Lampu colok, tradisi Lebaran Bengkalis yang elok

BENGKALIS, Riau – Bengkalis termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia. Pulau di sisi timur Provinsi Riau ini berbatasan langsung dengan Malaysia. Dia menghadap ke Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. 

Berada di jalur internasional, pulau seluas sekitar 700 hektar dan terdiri dari dua kecamatan ini, terbuka pula pada aneka etnis dan budaya. Sehari-hari warga berdampingan tanpa sekat meskipun berbeda etnis maupun agama.  

Melayu, Tiongkok, Jawa, Padang, Batak, dan etnis lain hidup rukun. Begitu pula Islam, Konghucu, Buddha, maupun Katolik. Maka, masjid dan vihara berdiri berdekatan, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelum berkunjung ke pulau ini.

Kekayaan etnis budaya di Bengkalis, turut berpengaruh pula dalam tradisi saat Lebaran. Salah satunya tradisi lampu colok, lampu dari minyak tanah yang tersusun rapi menyerupai masjid. 

Gerbang lampu

Miniatur masjid berukuran puluhan meter ini menyambut saya dan keluarga ketika kami menyusuri jalan raya sekitar pukul 10 malam. Miniatur masjid itu tersusun dari ratusan atau bahkan ribuan lampu terbuat dari kaleng minuman ringan. Bahan bakarnya minyak tanah. Tiap lampu menjadi seperti titik yang terhubung satu sama lain dan membentuk gambar wujud tertentu. 

Kami di wilayah Kabupaten Siak, antara Pekanbaru, ibu kota Riau, dengan Pak Ning, pelabuhan menuju Pulau Bengkalis tiga hari lalu. 

Miniatur itu menjulang, berdiri semacam gerbang lampu, dengan jalan raya besar di bawahnya. Mau tak mau, kami pun lewat di bawahnya. Di antara gelap malam yang sebagian besar belum berisi lampu penerang jalan, kerlap-kerlip lampu itu menarik mata. Indah sekali. 

“Tradisi lampu colok sebenarnya dari Bengkalis,” kata Khusnul Wahid, kakak saya yang sudah tinggal di Bengkalis sejak belasan tahun silam. 

Benar saja. Begitu masuk Pulau Bengkalis, aneka bentuk lampu colok itu memang lebih banyak. Sayangnya, karena kami tiba sudah hampir tengah malam setelah sekitar 4 jam perjalanan dari Pekanbaru, sebagian lampu itu sudah mati. Akibatnya gambaran yang dibuat oleh titik-titik lampu colok tak lagi sempurna. 

Besok malamnya, dua hari menjelang Lebaran, kami berkeliling Bengkalis yang juga ibu kota Kabupaten Bengkalis. Puluhan lampu colok tersebar di kota ini.  

Salah satunya di RT 8 RW 4 Dusun 2, Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis. Kelompok pemuda setempat membuat lampu colok berukuran raksasa. Tinggi hingga 15 meter dengan lebar 20 meter. Berada di tepi atau bahkan melintang di atas jalan, lampu colok pun menarik mata orang-orang yang lewat. 

Pembuat lampu colok ini pada umumnya adalah anak-anak muda di kampung tersebut. Novriandi, koordinator pengurus pembuatan pesta lampu colok Dusun 2 mengatakan, lampu colok itu tersusun dari 3.300 lampu. Bentuknya serupa salah satu masjid di Malaysia. Satu bentuk masjid hanya bisa dipakai lima tahun sekali.  

“Kalau sudah dipakai sekarang berarti sampai lima tahun ke depan gambar itu tidak boleh sama,” kata mahasiswa Jurusan Komputer Akuntansi tersebut.

Kreativitas

Bagi anak-anak muda, lampu colok adalah bentuk kreativitas warga menjelang Lebaran. Foto oleh Anton Muhajir/Rappler

Bagi anak-anak muda, lampu colok adalah bentuk kreativitas warga menjelang Lebaran.

