Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti

"Siapa yang ingin jadi orang tua tunggal? Siapa yang ingin gagal dalam kehidupan dua kali perkawinan?  Mengapa media lebih suka menyoroti kehidupan pribadi saya? Tato saya? Kebiasaan merokok? Saya pernah menikah dengan orang asing? Utang bank? Tahu nggak, bahwa aset saya, pesawat-pesawat, dan pabrik itu lebih besar nilainya?”

Rentetan pertanyaan itu meluncur dari bibir Susi Pudjiastuti, Kamis (30/10) pagi, begitu melihat saya muncul di pintu kamar istirahatnya. Mbak Susi, begitu saya biasa memanggilnya, merujuk kepada gencarnya pemberitaan media yang menguliti kehidupan pribadinya. Kebiasaannya merokok. Media memuat foto dan gambar Mbak Susi duduk bersimpuh di salah satu sudut halaman belakang Istana Merdeka usai pengumuman Kabinet Kerja oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Minggu sore (26/10). Menteri Susi duduk melepas lelah seraya melepas sepatu berhak. Ia tampak lelah dan mengisap sebatang rokok. Sontak, foto ini menjadi diskusi di saluran media sosial. Terjadi pro-kontra, apakah pantas seorang pejabat publik merokok di depan umum?

Rabu pagi (29/10) pukul 07:00 WIB, Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kabinet Presiden Jokowi itu tiba di kantor KKP, di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Dia menggunakan mobil menteri, sedan Toyota Camry dengan nomor polisi B 39. Saya menemuinya pagi itu di ruangan tempat istirahat, di belakang ruang kerja menteri di lantai 7 Gedung KKP. Tim perias dari sebuah salon terkemuka tengah memasangkan sanggul. Pukul 10:30 WIB, Mbak Susi menjalani acara serah terima jabatan dengan pendahulunya, politisi Partai Golkar, Sharif Cicip Sutardjo.

Sebelum acara sertijab, pukul 8:00 WIB, dia menerima wawancara tim ANTV di ruangan tamu di lantai 7 gedung KKP. Pukul 09:00 WIB, Mbak Susi turun ke lobi. Puluhan wartawan sudah menunggu sejak pagi. Kru Metro TV memandunya untuk melakukan siaran langsung. Disela-sela dua wawancara TV dia menjalani sesi pemotretan resmi untuk dokumentasi kementerian. Mbak Susi harus berganti baju hingga tiga kali. Dia sempat mengaduk-aduk koper kecil mencari kerudung saat staf KKP memintanya berfoto dengan kerudung. “Tolong pinjamkan dari karyawan,” kata Bu Susi, demikian sebutannya di lingkungan KKP. 

Mbak Susi tak mau dipanggil “Ibu Menteri”. “Kalau dipanggil Ibu Menteri, saya nggak nengok. Kalau Ibu Susi, pasti nengok,” ujarnya. Staf KKP menginformasikan bahwa dia juga harus menggunakan baju batik untuk sesi pemotretan terakhir. Mbak Susi membuka lemari, lagi-lagi membongkar koper. Nihil. “Duh, aku nggak punya baju batik,” keluhnya. 

Saya menggodanya, “Perlu menelpon Obin?”

Dia menjawab, “Eh, iya, kapan itu Obin janjian mau ketemu aku, lho.” 

Obin adalah nama perancang terkemuka yang dikenal dengan tenun kualitas tinggi, termasuk batik. Sesi pemotretan dengan baju batik ditunda.

Ketika menghadiri pelantikan sebagai menteri di Kabinet Presiden Jokowi, Mbak Susi tampil feminin,menggunakan kebaya. Satu-satunya menteri perempuan yang berkebaya. Tujuh menteri perempuan lain menggunakan blus batik. Mbak Susi ke Istana ditemani Solichin GP, mantan Gubernur Jawa Barat. Sebelum masa pensiunnya, Mang Ihin, panggilan akrabnya, menjabat sekretaris pengendalian logistik dan pembangunan di kantor Presiden Soeharto.

Ketika bersiap-siap menuju ke Istana, di ruang yang disewa Mbak Susi di Hotel Grand Hyatt, Mang Ihin sempat mengingatkan, “Kamu itu jangan merokok. Saya tuh sudah perhatikan, orang yang merokok itu matinya susah. Pakai sakit.”   

Mbak Susi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum melihat Mang Ihin, sosok yang dianggapnya sebagai senior, kawan baik, dan yang dituakan. Kata Mang Ihin, “Ketika Susi ini mulai merintis usahanya, dia sering saya marah-marahi. Tapi mungkin karena itu, dia malah jadi menteri. Dan saya sekarang mendapat kehormatan untuk mendampinginya ke Istana.” 

