Piala Kemerdekaan mulai 24 Juli, laga final 15 Agustus

JAKARTA, Indonesia — Rencana kompetisi yang digelar Tim Transisi mulai konkret. Tim Transisi menjanjikan kompetisi tersebut mulai digelar pada 24 Juli, dan final pada 15 Agustus 2015. 

Tommy Kurniawan, anggota Tim Transisi, mengatakan hanya 30 klub yang bisa mengikuti ajang ini. 

“Piala Kemerdekaan ini khusus untuk klub Divisi Utama. Nanti sistemnya akan dibagi per regional,” kata Tommy, Kamis 18 Juni 2015. 

Ada 5 region yang dibentuk. Pada masing-masing region akan dipilih satu kota sebagai tempat pelaksanaan home tournament.  Region Sumatera ditempatkan antara Kota Lampung atau Medan, Jawa Barat akan dipusatkan di Serang, Banten, sedangkan di Jawa Timur ditempatkan di Bangkalan, kemudian Bali di Kabupaten Badung, dan Jawa Tengah di Solo.

Laga final dan semifinal Piala Kemerdekaan baru digelar di Jakarta. Rencananya, laga puncak itu digelar pada 12 Agustus dan 15 Agustus 2015. 

Untuk memastikan kesiapan klub peserta agar segera mengumpulkan tim, Tommy akan segera mengirimkan pemberitahuan ke klub-klub. “Pekan-pekan ini akan kami sebar,” kata Tommy. 

Siapkan perangkat pertandingan

Tim Transisi tak hanya menyiapkan jadwal dan format turnamen Piala Kemerdekaan. Mereka juga harus menyiapkan perangkat pertandingan. Total kebutuhan pertandingan adalah 20 wasit dan 40 asisten wasit.

Tommy mengklaim sudah ada dukungan dari perangkat pertandingan yang siap memimpin turnamen. 

“Rabu (17 Juni) kami kedatangan rombongan perangkat pertandingan. Mereka siap support pemerintah. Jadi tak ada masalah lagi soal perangkat pertandingan,” katanya.

Tapi, sumber di Kemenpora mengatakan bahwa wasit-wasit yang akan memimpin tersebut berasal dari wasit asosiasi provinsi, bukan wasit dari Komite Wasit Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Dengan kata lain, kualitasnya belum sebaik wasit Divisi Utama apalagi Indonesia. 

“Adanya itu. Ya kami yakin tetap bisa maksimal,” kata sumber tersebut.

The Jakmania berharap kompetisi segera digelar

Sebagai pendukung loyal Persija, The Jakmania juga turut memantau perkembangan sepak bola di tanah air. Mereka berharap kompetisi segera digelar, siapapun yang menggelar. 

“Kondisi sepak bola akhir-akhir ini makin tidak menentu. Apalagi kami yang melihat, khususnya tim kami Persija, sekarang hidup segan mati tak mau,” kata  Ketua Umum The Jakmania Richard Ahmad.

Richard kerap berkomunikasi dengan pemain-pemain Persija, begitu juga dengan pemain lain. Harapan sejatinya sama dengan yang suporter miliki: ada pertandingan resmi, ada kompetisi.

Alasannya, ketika kompetisi berhenti, tak ada pertandingan resmi, maka pemain yang paling dirugikan. Klub tentu tak merugi karena tak perlu mengeluarkan dana operasional. “Maka baiknya siapapun segeralah ada kompetisi,” kata  Richard.

Richard tak mempermasalahkan siapapun yang mengadakan turnamen. Sebab, esensi klub adalah untuk bertanding. Perihal permasalahan politis di sepak bola, Richard enggan berbicara.— Rappler.com