Foto oleh Anton Muhajir/Rappler

Menurut Novriandi, lampu colok kemungkinan besar dari kata lampu yang dicolok. Untuk menghidupkan, para anak muda memang menggunakan obor yang dicolokkan pada lampu tersebut.  

Agar lampu tetap menyala, ada pula anak-anak yang bertugas untuk menjaga. Begitu lampu mati, misal karena tiupan angin, si penjaga harus mencoloknya dengan api lain agar hidup kembali. 

“Kami bagi-bagi tugas. Ada yang berrtugas mengisi lampu, menghidupkan, dan menjaga agar lampu colok tetap menyala,” kata Maulana, pemuda di Dusun 1, desa yang sama. 

Bagi anak-anak muda seperti Novriandi dan Maulana, lampu colok adalah bentuk kreativitas warga menjelang Lebaran.  

Untuk menyiapkan, mereka rela mengeluarkan waktu, tenaga, dan jutaan uang. Novriandi menyebut, biaya pembuatan lampu colok bisa menghabiskan sekitar Rp 20 juta antara lain untuk membeli minyak tanah dan kayu rangka. 

Jumlah biaya itu belum termasuk biaya untuk makan ketika menyiapkan dan menunggu lampu colok selama menyala. 

Pembuatan lampu colok meliputi beberapa tahap. Pertama, pembuat akan mencari referensi masjid yang akan ditiru. “Kami biasanya cari dari Internet,” ujar Novri. Makin elok dan rumit gambaran miniatur, akan dianggap makin bergengsi. 

Setelah gambar referensi oke, tahap selanjutnya, pembuat akan membuat kerangka. Bahannya kayu dari hutan. Bengkalis memang relatif masih punya banyak hutan. Karena itu pula, bahan baku kayu dengan mudah diperoleh dari hutan. 

Kerangka miniatur raksasa ini kemudian didirikan di lokasi lampu colok. Umumnya, lokasi berada di pinggir jalan agar mudah dilihat orang-orang yang lewat. 

Tahap ketiga, pembuat akan memasang lampu-lampu colok. Umumnya, lampu ini terbuat dari kaleng bekas minuman ringan. Isinya minyak tanah dengan sumbu kain. Bekas kaleng ini jumlahnya hingga ribuan. Jika di Dusun 2 menghabiskan 3.300 kaleng, maka di dusun tetangganya, Dusun 1 “hanya” 1.300 kaleng. 

Tahap terakhir, menyalakan lampu-lampu colok tersebut. Mereka biasanya menghidupkan lampu colok pada tiga hari menjelang hingga sesudah Idulfitri. Begitu selesai Maghrib, mereka akan menyalakan lampu itu satu per satu. 

Karena itulah, waktu terbaik untuk menikmat lampu colok adalah selesai Maghrib hingga sekitar 2 jam kemudian. Saat itu semua lampu colok masih hidup sehingga gambaran pun masih sempurna. 

Lomba

Tak hanya memamerkan keindahan miniatur masjid dan kebersamaan warga, lampu colok adalah media untuk adu gengsi dan kegembiraan. 

Lampu colok memang dilombakan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Penjurian biasanya meliputi keindahan bentuk dan kekuatan lampu saat menyala. Hadiah utamanya uang Rp 10 juta untuk juara pertama.

Namun, bagi anak-anak muda di Bengkalis, perlombaan bukanlah tujuan utama. Hal terpenting bagi mereka adalah kegembiraan bersama. “Kalau bikin lampu colok menjelang hari raya, rasanya jadi lebih meriah,” kata Maulana.

Ketika para warga dan pelintas kota seperti saya menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu colok di Pulau Bengkalis, anak-anak SD maupun yang berumur belasan tahun asyik bermain api.  

Ada yang minum minyak tanah lalu menyemburkannya ke arah api di obor. Semburan api serupa semburan naga pun menyembur ke depan mereka. Di tempat lain ada pula anak-anak yang bermain bola api. 

Bagi anak-anak itu, lampu colok adalah keceriaan dan keberanian. —Rappler.com