Seorang teman saya berkomentar di Facebook, dia kesulitan menjawab pertanyaan anaknya yang baru berumur 10 tahun, ketika melihat berita TV soal Menteri Susi merokok. Saya sampaikan ini ke Mbak Susi. Tanggapan dia, “Smoke is not good. I’ve tried to quit. But not easy. I will try. But, I’ve asked media not to publish that picture.”   

Mbak Susi menceritakan suasana sore itu, usai pengumuman Kabinet Jokowi. Begitu Presiden meninggalkan lokasi dan mempersilakan media mewawancarai menteri-menterinya, dia salah satu yang diserbu banyak wartawan. Sejak dua hari sebelumnya wartawan sudah memburu Mbak Susi setelah namanya muncul dalam daftar yang beredar di masyarakat.

Diburu wartawan, meladeni pertanyaan itu melelahkan. Apalagi para menteri harus berada di Istana dua-tiga jam sebelum pengumuman. Sejak dipanggil Jokowi, Kamis (23/10), jadwalnya kian padat. Mbak Susi harus menyiapkan perusahaan yang selama ini diurus detil, sebagai direktur utama, untuk diserahkan pengelolaannya ke orang lain yang dia percayai. Presiden meminta semua menterinya berkonsetrasi penuh untuk kerja, kerja, dan kerja. Susi segera melepas jabatan di perusahaan yang meliputi bisnis aviasi, perikanan, sekolah pilot, dan survei udara.

“Sore itu rasanya, saya ini nggak pernah mimpi menjadi menteri. Jadi, sesudah pengumuman di istana, after that big moment, saya cuma ingin sendiri. Saya cari tempat agak mojok, di sudut. Lelah, ingin merokok. Beberapa media mengikuti. Saya sudah minta media jangan diambil gambar dong. Saya nggak mau kasih contoh merokok. Just give me a break. Sebentar. Jangan dimuat ya. Eh, dimuat. Rame kan. Media nakal-nakal ya?” keluh Susi.

“Mengapa yang dikorek-korek selalu masalah pribadi saya? Tolong disampaikan, media please help me, instead of bullying me, help me to do my job,” lanjutnya.

Tak tamat SMA

Meski tak menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), bahasa Inggris Mbak Susi bagus. Dia belajar bahasa asing dengan banyak membaca buku. Juga karena harus berkomunikasi dengan mantan suami yang warga negara asing, Daniel Kaiser. Dari pernikahan dengan Daniel Kaiser yang kini tinggal di Swiss, Mbak Susi dikaruniai seorang putri, Nadine Kaiser. Susi memiliki tiga anak dan satu cucu dari dua pernikahan. Daniel Kaiser mantan suaminya sengaja terbang dari Swiss untuk memberikan selamat kepada Mbak Susi yang diangkat menjadi menteri.

Bagaimana reaksi anak-anak mengetahui Ibunya menjadi menteri?  

My kids are proud to me. Cucu saya, si Arman, komentarnya, ‘Wow, Uti, you got a very significant job’. Significant? Bayangkan Mbak Uni, anak umur delapan tahun menggunakan kata-kata yang sophisticated. Hebat nggak?” tutur Mbak Susi. Matanya berbinar saat menceritakan anak dan cucunya.

I am a proud single Mom.”

Sejenak Mbak Susi berdiri mematut diri di depan cermin. Pasang sanggul dan rias wajah selesai. Dia nampak cantik dan anggun. Daniel Kaiser sang mantan suami berkomentar, “Kalau mau nampak cantik, Bu Susi bisa banget. Tapi sehari-hari dia tidak suka dandan”. 

Mbak Susi tertawa. Ya, sehari-hari dia memang tampil apa adanya. Baju koleksinya biasa saja. Beberapa kali saya menemuinya di bandara Halim Perdana Kusuma, di mana Susi Air punya konter dan kantor. Bos perusahaan penerbangan yang kini mengoperasikan 49 pesawat itu hanya menggunakan rok santai, kadang celana selutut. Rambut digelung dengan jepitan ke atas. Tanpa riasan. 

“Saya menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah terbaik. Sekolah itu penting. Yang nggak tamat sekolahnya seperti saya harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup,” kata Mbak Susi. Dia menanggapi cemooh sebagian orang yang menyoal mengapa Presiden Jokowi mengangkat seseorang yang tidak tamat SMA menjadi menterinya? Dua putra dan putri Mbak Susi sejak awal sekolah di sekolah internasional. Putra sulungnya sudah menikah dan memberinya seorang cucu.

Kisah hidup Mbak Susi adalah perjalanan panjang, 33 tahun perjuangan di dunia yang keras. Bergaul dengan nelayan, yang dalam struktur pertanian negeri ini adalah kalangan yang tergolong paling miskin. Perolehan untuk kehidupan bergantung kepada musim, modal, kemampuan pemasaran.  

