australia

Nah, apakah peti jenazah ini dikirim terkait perdebatan hukuman mati antara Australia dan Indonesia? Mungkin hanya Bambang Saptono yang tahu. —Rappler.com