Reshuffle (bukan) untuk kita

Wacana reshuffle Kabinet Kerja Presiden Joko "Jokowi" Widodo mulai ramai dibicarakan, menjadi omongan dari kelas atas sampai omongan warung kopi yang tidak jelas. Dari desakan partai politik hingga para pencari panggung dengan modal survei via Internet plus nekat. Semua gaduh luar biasa seolah reshuffle ini sebuah 'fardhu ain' yang harus dijalani untuk kemaslahatan negeri ini.

Menteri, calon menteri, calo menteri, dan para pencari panggung belakangan aktif di media massa. Yang menteri tentunya kampanye bahwa 6 bulan ini sudah menorehkan prestasi. Sebuah prestasi besar menurut mereka sendiri. 

Yang calon menteri vokal teriak sana-sini pentingnya pergantian menteri untuk meningkatkan kinerja kabinet dan memperbaiki kondisi ekonomi. Calo menteri juga bergerak mencari informasi dan celah. 

Kadang calo bergerak senyap lewat lobi politik, kadang sesekali mengirim pesan melalui berita di media massa. 

Yang caper (cari perhatian) untuk manggung juga banyak. Isu reshuffle dijadikan momen para caper seperti undangan mengisi acara hajatan bagi organ tunggal. Tidak peduli bayaran berapa yang penting manggung dan dapat perhatian publik. 

Para caper sibuk memberi rapor merah, biru, dan hitam. Mereka melakukan evaluasi kinerja menteri dengan kriteria kualitatif ala-ala mereka sendiri. 

Ada juga yang menghitung kinerja menteri berdasarkan survei berbiaya rendah melalui Internet. Akurasi dipinggirkan walau kesana-kesini jual intelektual. Yang penting manggung, urusan lain tidak penting lagi.

Dasar desakan untuk melakukan reshuffle macam-macam. Saya mentabulasi berdasarkan berita yang saya baca. Tentunya saya menggunakan dasar suka-suka saya, wong yang mengaku intelektual saja boleh mengesampingkan keintelektualannya, mosok saya yang tidak intelektual tidak boleh.

Pertama adalah kondisi ekonomi yang buruk. Pertumbuhan di bawah target, shortfall pajak meningkat, 6 bulan belum ada program infrastruktur strategis yang berjalan serius, sektor riil melambat, konsumsi masyarakat berkurang, serta tentu saja dampak ekonomi global.

Kedua adalah political turbulence. Anggota koalisi pendukung pemerintah dan anggota koalisi yang seharusnya oposisi ternyata ngiler jabatan. Akhirnya bermunculanlah berita yang memprovokasi Jokowi menjaga jarak dengan PDI-P. Aneh, menjaga jarak dengan partai pengusungnya tapi kalau perang di Senayan minta dukungan PDI-P. 

Partai yang seharusnya oposisi pun mulai menunjukkan tabiat malu-malu mau untuk mendapat kursi di kabinet. Yang ingin masuk tanpa free pass dari partai juga muncul dengan mengangkat isu harus lebih banyak profesional masuk di kabinet Jokowi. Seolah kader partai bego semua.

Buat saya, kedua alasan itu sama bullshit-nya. Sebagai sebuah organisasi kepresidenan, tentunya kabinet fokus pada target dan key performance indicator masing-masing.  

Dari sini saja tidak pernah jelas arahnya. Target swasembada beras, jagung, kedelai, dan gula, misalnya. Semua dicapai dalam 3 tahun. Dalam 6 bulan terakhir apakah sudah ada rencana strategis untuk mencapainya? Sampai di mana tahapannya? Semua gelap. 

Swasembada gula yang juga target rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama dua periode (setiap tahun direvisi mundur dan sampai beliau lengser swasembada tak tercapai) kembali dijadikan target. 

Tapi sampai saat ini belum terlihat langkah radikal untuk menata perdagangan gula agar gula rafinasi tak merembes, bahkan bocor ke pasar eceran. Bagaimana tahapan pembangunan pabrik gula modern agar industri gula makin efisien. Ini juga entah sampai di mana.

