SBY dikabarkan jadi petinggi Trans Corp

 

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) —  Kabar mengenai mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi petinggi di Trans Corp bukan hal mengejutkan bagi awak media di bawah naungan Trans Corp. 

Beberapa sumber yang diwawancarai Rappler.com mengkonfirmasi bahwa mereka sudah mendengar rencana itu. Posisi SBY disebutkan sebagai Chairman's Advisor.

Tak sekedar rencana, SBY disebutkan sudah berkantor di Menara Bank Mega, di jalan Kapten Tendean. 

"Informasinya, sejak dua minggu lalu, dia berkantor dari Senin sampai Rabu," kata staff media Trans Corp yang menolak disebutkan namanya pada Rappler.com, Senin, 16 Februari 2015.  

Menara Bank Mega menurutnya adalah kantor untuk para petinggi media-media di bawah naungan Trans Corp.

 

Bermula dari tweet seorang jurnalis

 Meski karyawan media di Trans Corp sudah mendengar berita tentang bergabungnya SBY di Trans Corp sejak minggu lalu, hal ini baru mulai diberitakan Minggu, 15 Februari 2015. 

Seorang jurnalis yang memiliki banyak follower Ulin Yusron mencuit melalui akun Twitternya. Menurutnya, SBY akan mulai bergabung di Trans Corp bulan Maret mendatang sebagai komisaris utama.  

Cuitannya segera mendapat banyak komentar. 

Salah satunya dari Imelda Sari, mantan staff istana yang sekarang berperan sebagai sekretaris departemen luar negeri Dewan Pertimbangan Pusat Partai Demokrat. Dari akunnya @isari68, dia mengoreksi posisi SBY yang disebutkan Ulin.  

 

Trans Corp membantah

 Ketika dihubungi oleh Rappler, juru bicara CT Corp Hadiansyah Lubis tidak membantah atau pun mengkonfirmasi. 

 “Di internal belum ada info itu,” kata Hadiansyah. 

 Ketika dikonfirmasi media, Chairul Tanjung yang adalah mantan Menko Perekonomian pada kabinet SBY membantah cuitan Ulin bahwa SBY akan menjadi komisaris utama di medianya. 

 “Tidak benar,” kata Chairul, seperti dikutip portal berita tempo.co

Tidak jelas apakah bantahan Chairul ini hanya karena posisinya yang tidak benar, atau tidak. 

 

Netizen pun merespon dengan cepat

Meski dibantah oleh pihak Trans Corp, banyak pengguna Twitter merespon terhadap berita yang beredar ini. 

Melihat pada relasi Yudhoyono dan Chairul sebelumnya, pengguna media sosial tidak terlalu terkejut. 

Ada juga yang menyambut positif berita ini.

Bahkan mantan petinggi di Partai Demokrat pun memberikan selamat. 

 

Relasi SBY dan Chairul Tanjung

SBY dan pemilik Trans Corp Chairul Tanjung diketahui memiliki hubungan yang dekat. Tahun 2010, Yudhoyono menunjuk Chairul sebagai ketua Komisi Ekonomi Nasional (KEN), membuatnya jadi penasihat ekonomi aktif bagi presiden.  

Tahun 2014, Chairul ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, menggantikan Hatta Rajasa yang ketika itu undur untuk bertarung dalam pemilihan umum presiden. 

Chairul sendiri pernah dikabarkan “merapat” ke Partai Demokrat. Politisi Demokrat Ruhut Sitompul pada tahun 2014 mengatakan bahwa selain pemilik Jawa Pos News Network Dahlan Iskan, Chairul juga mendekat ke Demokrat. 

“Jadi istilahnya dengan bergabungnya dua bos media-media besar ini jelas menguntungkan Demokrat. Lihat saja nanti, Demokrat akan jadi raja media,” kata Ruhut sebagaimana dikutip media

Berita ini juga dibantah oleh petinggi Trans Corp, Ishadi SK. 

“Pak Chairul Tanjung diberitakan bergabung dengan Partai Demokrat. Sepengetahuan saya hingga detik ini, Pak Chairul Tanjung tetap independen dan dekat dengan semua partai politik yang ada,” kata Ishadi seperti dikutip media

 

Akankah Trans Corp tetap independen?

Roy Thaniago, direktur lembaga pemantau TV Remotivi, mengatakan bila benar SBY bergabung ke Trans Corp, media-media di bawahnya tak bisa lagi diharapkan untuk memberikan informasi yang obyektif.  

“Lingkaran politik SBY ada potensi tidak mendapatkan kritik dari Trans Corp, bukan hanya dari dua TV-nya, tapi juga dari media-media lainnya seperti Detik,” kata Roy pada Rappler.com.

“Ini berbahaya. Kita mengharapkan media memberikan informasi yang obyektif, dalam kasus di mana perusahaan masuk dalam lingkaran politik SBY dan Demokrat, ini akan menjadi bias.” 

Menurut Roy, konsentrasi kepemilikan media itu berbahaya apalagi ditambah dengan masuknya petinggi politik di grup media yang besar. 

“Masuknya SBY akan sangat berpengaruh, bisa jadi media tersebut akan imun kritik terhadap Demokrat,” kata Roy. 

“Saya curiga memang barter kekuasaan dengan cara seperti itu.”

Trans Corp membawahi beberapa media besar Trans TV, Trans 7, CNN Indonesia, Detik. Di bawah perusahaan ini juga bernaung perusahaan Trans Retail Indonesia (Carrefour) dan Alfa Retailindo. 

AM Hendropriyono, mantan penasihat tim kampanye Presiden Joko Widodo, tercatat sebagai salah satu komisaris di perusahaan tersebut. — Rappler.com