Sejak sekolah, Mbak Susi dikenal tomboi. Dia menjalani dunia bisnis yang didominasi kaum lelaki pula. “Tidak ada pilihan. Dalam bisnis yang saya jalani, you have to be strong. Mentally and physically,” kata Mbak Susi. Dia menjaga pola makan dengan banyak mengkonsumsi buah.

Tsunami Aceh membawa kenangan

Lama saya tak kontak Mbak Susi. Kami pertama kali bertemu di Medan, tiga hari sesudah bencana tsunami di Aceh, 26 Desember 2004. Sehari sesudah tsunami, saya ikut pesawat pribadi Wakil Presiden Jusuf Kalla terbang ke Banda Aceh. Sampai di sana, rombongan kaget melihat pemandangan mengerikan dan menyedihkan. Dalam perjalanan dari bandara ke kantor Gubernur Aceh, kami berhenti di Lambaro. Ribuan mayat bergelimpangan. Jumlah yang lebih banyak lagi kami temui di Lapangan Blang Padang, tengah kota Banda Aceh. Seharian saya menyaksikan dan meliput bencana dengan jumlah korban terbesar dalam lima puluh tahun terakhir.

Malam hari itu, Senin (27/12), rombongan Pak JK mampir di Bandara Polonia, Medan, untuk melakukan rapat koordinasi pertama. Sambil menyaksikan rapat itu, saya mengirimkan pesan pendek ke sejumlah teman dan narasumber. Saya menceritakan suasana mencekam dan menyedihkan di Banda Aceh. Tak banyak yang tahu situasi di sana, karena sejak tsunami praktis jaringan listrik dan komunikasi rusak. Ibarat berada dalam ‘bunker’ komunikasi.

Begitu mendarat kembali di Medan, saya menelepon mengirim pesan pendek ke sejumlah kawan. Salah satunya pengusaha Arifin Panigoro, bos Medco. Mungkin Arifin yang meneruskan informasi ke Teten Masduki, koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Teten mengirimkan pesan itu ke Mbak Susi, yang rupanya banyak berkerjasama mendukung kegiatan ICW.

“Kalau kamu nggak kirim sms ke Teten, aku nggak tahu kondisi di Aceh saat itu seperti killing field,” kata Susi Kamis pagi. Spontan dia memeluk saya saat kami berfoto bersama.

Dalam percakapan ringan sambil menemaninya dirias, pengalaman tsunami menjadi salah satu bahan nostalgia. Saat mengirim informasi ke sejumlah orang, saat itu saya menceritakan betapa transportasi udara terputus. Bandara Sultan rusak karena gempa. Pesawat komersil tidak berani mendarat. Pesawat Pak JK mendarat tentu saja karena sadar risikonya. Untung punya sendiri. Saya cerita ribuan mayat. Puluhan ribu korban selamat kehilangan rumah dan harta benda. Mereka butuh makan dan minuman segera.   

Daerah seperti Meulaboh di Aceh Barat belum bisa diakses pada dua hari pertama. Mungkin informasi itu yang membuat Teten mengirimkan informasi ke Mbak Susi yang mengoperasikan penerbangan carter di bawah bendera Susi Air.

Segera setelah menerima pesan dari Teten, Susi mencoba kontak saya. Dia mendapatkan nomor saya dari suami saya, Iwan Qodar Himawan, saat itu pemimpin redaksi majalah mingguan Gatra. Mbak Susi dan Mas Iwan teman sekelas saat di SMA Negeri I di Yogyakarta. Saya pernah mewawancarai Mbak Susi di rumahnya yang luas di Pangandaran, Jawa Barat. 

“Mbak Uni, saya ingin menerbangkan pesawat saya ke Banda Aceh dan Meulaboh. Tapi, pesawat saya masih menyicil ke bank. Perusahaan asuransi di London tidak mau menanggung kalau terjadi apa-apa dengan pesawat ini. Saya perlu semacam dukungan surat dari pemerintah. Izin menerbangkan pesawat ke daerah yang tengah dalam bahaya,” kata Mbak Susi. 

Menteri Perhubungan saat itu dijabat Pak Hatta Rajasa. Jadi, saya menelpon Pak Hatta menceritakan problem Mbak Susi, dan keinginan kuatnya untuk membantu korban. “Jalan saja, sampaikan salam dan terima kasih saya ke Bu Susi. Saya akan support jika asuransi memerlukan surat itu,” begitu kira-kira jawaban Menhub Hatta Rajasa. 

Situasi memang darurat. Seingat saya ada komunikasi antara Mbak Susi dan Pak Hatta menindaklanjuti jaminan itu. Singkat cerita, pada hari Rabu, hari keempat setelah tsunami, pesawat Cessna Grand Caravans milik Susi Air mendarat di Banda Aceh. Selain membawa beberapa wartawan termasuk tim jaringan televisi CNN, Susi juga memenuhi pesawatnya dengan bantuan logistik bagi korban. The rest is history. Ketika CNN pertama kali mendarat di bumi Serambi Mekah, saat itu kondisi di Aceh tersebar ke seluruh dunia. Simpati dan bantuan mengalir.

