Bulan Ramadan, umat Kristen dan Muslim berdialog lintas iman

 

MALANG, Indonesia — Sore itu Victor sedang belajar cara mengenakan sarung di Pondok Pesantren Sabilurrosyad di Jalan Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang. 

Ramadan ini sekaligus menjadi tahun keduanya belajar tentang Islam di lingkungan pondok pesantren. Belajar mengenakan sarung adalah satu di antara aneka pelajaran baru yang bisa dipetiknya selama menjalani hidup bersama dua karibnya. 

Di pondok itu mereka takjub dengan kebersamaan para santri, berbuka dan sahur di satu nampan yang sama, hingga tidur bersama beralas karpet di ruangan yang tak luas. Sementara santri tuan rumah, dengan lumrah, menunjukkan warung tempat makan bagi tiga tamunya yang tidak berpuasa saat Ramadan.

Mahasiswa pemilik nama lengkap Victor Albert Wijaya itu, menginap total bersama delapan kawan sekampusnya, asal Universitas Ma Chung di Malang, menjalani program live-in di pondok itu sejak 29 Juni hingga 1 Juli. 

Selama 2 hari 2 malam, mereka mengikuti kegiatan harian santri di pondok itu. (BACA: Kenangan bulan Ramadan seorang Kristen)

Hari pertama, Victor dan dua temannya, Joy Jimmunandar dan Yofranny Winardi, antusias menanyakan berbagai hal tentang Islam pada santri setempat. Mereka penasaran mengapa Muslim harus salat, puasa satu bulan, dan merayakannya dengan takbiran saat Idul Fitri tiba. 

Atau mengapa sebagian santri harus mengenakan sarung, dan kenapa beberapa Muslim melarang berpacaran dan langsung menikah. “Saya Kristen. Saya ingin tahu saja, apakah itu adat, tradisi, ataukah kewajiban agama,” kata Victor.

Hari ke dua, mereka pun ikut berbuka di masjid pondok setempat. Sekitar pukul 16:00 WIB, rangkaian ngabuburit diawali dengan pengajian dan tanya jawab antara peserta dan ulama. Di situ, Yofranny, mahasiswa semester lima Ma Chung mengaku banyak mendapat pengetahuan baru tentang Islam.

Awalnya, pria yang disapa Yoyo ini mengaku berpikir, bahwa ada ajaran Islam yang kurang baik lantaran banyak muncul kelompok Islam ekstrim yang gemar merusak dan melakukan kekerasan. Penjelasan dari kawan-kawannya selama ini belum memuaskan pertanyaanya tentang Islam. Namun, setelah mengikuti pengajian sore di hari ke dua bermalam di pondok pesantren, Yoyo memiliki pemikiran lain tentang Islam. 

“Sebelumnya saya berpikir Islam itu agak gimana-gimana gitu, kawan-kawan ada yang pro dan yang kontra tentang Islam. Tapi setelah di sini, ternyata agama Islam tidak seperti itu semua, Islam mengajarkan pada kebaikan,” kata Yoyo.

Informasi tentang Islam ekstrimis juga didapat pemeluk agama Katolik itu selama pengajian di pondok tersebut. Islam di lingkungan itu, tak sependapat dengan ide menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. 

Ulama setempat, kata Yoyo, menyebut ada banyak aliran di Islam. “Jadi akan sulit untuk menentukan aliran mana yang akan digunakan untuk memimpin Indonesia,” katanya.

Sementara bagi Joy, dia jadi tahu bagaimana cara memperlakukan kawan wanita Muslimnya. Ia tak lagi segan untuk menahan berjabat tangan jika bertemu rekan Muslim. 

Dia pun mengaku takjub dengan kerukunan para santri di lingkungan pondok. Mereka tak risau harus tidur satu kamar bersepuluh, makan bersama di satu wadah yang sama, atau ketika tak punya tempat tidur sendiri. 

“Kalau bukan muhrim, ternyata tidak boleh bersentuhan, dan santri juga sangat kuat kerukunannya,” kata Joy. 

Toleransi dan keyakinan

Serupa dengan Joy, Victor, dan Yoyo, santri setempat juga merasa menerima tamu spesial. Mereka memberikan berbagai informasi dan aneka kebutuhan lain, layaknya sosok tamu yang wajib dijamu dengan baik. 

David Darissalam dan Abdilloh Khoironi sebisa mungkin menjawab aneka pertanyaan tamu mereka. Hari pertama, mereka menunjukkan ruang tidur semi permanen berukuran 3x4 yang dihuni untuk 10 santri. Siapapun boleh berpindah dan tidur di kamar manapun. Fasilitasnya juga sama, alas karpet dan bantal yang digunakan berama-ramai. 

