Tragedi Hercules: Rindu pada abang yang tak sampai

T Kinambunan (88) dan En Boru Pospos mengisahkan tentang keponakan mereka Reni dan Rully yang menjadi korban kecelakaan pesawat Hercules. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

T Kinambunan (88) dan En Boru Pospos mengisahkan tentang keponakan mereka Reni dan Rully yang menjadi korban kecelakaan pesawat Hercules.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

MEDAN, Indonesia—Rully (20) dan Reni (18) adalah kakak beradik dari Pekanbaru, Riau, yang menjadi korban kecelakaan pesawat Hercules di Medan pada Selasa, 30 Juni. Kakak mereka adalah seorang pilot pesawat Hercules di Pontianak, Kalimantan Barat.  

Menurut penuturan keluarga keduanya, T. Kinambunan (88) dan En Boru Pospos (80), pada Rappler, Rully dan Reni bisa menumpang Hercules karena abang mereka. Sudah biasa bagi keluarga atau kerabat Tentara Nasional Indonesia (TNI) menumpang Hercules. 

“Karena diurus abangnya ku rasa, karena itu mereka bisa naik Hercules,” kata Kinambunan saat ditemui di tenda DVI (Disaster Victim Identification) Rumah Sakit Adam Malik, Rabu, 1 Juli. 

Mereka pun menumpang Hercules dari Pekanbaru dan transit di Medan. Rencananya pesawat naas itu akan ke Pontianak. 

Saat tiba di Medan, Reni pun menelepon ibunya untuk mengabarkan keberadaannya. 

“Mak sudah sampai, aku sama abang (Rully) ini, sebentar lagi take off (lepas landas),” kata Kinambunan menirukan Reni. 

Tapi baru dua menit lepas landas dari Bandara Polonia Medan, tepatnya pada pukul 12.08, pesawat tersebut terbang rendah di Simpang Sima Lingkar, Medan, dan jatuh menimpa perumahan baru serta pertokoan. 

Rindu pada abang

Niat Andi, pilot Hercules, untuk mengurus tiket pesawat Rully dan Reni ternyata berujung petaka. Padahal Andi sangat bersemangat mengurus tiket keduanya, karena sudah rindu. 

“Mereka (Rully dan Reni) rindu. Dan karena rindu itu maka mereka pergi, kebetulan kan liburan bulan puasa,” kata Kinambunan. 

Menurut Kinambunan, ketiganya memang dekat setelah kakak pertama mereka menikah di Pekanbaru. “Kan abangnya Andi belum menikah, mainlah mereka,” katanya. 

Tapi rindu itu akhirnya tak pernah kesampaian. Andi harus menerima kenyataan bahwa dua adiknya tak sampai di Pontianak. 

Kabar pesawat jatuh itu langsung membuat Andi untuk memutuskan terbang ke Medan. Pilot Hercules itu langsung menuju ke Rumah Sakit Adam Malik hari itu juga. 

Begitu juga dengan Kinambunan dan En Boru Pospos, yang kebetulan tinggal di Medan, langsung merapat ke rumah sakit. Mereka berniat mendampingi Andi mencari jenazah kedua keponakan mereka itu. Tapi hingga berita ini ditulis, mayat keduanya belum teridentifikasi. 

Andi sebagai anggota TNI punya akses khusus di ruang jenazah. “Di situlah (kamar jenazah) abangnya mencari-cari. Tapi belum dapat,” katanya. 

Tim identifikasi memang kesulitan mengenali jenazah, karena sebagian dari mereka sudah hangus, bahkan anggota badannya sudah tak utuh. 

“Kami sampai kepayahan menunggu Andi di  luar kamar jenazah, kami memilih duduk menunggu di sini (tenda untuk keluarga) saja sampai dia (Andi) berhasil,” katanya. 

Hingga berita ini diturunkan, tak ada kabar dari Andi. Kinambunan pun sudah pasrah dan tetap berdoa Andi bisa menemukan mayat kedua adiknya itu. —Rappler.com