Sepanjang 2005 Susi mengoperasikan dua pesawat Cessna yang baru dibelinya tahun 2004 itu untuk melayani kebutuhan pasca tsunami di Aceh. Dua pekan pertama semuanya gratis. Bahkan setelah masa bayar sewa yang dilakukan banyak lembaga publik, swasta maupun lembaga swadaya masyarakat asing yang terlibat masa tanggap darurat (emergency relief), Susi meminta agar selalu ada 2 kursi untuk wartawan yang ingin menjangkau daerah terpencil di kawasan terdampak bencana saat itu. 

“Saya tahu Bapak mencarter pesawat ini, tapi boleh ya ada kursi untuk wartawan? Makin banyak wartawan bisa mengakses lokasi bencana, makin banyak informasi yang kita dapatkan tentang di mana saja korban perlu bantuan,” kata Susi kepada penyewa. Saya mendengar ini saat tim Bank Indonesia menyewa pesawat untuk membawa bantuan ke Meulaboh. Banyak juga media yang mengirimkan tim peliputan melalui jalan darat dari Medan. Kalau membawa wartawan, Susi akan meminta pilot terbang lebih rendah agar kami bisa mengambil gambar lebih jelas. Dia meladeni sendiri para penumpang, termasuk membagikan snack dan minuman. Seperti pramugari. 

Saat itu saya bekerja sebagai wakil pemimpin redaksi di TV7, televisi yang bernaung di bawah grup media Kompas. Masa tanggap darurat minggu pertama, saya ditugasi mengkoordinasikan pengumpulan informasi untuk persiapan kegiatan dana kemanusiaan Kompas-TV7. Praktis, dalam tiga bulan pertama saya bolak-balik ke Banda Aceh dan Meulaboh. Kami menyewa rumah di Banda Aceh, mendirikan sekolah darurat bekerjasama dengan tim Butet Manurung, menyalurkan bantuan dari pemirsa dan pembaca.

Setiap kali transit di Medan menunggu penerbangan pulang ke Jakarta atau menuju Banda Aceh, saya membuat janji dengan Mbak Susi. Dia menyewa sebuah rumah di Medan sebagai base camp. Orangnya sangat praktis dan cepat bertindak. 

“Mbak Uni, yuk kita belanja makanan untuk dropping bantuan,” kata dia suatu hari, pekan kedua pasca tsunami. Kami pergi ke grosir Carrefour di kota Medan. Ada titipan uang bantuan untuk korban Aceh dari teman-temannya, juga dari orang yang membaca kiprah Susi dan Susi Air di media massa. 

Ditemani staf Susi Air, Mbak Susi memborong bahan makanan, minuman, mainan untuk anak, perlengkapan untuk perempuan sampai ember. Pegawai grosir membantu kami membawa barang-barang itu ke dua mobil yang sudah disiapkan untuk langsung ditata di pesawat. Kami terbang menuju Banda Aceh. Kali lain ke Meulaboh. 

Biasanya, sesampainya di lokasi dia akan turun langsung ke posko pengungsian. Mbak Susi akan masuk ke tenda-tenda membagikan makanan. Anak-anak pengungsi mendapat bonus mainan. Berminggu-minggu Mbak Susi melakukan itu. Kalau lelah, dia akan terbang ke Singapura menggunakan pesawatnya. Paling semalam. Lebih dekat jarak terbangnya ketimbang ke Jakarta. Minggu-minggu pasca tsunami Mbak Susi konsentrasi penuh mengoperasikan dua pesawatnya. Bisnis ekspor lobster di Pangandaran sementara dipercayakan kepada staf.

Dua pesawat pertama itu sebelumnya digunakan untuk mengangkut lobster dan produk laut lain dari Pangandaran ke daerah tujuan pemasaran. Setelah terlibat dalam tanggap darurat tsunami di Aceh dan Nias, Susi Air mulai melayani rute perintis ke Pulau Simeuleu, salah satu tempat terdekat ke episentrum gempa. Di sana dia melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan di Pangandaran. Membeli ikan tangkapan nelayan, sekaligus melayani transportasi rute perintis.

“Sesudah tsunami itu, saya agak lama tinggal di Medan. Pesawat fully booked untuk jalur ke Aceh. Akhir pekan saya dan anak-anak menikmati Pantai Simeuleu yang indah. Bakar ikan. Dirikan tenda. Nelayan di sana belum berani kembali melaut karena trauma. Saya datangkan 20 kapal penangkap ikan. Akhirnya bergabung 40-an nelayan, mereka kembali melaut. Hasil tangkapan saya beli. Mei 2005, secara resmi kami mulai melayani rute ke Pulau Simeuleu,” cerita Mbak Susi.

