Korupsi bisa sebabkan Indonesia hilang dari peta dunia

JAKARTA, Indonesia — Korupsi di Indonesia dinilai telah merajalela dan dilakukan di berbagai tingkat. Pelakunya pun sangat beragam. 

“Dulu pelaku korupsi hanya laki-laki dan yang punya kuasa. Sekarang perempuan juga. Bahkan ada yang pelakunya ayah dan anak, mereka korupsi [pengadaan] Al Quran,” ujar wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, yang menjadi salah satu pembicara dalam sesi anti-korupsi di Festival Indonesian Youth Conference (IYC) 2014 di Jakarta, Sabtu (8/11).

Sesi anti-korupsi ini dimoderatori oleh Lia Toriana dari Transparency Internasional Indonesia (TII).

Dalam presentasinya, Bambang menampilkan film singkat dan memperdengarkan lagu-lagu anti-korupsi. Ia juga mengatakan, KPK melakukan suatu studi pemetaan masalah. Dari sana, ia mengetahui beberapa fakta menarik.

“Misalnya, sekarang saya tahu ada berapa mobil Lamborghini di Jakarta,” ujar Bambang, sambil menambahkan bahwa KPK juga mengetahui siapa saja pengusaha batubara di suatu provinsi.

Bahkan, KPK juga mengetahui Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) mereka yang masuk radar KPK dan apakah mereka sudah melakukan kewajibannya sebagai warga negara untuk membayar pajak.

Selain penindakan, KPK juga melakukan upaya pencegahan, yang dilakukan dengan penyebaran informasi melalui kanal televisi streaming dan radio.

KPK juga menggunakan jalur media sosial melalui akun di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook. Akun Twitter KPK adalah @KPK_RI dan sudah mempunyai satu juta pengikut. Sementara itu, laman komunitasnya di Facebook sudah mendapat lebih dari 875,000 likes.

Untuk mempermudah penyebaran materi anti-korupsi, Bambang mengatakan, KPK juga mempunyai modul e-learning anti-korupsi.

“Kalau kita tidak memberantas korupsi, Indonesia mungkin tidak ada lagi di peta dunia,” ujarnya.

Peran pemuda memberantas korupsi

Selain menjadi penegak hukum, sebagian pegiat anti-korupsi yang mendedikasikan dirinya menjadi aktifis anti-korupsi. Salah satunya adalah Almas Sjafrina dari Indonesia Corruption Watch (ICW). 

Anak muda berusia 23 tahun ini bergabung ke ICW karena ingin berkontribusi terhadap upaya pemberantasan korupsi.

Menurutnya, banyak yang bisa dilakukan oleh anak muda untuk partisipasi memberantas korupsi, misalnya dengan bersikap kritis terhadap anggaran sekolah mereka. 

“Yang bisa ditanyakan antara lain kenapa harga buku sekolah mahal, atau kenapa harus beli buku melalui sekolah,” ujar Almas, sambil menambahkan bahwa ICW sering mendapat masukan dari masyarakat tentang praktik korupsi. ICW pun mengolah masukan itu menjadi laporan ke KPK, yang pada akhirnya membongkar kasus korupsi tersebut.

Setelah Bambang dan Almas melakukan presentasi mereka, para peserta dibagi menjadi 10 kelompok dan masing-masing berdiskusi merumuskan pertanyaan yang akan diajukan ke Bambang.

Salah satu kelompok menanyakan kenapa anak muda harus percaya 100 persen pada KPK.

“Tidak perlu 100 persen percaya pada KPK. Lihat saja pada hasil kerja kami,” ujar Bambang. 

Kelompok lain menanyakan bagaimana cara menekan biaya politik yang tinggi. 

Bambang mengatakan, biaya politik tinggi karena calon politisi tidak mau investasi di masyarakat, dan memilih membeli kursi di partai politik sehingga biaya politiknya mahal. 

“Bila sudah investasi dan dikenal di masyarakat, tidak perlu lagi pasang banner berbiaya besar,” ujar Bambang. —Rappler.com