Riset: Indonesia paling suka belanja makanan dan smartphone

JAKARTA, Indonesia — Mayoritas penduduk Indonesia menghabiskan pendapatan bulanan mereka untuk pangan, seperti yang ditunjukkan oleh sebuah riset yang dilakukan oleh Credit Suisse Research Institute (CSRI).

Belanja terbesar kedua digunakan untuk layanan publik dan perumahan, yang disebabkan oleh kenaikan tarif dasar listrik dan harga rumah.

Credit Suisse, sebuah perusahaan penyedia jasa keuangan terkemuka, menerbitkan hasil survei tahunan kelima tentang perilaku konsumen di negara-negara berkembang dan faktor-faktor pendorongnya, pada Senin, 16 Februari 2015.

Survei ini juga menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah Indonesia cenderung membelanjakan uangnya untuk telepon pintar, akses Internet, properti, dan sepeda motor.

Tahun sebelumnya, masyarakat Indonesia menghabiskan pendapatan bulanan mereka untuk akses Internet, produk susu, minuman berkarbonasi, TV, dan telepon pintar.

Dalam survei ini, CSRI bekerjasama dengan perusahaan riset pasar global Nielsen untuk melakukan wawancara tatap muka terhadap hampir 16.000 konsumen di 9 negara; Brazil, Tiongkok, India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Turki. 

CSRI dan Nielsen mengajukan sekitar 100 pertanyaan kepada responden untuk mengetahui kebiasaan berbelanja konsumen, rencana masa depan mereka, dan faktor-faktor yang memengaruhi mereka.

Konsumen Indonesia optimis, belanja meningkat  

Riset tersebut mengatakan, meski mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, penduduk Indonesia tetap optimis dibanding negara-negara berkembang lainnya. 

Meningkatnya optimisme masyarakat Indonesia utamanya disebabkan oleh kesuksesan pemilihan umum legislatif pada April 2014, yang dilanjutkan dengan pemilihan presiden pada Juli 2014 yang berlangsung relatif aman. Transisi pemerintahan pun berjalan lancar.

Optimisme terhadap Indonesia meningkat, terutama dalam sektor belanja perangkat teknologi dan peluang di industri otomotif, di tengah depresiasi rupiah dan inflasi akibat perubahan harga bahan bakar minyak (BBM), dan penyesuaian upah minimum daerah.

Peningkatan minat belanja salah satunya karena pendapatan juga meningkat. Menurut riset, semakin banyak masyarakat kelas menengah Indonesia yang mengalami peningkatan pendapatan pada 2014, sebesar 40%, dibandingkan dengan tahun 2013, sebesar 38%.

Namun, hal serupa tak diikuti oleh penduduk dengan berpendapatan rendah, karena keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan upah minimum pada level yang sama dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan upah minimum tahun lalu hanya meningkat sebesar 16%, dibanding 18% pada tahun 2013. Diperkirakan, pada tahun 2015, upah minimum hanya akan naik sebesar 13%.

Sebagai contoh, Gubernur DKI Jakarta mengetok kenaikan upah mininum provinsi DKI Jakarta tahun 2015 sebesar Rp 2,7 juta, naik dari tahun sebelumnya, yaitu Rp 2,441 juta.

Pada tahun 2014, upah minimum naik dari Rp 2,2 juta. —Rappler.com