Pulau Simeuleu menjadi kisah menarik. Kendati berada di lokasi terdekat dengan pusat gempa berkekuatan 9,1 SR itu, korban jiwa relatif sedikit. Penduduk memiliki kearifan lokal, segera lari ke lokasi lebih tinggi saat terjadi gempa, untuk menghindari terjangan tsunami. Setelah Pangandaran, Pulau Simeuleu, bisnis perikanan Susi Pudjiastusi ASI berkembang pesat. Susi Air kini meladeni penerbangan ke dan dari 23 bases. Setiap hari ada 200-250 penerbangan yang dilakoni pesawat-pesawat Susi Air yang mayoritas dikemudikan pilot asing. 

Petuah Susi ke pilot asing

Sekitar pertengahan 2012, Mbak Susi mengajak saya berakhir pekan di Pangandaran. Dia ingin menunjukkan persiapan sekolah pilot, Susi Training Center. Detil mengenai sekolah ini bisa dibaca di tautan ini: Runway Aviation

Kami berangkat dari Halim Perdanakusuma. Mbak Susi membeli bekal makanan untuk perjalanan naik pesawat Piaggio 180 Avanti, pesawat turboprop eksekutif yang biasa dicarter para bos atau tokoh politik negeri ini. Dia memangku cucunya, Arman. Saya dan suami mengajak Darrel, putra kami untuk ikut. Sepanjang perjalanan kami ngobrol beragam isu. Dari urusan cucu, ekonomi, politik sampai pemerintahan SBY. Sikapnya kritis.

Ini bukan perjalanan liburan pertama bagi saya ke Pangandaran. Selalu menyenangkan menginap di rumah Mbak Susi, lalu bermain-main di pantai dan melihat proses pengemasan lobster dan ikan.

Kami mendarat di bandara Nusa Wiru, Pangandaran. Dari sana pindah ke helikopter untuk mendarat di bandara pribadi tak jauh dari rumah Mbak Susi. Pilot membantu menurunkan barang-barang, lantas membersihkan pesawat. Memandikan pesawat. Ini berlaku untuk semua pilot Susi Air.

Nyaris semua pekerjaan di Susi Air dilakukan dengan efisien. Tenaga terbatas. Saya ingat tahun-tahun pertama Susi Air, urusan administrasi termasuk pertiketan diladeni Mbak Susi dibantu Mas Gunandjar, manajernya. Sampai sekarang Mas Gunandjar masih bekerja di sana dan menjadi salah satu orang kepercayaan Mbak Susi. 

“Pilot asing itu mau mengerjakan semuanya. Melayani penumpang, membagikan konsumsi, membantu mengangkat barang-barang penumpang, sampai membersihkan pesawat. Paket all in. Kalau pilot lokal mana mau?” kata Mbak Susi. 

Ini menjawab pertanyaan mengapa Susi Air memilih menggunakan pilot asing ketimbang pilot lokal. Lagipula jumlah pilot di dalam negeri juga terbatas. Itu juga alasan Susi Air mendirikan Susi Training Center. 

Rumah Mbak Susi sangat luas. Ada rumah pribadi, tempat dia tinggal bersama keluarga. Kawasan ini memiliki beranda yang luas dengan penataan yang nyaman, dan pemandangan indah. Di beranda ini Mbak Susi biasa menerima tamu, melakukan rapat dengan staf, termasuk briefing dengan 100-an pilot yang berbasis di Jakarta. Ada kamar-kamar untuk mess para pilot yang bisa digunakan menginap para tamu. 

Putra pertama dan orang tuanya tinggal dekat dengan komplek rumah Mbak Susi. Ada bangunan besar tempat pengemasan lobster dan produk laut tangkapan nelayan. Lantas, saat kami berkunjung itu, ada bangunan baru untuk sekolah pilot. 

Mbak Susi sangat disiplin soal kerapian dan kebersihan rumah. Bangunan rumah pribadi dibuat hampir semuanya dari kayu, berwarna coklat tua. Saya masuk melihat sampai ke dalam kamar pribadinya. Bahkan kamar hotel bintang lima pun belum tentu serapih itu. Semua berwarna putih. Dari seprei, handuk, alas kaki. Semua tertata rapi. Di toilet dan kamar rias, handuk beragam ukuran dalam gulungan. Bersih. Nyaman. Tentu saja kamarnya berukuran besar. Di berbagai sudut halaman komplek rumah, ada tulisan: membuang sampah sembarangan, denda Rp 25.000. 

Penataan rapi menjalar ke semua bagian, termasuk di ruang makan dan ruang tamu. Pagi hari saat kami sarapan, meskipun makanannya sederhana dan dimasak sendiri oleh koki yang dipekerjakan di situ, makanan ditata rapi. Para pilot, staf, dan tamu makan bersama tuan rumah. Sesudah sarapan saya membaca buku, bersantai di sudut beranda luas. Menikmati suasana. Di sudut lainnya, Susi memimpin rapat dengan para pilot. Saya mengamati.