Tak lupa, mereka meminjamkan sarung kepada tamu yang ingin mengetahui cara mengenakan sarung. Memberi penjelasan, mana yang tradisi dan mana yang kewajiban beribadah di dalam Islam. 

“Sarung ini sudah tradisi ulama besar sebelum kami, kami hormati dan mengingat jasa mereka, salah satunya dengan meneruskan tradisi sarung di dalam pondok,” kata David. 

Para santri ini juga membangunkan dan mengajak Victor dan kawan-kawan untuk sahur, berbuka puasa, dan aneka kegiatan lain. Santri pun menyediakan bantuan jika mereka menolak ajakan dan membutuhkan keperluan lain

“Kalau mau belajar ya kita dampingi, kami sahur mereka juga kami bangunkan, meskipun kemudian tidur lagi. Mereka tidak puasa, kami tak masalah, kami tunjukkan warung tempat untuk sarapan,” kata David.

David dan ratusan santri lain menganggap mereka adalah kawan yang patut dihormati, seperti juga ketika berkawan dengan santri lain, hanya dengan keyakinan yang berbeda. Dia berharap, dengan program tinggal bersama ini, tak ada lagi salah paham dan masing-masing umat bisa saling menghargai satu dengan yang lain.

“Mereka teman, seperti ketika kami berteman dengan santri lain. Ada diskusi, juga tentang keyakinan masing-masing. Itu membuat kami lebih menghormati, sebab pada akhirnya kami juga punya kepercayaan dan keyakinan masing-masing dan harus hormat satu sama lain,” ungkapnya. 

Dialog lintas iman untuk tumbuhkan toleransi

Kegiatan bernama Dialog Lintas Iman tahun ini diikuti 40 mahasiswa dari berbagai kampus di Malang, Tulungagung, dan Jakarta. Bentuknya, peserta menginap, atau live-in, di antara empat titik penginapan yang telah ditentukan. Peserta akan menginap di tempat yang menganut agama berbeda dengan agama peserta. 

“Kami ingin menumbuhkan toleransi dan pemahaman, bahwa ada kebenaran tentang iman lain, di luar iman mereka,” kata Felix Sad Windu Wisnu Broto, ketua pelaksana kegiatan Dialog Lintas Iman. 

Panitia bekerjasama dengan empat pemondokan, yaitu Pondok Pesantren Sabilurrosyad di Kota Malang untuk pusat pemondokan Islam, rumah keluarga di Kecamatan Donomulyo untuk belajar tentang Kristen dan Katolik, rumah keluarga di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang untuk belajar tentang agama Hindu, dan rumah keluarga di Desa Boro Kabupaten Malang untuk belajar agama Budha. 

Selama kegiatan, panitia mengizinkan peserta melakukan ibadah sesuai dengan pemilik pemondokan, asalkan tak ada yang berkeberatan. “Seperti di Ponpes Sabilurrosyad, kyainya mengizinkan peserta untuk ikut tarawih bersama,” kata Felix.

Program tersebut, awalnya adalah program pengembangan karakter dari Universitas Ma Chung di Malang. Namun di tahun kedua, mereka menyebar undangan lewat jejaring sosial lantaran banyak peserta di luar kampus yang berminat. 

“Hasilnya ada peserta lain, di luar Ma Chung. Ada yang dari Universitas Brawijaya, UIN, UKI, dan Paramadina Jakarta, serta IAIN Tulungagung,” katanya. Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari komunitas Jaringan GUSDURian Malang.

Purnomo, dosen Ma Chung sekaligus penanggung jawab peserta di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, mengaku kegiatan itu juga memiliki tujuan agar mahasiswanya tak kaget ketika terjun di masyarakat dengan keragaman kepercayaan, setelah menuntaskan pendidikan. Sementara di lingkungan kampus, menurutnya diterapkan sistem egaliter antara pemeluk agama. 

“Tak ada penonjolan agama apapun di kampus. Contohnya, ketika Ramadan tak ada kegiatan buka bersama, jika Idul Fitri, juga tak ada halal bi halal. Sama ketika Natal juga tak ada perayaan keagamaan. Semua saling menghormati,” katanya.

Pengajar berharap, mahasiswa bisa memetik manfaat untuk saling menghormati dan bertoleransi dengan pemeluk iman yang lain. “Agama apapun mengajarkan hal baik. Tanpa iman, kita tak akan bisa menumbuhkan saling menghormati dan toleransi beragama,” ucapnya. 

Petang itu, di pondok pesantren Sabilurrosyad, Joy, Victor, dan Yoyo makan bersama dalam satu nampan besar, dengan empat santri yang lain. Suara bedug Maghrib menandakan waktu berbuka bagi Darissalam, Abdilloh dan ratusan santri setempat. 

Sementara bagi Joy, Victor dan Yoyo, mereka turut makan malam dengan lahap dalam kebersamaan lintas iman. —Rappler.com