Tragedi Hercules: “Bunda, Mas tidur dulu ya”

 

YOGYAKARTA, Indonesia — “Bunda, Mas tidur dulu ya,” tulis Lettu Pandu Setiawan kepada istrinya, Dewi Wulandari. 

Dewi yang baru menikah dua bulan itu tidak menyangka pesan lewat BBM tersebut menjadi percakapan terakhir mereka berdua. Pesan tersebut dikirim Pandu pukul 20.30 kepada Dewi sebelum dia bertolak dari Jakarta ke Medan dengan pesawat Hercules C-130. 

Dewi sempat membalas pesan itu. Sayang, suaminya tidak membalas.

Saat menerima pesan tersebut Dewi tidak memiliki firasat apa pun. Bahkan ketika suaminya tidak membalas pesan saat perjalanan dia menganggap itu hal biasa. Suaminya biasanya memberi kabar setelah sampai di tujuan lewat BBM atau pun telpon.

“Dia biasanya kalau sudah sampai kemudian memberi kabar,” kata Dewi di rumahnya Patukan, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Selasa 30 Juni 2015 malam. 

Dia pun beraktivitas seperti biasa. Siang itu dia berbelanja kebutuhan buka puasa di pasar. 

Belum selesai belanja, dia mendapat telepon dari ayahnya dan diminta untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, suasana sudah haru. Dia pun bertanya-tanya dan merasa bingung, sampai akhirnya sang ayah, Haryoto angkat bicara.

“Bapak memberitahu kalau Mas Pandu pesawatnya jatuh di Medan,” ujarnya. 

Semula dia tidak percaya. Setelah melihat berita di televisi tentang kecelakaan tersebut, dia langsung menangis sejadi-jadinya. Kerabatnya mencoba menenangkan, namun tangis Dewi tak terbendung.

“Saya kaget setengah mati, baru yakin setelah melihat televisi,” ungkapnya dengan raut wajah memerah.

Cinta dari SMA

Berita kecelakaan tersebut membawa duka yang mendalam bagi Dewi. Sebab, Pandu, sang copilot pesawat Hercules C-130 tersebut, baru saja mengucapkan janji sehidup semati di depan penghulu bersamanya pada 26 April 2015 lalu. Beberapa hari setelah pernikahan dilangsungkan, Pandu kembali ke Malang, tempatnya bertugas selama ini.

Ayah mertua Pandu mengatakan sejak pernikahan itu, sepasang suami istri tersebut menjalani  long distance relationship. Dua minggu sekali Dewi mengunjungi Pandu di Malang pada akhir pekan.

“Awal bulan puasa kemarin Dewi ke Malang, setelah itu belum bertemu lagi. Rencananya lebaran mau ke Yogya,” tuturnya. 

Dewi dan Pandu sendiri pertama kali bertemu saat mereka sama-sama duduk di bangku kelas 1 SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Benih-benih cinta di antara mereka sudah mulai tumbuh sejak saat itu. 

“Anaknya saya itu nangis terus sejak dapat kabar, kami sekeluarga sangat terpukul dengan kabar ini,” ucapnya.

Menungso mung ngunduh wohing pakarti

Di mata keluarga, Pandu adalah penyayang keluarga. Jika memiliki cuti atau waktu luang, dia selalu menggunakannya untuk berkumpul dengan keluarganya. Selain itu, dia juga dikenal sebagai lelaki bersahaja dan sopan.

“Dia periang, dan begitu mengutamakan keluarga, begitu sayang dengan keluarga,” ujar Dewi.

Hal yang paling disukai oleh Dewi yaitu sikap Pandu yang selalu optimis dan selalu berpikir positif. Itu salah satu yang membuat Dewi jatuh hati pada Pandu. 

Tidak hanya di mata keluarga, teman-teman Pandu pun merasakan melihat sosok Pandu sebagai seorang teman yang setia kawan dan disiplin. Saat sekolah, Pandu dikenal rajin dan tidak pernah absen dalam mengerjakan tugas. 

“Saya itu tahu dia rajin, sama teman-teman itu selalu ingat. Kita sering komunikasi lewat BBM,” kata Ari Setiawan, teman SMA Pandu.

Terakhir kali dia bertemu dengan Pandu pada 1 Mei 2015 lalu. Dia tidak menyangka jika itu menjadi pertemuan terakhir mereka.

“Ketemunya pas di rumahnya Pandu. Kalau komunikasi BBM saya lupa, tapi saya ingat dia buat status BBM-nya. ‘alhamdulillah menungso mung ngunduh wohing pakarti’ (hasil perbuatan baik seseorang akan didapat orang yang berbuat baik itu sendiri),” kata Ari.

Rencananya malam ini jenazah Pandu dan 7 orang korban lainnya akan diberangkatkan ke Yogyakarta. Jenazah mereka akan disambut dengan upacara militer di Lanud Adisucipto, Yogyakarta. — Rappler.com