Sebagai bos, Susi sangat tegas. Suaranya yang berat, seperti suara laki-laki menambah efek tegas itu. Dia memimpin rapat, duduk di kursi, melipat kakinya. Gayanya rileks. Tapi perintah-perintahnya membuat para pilot menyimak serius. Sesekali dia mengisap rokok. Inti dari perintah Susi pagi itu adalah profesionalitas dalam bekerja. 

“Kalian orang asing, bekerja di Indonesia. Pahami budaya daerah di mana kalian bertugas. Hormati kultur dan kebiasaan lokal. Jaga nama baik perusahaan. Layani penumpang dengan baik,” petuahnya. 

Mbak Susi bahkan mengingatkan, “Kalau malam hari bersantai pergi ke bar, jangan sampai bikin perkara.”

Hari itu saya live-tweet kegiatan di rumah Mbak Susi. Banyak respon positif dan kagum. Usai rapat, Mbak Susi mengajak saya berkeliling melihat pabrik. Masuk ke pabrik pengemasan lobster kami harus menggunakan jas yang sudah disediakan, juga sepatu boots. Harus steril sesuai standar yang ditetapkan negara tujuan ekspor. Mbak Susi mengecek detil hasil pengemasan, juga di area pembersihan lobster dan ikan. 

Sesudah itu kami ke bangunan Susi Training Center. Ketika Mbak Susi masuk, semua pilot menyambut. Suasana rileks, tapi nampak respek yang besar. Diam-diam saya merasa bangga. Cerita orang Indonesia punya stigma inlander, nggak ada di sini. Justru perempuan Indonesia begitu berwibawa di depan orang asing. 

Kami menginap semalam. Minggu sore kembali ke jakarta bersama Mbak Susi. Dia membawa oleh-oleh. Di Bandara Halim, dia berikan oleh-oleh dari Pangandaran, kue-kue, untuk petugas di bandara. Mereka nampak akrab. Di situ seperti rumahnya juga. Lama dia berkantor di sana, sebelum kemudian memiliki sejumlah kantor di kawasan bisnis Jakarta.

Sejak liburan itu, saya tidak pernah kontak Mbak Susi lagi. Tapi mengikuti semua perkembangan bisnisnya dari cerita suami. Termasuk masalah berat yang dia alami saat pesawat Susi Air jatuh. Kisahnya bisa dibaca di sini: Pesawat Jatuh Lagi, Petaka Ketiga Susi Air.

 

Pagi hari sebelum menghadiri pengumuman menteri Kabinet Presiden Jokowi, Mbak Susi masih bertanya kepada dirinya. Apakah dia bisa beradaptasi dengan dunia birokrasi? Dengan dunia politik?  

“Saya ini tipe yang tidak bisa diatur-atur. Saya percaya dengan apa yang saya lakukan. Saya orang merdeka. Bahasanya, saya ini seringkali dianggap agak gila, setengah waras. Ini saya sampaikan saat bertemu Pak Jokowi. Beliau bilang, ‘Bu Susi, kita memang perlu orang-orang yang setengah waras dan gila kerja. Yang penting kerjanya bener. Makanya saya mempercayai Bu Susi’.”

Soal tanggapan sebagian publik yang kaget karena ada menteri yang tidak tamat sekolah menengah, Mbak Susi berujar, “Mbak Uni telpon Pak Sarwono Kusumaatmadja deh. Apa dia bilang? Susi nggak perlu tamat sekolah karena dia pekerja keras dan pintar. Kita-kita ini yang harus belajar dari dia.” 

Saya tidak perlu menelpon Pak Sarwono Kusumaatmadja, mantan Sekretaris Jenderal Golkar yang pernah menjadi Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara. Saya tahu ucapan Pak Sarwono benar. Profesor perikanan dan kelautan pun belum tentu bisa membangun bisnis seperti Mbak Susi. 

Selain Pak Sarwono, Mbak Susi berteman dengan banyak aktivis juga politisi. Sejumlah jendral juga saya tahu berteman baik dengan Mbak Susi. Dia seorang yang pandai membangun jejaring dengan semua kalangan. Ini pasti bermanfaat untuk Presiden Jokowi yang kurang memiliki dukungan di parlemen, dan tergolong “pendatang baru” di lingkungan elit politik. Saya tidak heran jika nanti dia memercayakan pengelolaan perusahaannya kepada salah satu dari mantan petinggi militer. Bisnis perikanan dan penerbangan yang dikelola Susi Pudjiastusi Group membutuhkan orang dengan disiplin kerja kuat. Sulit mencari yang seperti Mbak Susi, sang pendiri sekaligus chief executive officer (CEO).

Sebagai orang yang selama ini hands-on, praktis mengendalikan dan melakukan bisnis secara langsung, mengapa Susi mau menerima jabatan menteri?