Target menurunkan biaya logistik dari kisaran 24%-27% ke level belasan persen melalui tol laut juga belum jelas. Untuk mencapai target penurunan pelabuhan akan dibangun dan industri galangan kapal. 

Saat baru dilantik, Menteri Perindustrian sudah katakan akan membahas aturan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai untuk kapal dalam negeri dan pembebasan Pajak Penghasilan impor komponen kapal. Targetnya Januari selesai. Entah Januari tahun kapan karena ini sudah bulan Mei.

Okelah. Lalu, reshuffle. Semua menteri yang dianggap tidak kapabel diganti. Apakah hasilnya akan membaik? Saya kok merasa tidak akan bedanya. Pejabat, ya, akan tetap seperti itu. 

Target tidak jelas, pencapaian tidak jelas, gajian tetap setiap bulan. Tetap mendapatkan fasilitas bak raja-raja kecil. Lalu kita harus gitu ya ikutan ribut buat mereka? Ya, sesekali nyinyir bolehlah. Setiap saat? Come on. Get a life! 

Lalu, kita harus melakukan apa di kondisi seperti ini? Ada banyak hal yang saya rekomendasikan dilakukan agar tetap cool di tengah arus dramatisasi yang deras. Tak perlu ikut-ikutan drama. Ingat, Anda bukan Nassar atau Musdalifah.

Fokus pada yang kita kerjakan dan miliki

Ekonomi mau tumbuh 5%, 4%, atau bahkan 2% sekalipun, yang pasti adalah kita harus bekerja, memutar otak, memerah kreativitas. Kalau setiap hari kita ikut-ikutan melakukan analisis ekonomi makro padahal gaji kita pas-pasan, pendapatan sampingan tidak ada, ya konyol namanya. 

Setiap hari menghabiskan waktu nyinyir buruknya ekonomi Indonesia tapi selalu mengaku sibuk untuk mencari tambahan pekerjaan. Sudah tahu pendapatan pas-pasan pakai ikut-ikutan mikir angka-angka ekonomi yang berat. 

Ingat, tidak semua orang dilahirkan secerdas Poltak Hotradero. Bang Poltak mah dibayar untuk melakukan pencarian data dan analisis. Lha, kalian? Nyuplik berita doang buat modal twitwar. Bukannya lebih baik fokus cari kerja tambahan.

Apa berarti saya abai dengan angka-angka makro dan berbagai informasi mengenai perlambatan ekonomi, potensi kenaikan non-performing loan perbankan, shortfall pajak, hingga cadangan devisa yang sangat mungkin tergerus hingga 1 miliar dolar Amerika Serikat dalam waktu yang terlalu lama? Tidak. 

Saya mengikuti semua. Lalu, kalau kondisi memang demikian kita harus mengambil langkah apa? Nyinyir tak gentar, atau mencari tambahan pendapatan untuk menyelamatkan hidup kita dan keluarga? Mikir deh. 

Ingat, Anda bukan pemilik Astra International, punya kebun sawit ratusan ribu hektar, atau punya industri pengolahan consumer product berpendapatan belasan triliun rupiah. Kalau Anda pemilik perusahaan raksasa, layaklah concern.

Tapi kalau cuma kelas menengah ngehe yang masih meratapi gajian, tinggal di rumah orang tua, tapi punya lifestyle tinggi alias kamjet (kampungan berlagak jetset), sudahlah tidak usah berpikir berlebihan.  

Terlalu banyak berita negatif tanpa pemahaman yang mencukupi hanya membuat semangat hidup kita turun, demoralisasi saat bekerja, dan hidup cuma buang-buang waktu untuk menghujat negara yang ternyata tak berdampak apapun dalam hidup kita.