“Saya menerima jabatan ini bukan karena ingin kaya, apalagi ingin populer. Saya sudah menggeluti bisnis perikanan selama 33 tahun. Mulai dari bawah. Saya tahu apa problemnya, kendalanya, saya pikir, saya bisa do something. Saya menghargai keberanian Pak Jokowi untuk mengangkat orang seperti saya, yang tidak tamat sekolah, untuk menjadi anggota kabinetnya. Saya dan Pak Jokowi ada persamaan karakter. Kami tidak suka hal yang normatif. Kami maunya kerja. Komitmen penuh pada tanggung jawab. Meskipun begitu, bukan berarti saya merasa paling tahu. Kementerian Kelautan dan Perikanan ini besar. Yang diurus banyak. Praktis salah satu core visi Pemerintahan Jokowi soal kemaritiman ada di kementerian ini. Besar tanggung jawabnya. Jadi, saya siap dan selalu mau untuk belajar.” 

Hari pertama berkantor di KKP, Mbak Susi melakukan sidak naik turun tangga. Sekarang dia menggunakan celana panjang sebagai busana kerja, menutupi tato di kaki. Tato yang keren sebenarnya. Tapi dia paham, ada sebagian masyarakat yang sulit menerima. Meskipun tato itu sudah ada di sana jauh sebelum Mbak Susi menerima jabatan menteri.

Sebagai bos di KKP, visi Menteri Susi adalah agar pemerintahan Jokowi bisa menyejahterakan nelayan dan masyarakat yang hidup di pesisir, nelayan laut lepas, nelayan yang bekerja di pembudidayaan. “Kita harus menjadi tuan rumah di laut kita sendiri. Tujuh puluh persen wilayah Indonesia itu laut. Kok ekspor hasil laut kita kalah dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia?”

Pemerintahan Jokowi, kata Menteri Susi, akan mengubah paradigma konsentrasi pembangunan yang selama ini fokus ke daratan. Lautan adalah sumber daya alam yang bisa diperbarui, renewable. Begitu juga sektor perikanan non-laut. Yang juga penting dijaga adalah bagaimana memanen hasil laut, penangkapan ikan, dilakukan secara terukur, tanpa mengeruk habis saat ini. “Sustainability dalam membangun ekonomi termasuk di kelautan dan perikanan sangat penting. Menjaga kelestarian lingkungan menjadi upaya simultan,” kata Susi.

Soal sustainability atau keberlanjutan ini juga mewarnai bagaimana visi Menteri Susi mengelola KKP. “Pak Cicip sudah mulai meletakkan dasar pengelolaan dengan sudut pandang korporasi. Karena latar belakang bisnis juga. Itu bagus, dalam artian kita ini harus bisa mempertanggungjawabkan, setiap biaya yang kita belanjakan, hasilnya berapa? Ukurannya menggunakan apa? Saya ingin mengelola kementerian dengan memasukkan aspek komersialisasi, dalam arti kita harus memberikan pemahaman aspek komersil dan bisnis ke nelayan. Tujuannya agar usaha yang dibangun nelayan kita berkelanjutan.”

Nelayan di Pangandaran menganggap Susi adalah pembeli hasil tangkapan dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran. Soalnya Susi menjualnya untuk pasar ekspor. 

Menteri Susi juga akan mencermati peraturan yang terkait dengan bisnis di bidang perikanan dan kelautan. Di Malaysia, pemerintahnya memberikan sejumlah insentif. Mulai dari status pionir bagi investor, masa 7-12 tahun bebas dari pajak, insentif untuk upaya re-investasi di sektor perikanan sampai bunga kredit perikanan yang lumayan murah, sekitar 3%. Di Indonesia, pengalaman Susi menunjukkan, registrasi untuk badan hukum perseroan terbatas perlu biaya. Mendapatkan izin prinsip biaya lagi. Membangun pabrik dikenai biaya Ijin Mendirikan Bangunan. Investasi kena Pajak penghasilan Pph 22, bunga kredit bank kisarannya 12-15%. “Kalau baru mendirikan usaha sudah dicekik dengan beragam biaya, bagaimana mau menarik investasi di perikanan? Tidak heran kita lebih suka impor. Jadi pedagang,” kata Susi. 

Ini belum lagi dengan beragam retribusi yang dikenakan ke nelayan. Menjual hasil tangkapan ke Koperasi Unit Desa pun kena retribusi. Ketika membeli juga kena retribusi. Jadi, belum sampai ke pasar, untuk diperjual-belikan bagi konsumen, nelayan sudah digantungi beragam biaya. “Kita perlu terobosan fiskal. Pak Jokowi sudah berpesan, jangan ada ego sektoral, karena untuk membuat terobosan di bidang kelautan dan perikanan kita perlu kerjasama antar instansi. Kita harus berani investasi baik dari segi peraturan maupun biaya agar dalam jangka menengah dan panjang bisnis perikanan menjadi bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Menarik sebagai lahan investasi.

“Saya akan terus-menerus mengingatkan perlunya memangkas biaya-biaya yang membebani investasi di perikanan dalam setiap rapat koordinasi. Kita inventarisir aturan yang selama ini menjadi penghalang, melemahkan,” ujar Susi. 

Dua hari pertama bekerja sebagai menteri, dia sudah menghadiri dua rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Kemaritiman dan menggelar rapat internal dengan pimpinan KKP. 

Susi merasa tak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan para eselon 1, yang sudah ditemunya dalam dua hari pertama. “I don’t feel inferior. Kita diskusinya terbuka. Tidak selalu akademis. Saya merasa eselon 1 menerima saya secara sejajar, we are equal. Ya, tentu saya siap belajar. Udah nggak sekolah, masa nggak mau belajar? Tapi saya punya pengalaman nyata. Mereka menghargai itu.”

Dia pernah berkunjung ke KKP saat dipimpin oleh Menteri Rokhmin Dahuri. “Auranya sekarang berbeda. Saya harap kita bisa bekerja keras siang dan malam untuk membangun kementerian ini dan menyejahterakan nelayan. Siap bekerja siang malam dengan saya?” ucapan Susi saat acara serah terima jabatan ini disambut senyum 1.000an karyawan yang memenuhi aula Gedung Mina Bahari 3, di belakang kantor KKP.

Sehari sebelumnya, media mengikuti gebrakan Susi yang ingin memajukan jam kerja di lingkungan KKP dari pukul 08:00 WIB menjadi pukul 07:00 WIB, sehingga karyawan bisa pulang lebih cepat, pukul 15:00 WIB. Alasan Susi, dengan berangkat lebih pagi dan pulang lebih siang, karyawan dapat menghindari kemacetan. Datang ke kantor lebih pagi dalam keadaan segar dan sore hari sudah di rumah untuk punya lebih banyak waktu untuk keluarga.

Saat sertijab, Susi sempat membagi informasi soal keadaan bisnisnya. Dua tahun terakhir, suasana kerjanya enak. “Semua profesional. Mereka bekerja keras, kerja lari cepat. Saya ingin di KKP juga begitu.”

Mungkin belum pernah acara sertijab di KKP begitu diminati oleh karyawan. “Kami memang diminta hadir, tapi saya juga penasaran. Punya menteri seru dan ngetop,” kata seorang karyawan KKP. 

Ratusan sengaja menunggu di depan pintu ruangan tempat Menteri Susi menerima mantan-mantan menteri dan Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo. Ketika memasuki ruangan aula, tepuk tangan meriah menggema. Karyawan sibuk memotret bos baru dengan beragam jenis telepon pintar. “Ini tumben karyawan perempuan banyak yang hadir. Jender ya?” goda mantan Menteri Cicip.

Tampil anggun dengan kebaya putih, kain dan setelan kain dan selendang warna hijau, Menteri Susi nampak anggun. Cantik. Di panggung bersama Cicip, gayanya lepas. Banyak tertawa dan bercanda. Puluhan kamera wartawan siaga mengabadikan setiap gerak tubuh dan ekspresi Menteri Susi. Media memburunya bak selebriti. “Minta tolong Pak Menko, buat tim agar saya nggak dimintai wawancara terus oleh media. Kapan saya kerja, kerja, kerja?” 

Tiga dekade lebih bekerja keras dari pedagang ikan di pasar, jatuh bangun dalam bisnis dan kehidupan pribadi membuat Susi selalu tampil tegar. Jabatan menteri yang tak pernah dia mimpikan itu, sebuah tahapan kehidupan baru yang tak kalah menantang baginya. Lima tahun ke depan yang berat, akan menjadi lahan pembuktian bagi pebisnis perempuan yang menginspirasi banyak orang. Kehadirannya memberi warna di Kabinet Jokowi. 

“Saya sudah bilang, kalau saya tidak nyaman karena banyak ditekan dan harus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani, saya akan tinggalkan posisi ini,” kata Susi.

Matanya berkaca-kaca saat menerima ucapan selamat dari pejabat, relasi dan kawan yang hadir kemarin. Perlahan air matanya makin deras mengalir. Dia memeluk erat satu persatu, termasuk mantan suaminya, Daniel Kaiser. “Kalian semua hebat, terima kasih selama ini sudah mendukung saya,” bisiknya sambil mengusap air mata dengan ujung selendang.

Berapa banyak yang justru mengatakan kepada dirinya, bahwa Susi Pudjiastuti adalah sosok perempuan hebat? —Rappler.com

Uni Lubis adalah mantan chief editor news and current affairs di ANTV. Follow Twitter-nya @unilubis

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di blog pribadinya di unilubis.com.