Kontribusi untuk ekonomi skala kecil di sekitar kita

Kondisi ekonomi yang sulit secara otomatis akan memaksa kita mengurangi konsumsi. Kalau para penyinyir ber-lifestyle kamjet nyadar, kondisi ekonomi yang berat ini adalah saatnya berkontribusi dalam skala kecil. Ini besar maknanya. 

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2004, ada sekitar 17 juta usaha tak berbadan hukum. Asumsikan jumlahnya naik menjadi 20 juta usaha tak berbadan hukum, dan masing-masing memiliki 2-3, maka jumlah pekerja informal yang terlibat 40 juta hingga 60 juta. 

Siapa mereka? Bisa jadi terserak di sekitar Anda: warung nasi, tukang gorengan, martabak, cilok, cireng, kue basah, pedagang kaos, asongan, dan macam-macam. 

Kurangi nongkrong di kafe sambil membicarakan nasib rakyat yang belum tentu berubah usai nongkrong. Pulanglah ke rumah, belilah makanan kecil di sekitar rumah Anda. Hidupilah mereka yang tak terjamah media sosial dan tak tahu apa itu makro ekonomi. 

Makanlah nasi goreng atau mie goreng gerobak dorong. Hidupilah mereka yang tak diakui dalam tata kota. Kadang harus mendorong gerobak melawan arus lalu lintas, menentang bahaya untuk menyingkat perjalanan ke lapak. 

Mereka ini adalah 40% berpengeluaran rendah. Hanya berkontribusi 16,87% terhadap konsumsi nasional. Sementara 40% berpengeluaran sedang menguasai 34,09%, dan 20% berpendapatan tinggi menguasai 49,04%. 

Jika ini adalah pembagian kue ekonomi, 20% masyarakat terkaya memiliki kontribusi perekonomian nyaris separuh. Dari 2010 ke 2013 jumlah beringsut naik. Sementara yang bawah dan sedang turun pelan-pelan. 

Yang sedang kadang memiliki gaya hidup yang ketinggian dan belanja di tempat-tempat fancy yang dimiliki kelompok kaya. Uangnya berputar di sana-sana saja.

Mereka yang 40% pengeluaran rendah lebih penting memperoleh perhatian (dan tentunya rezeki) dari kita agar ekonominya berputar di kondisi yang memang dinamis ini. 

Bukannya kita yang caper via media sosial untuk memperoleh perhatian dan pengakuan: "Pinter nih, gue. Atau sekedar menunjukkan: kan gue bilang apa. Gue sudah tahu kalau Jokowi memang tidak bisa apa-apa. Sudah gue ramal jauh-jauh hari."

Kenapa tidak meramal togel saja kalau memang memiliki kemampuan sehebat itu. By the way, bisa titip ramalan kapan Manchester United juara Liga Champions?

Biasanya kalau sudah menulis seperti ini, saya kerap dituding sok moralis. (Moralis kok jadi konsultan humas, eh). Dalam kondisi seperti ini yang penting dilakukan adalah saling gandeng tangan untuk lingkaran kita yang paling dekat. Tidak usah berpikir terlalu tinggi, nanti malah ketabrak pesawat. 

Masa depan kita tergantung pada tangan-tangan kita sendiri. Berharap pada setiap pemerintahan adalah yang bagus, mengkritiknya pun tak kalah bagusnya. Tapi penting juga kiranya kita sibuk untuk berkarya dan unggul dalam kompetisi. 

Jangan sampai saat yang lain sibuk bekerja dan kita ditanya,"Santai benar hidupmu." Lalu kita jawab, "Lho, ini saya sibuk nyinyir agar pemerintah peduli kehidupan kita." Oalah sak karepmu. —Rappler.com

Kokok Herdhianto Dirgantoro adalah mantan wartawan, mantan karyawan bank. Kini ia mengelola kantor konsultan di bidang komunikasi strategis. Meski demikian, Kokok sangat berminat belajar seputar isu ekonomi. Gaya menulisnya humoris, tapi sarat analisis. Follow Twitter-nya @kokokdirgantoro.