Menlu Myanmar Aung San Suu Kyi tunda kunjungan ke Indonesia

JAKARTA, Indonesia - Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi pada Senin, 28 November menunda kunjungan ke Indonesia di tengah derasnya protes aksi penganiayaan yang diduga dilakukan militer kepada etnis Muslim Rohingya. Belum lagi, pada Minggu kemarin, Mabes Polri mengatakan baru menangkap dua orang yang diduga akan meledakan bom di depan Kedutaan Myanmar di Jakarta. (BACA: Ditangkap di Banten, terduga teroris ini berencana ledakan gedung DPR)

Suu Kyi semula dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia usai menyambangi Singapura dari 30 November-2 Desember. Namun, seorang pejabat berwenang di Kementerian Luar Negeri mengatakan kunjungan itu sudah diputuskan akan ditunda.

“Kami menunda kunjungan ke Indonesia akibat permasalahan di Rakhine dan di bagian utara Shan State. Di sana personil militer tengah berperang melawan pemberontak dari etnis tertentu,” ujar Wakil Direktur Jenderal Aye Aye Soe.

Dia menambahkan kunjungan ke Indonesia akan dijadwalkan ulang di masa depan.

Ribuan warga Rohingya kembali membanjiri ke wilayah perbatasan dari negara bagian Rakhine, Myanmar. Pada pekan lalu, mereka memutuskan kabur ke Bangladesh karena tidak tahan dianiaya oleh militer Myanmar. Beberapa dari mereka yang selamat mengaku menyaksikan adanya beragam tindak kekejaman seperti penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan beramai-ramai yang dilakukan oleh personil militer.

Suu Kyi yang sebelumnya pernah meraih Nobel Perdamaian justru menghadapi kecaman dari dunia internasional pasca kejadian itu. Terlebih pejabat berwenang dari PBB menuding ada upaya pembersihan etnis yang tengah dilakukan oleh militer Myanmar.

Namun, tuduhan itu dibantah oleh Suu Kyi. Dia mengatakan personil militer justru tengah memburu teroris yang berada di balik aksi penyerangan pos polisi pada bulan lalu.

Tetapi, jurnalis asing dan penyidik independen dilarang menjejakkan kaki ke negara bagian Rakhine untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Seiring dengan meluasnya sorotan publik terhadap isu ini, maka aksi protes juga semakin membuncah. Dalam beberapa hari belakangan, Kedutaan Myanmar di Jakarta dijadikan sasaran aksi unjuk rasa. Demonstran menuntut agar dilakukan pemutusan hubungan diplomatik dan pemerintah mengusir Duta Besar Myanmar untuk Indonesia.

Sementara, nasib sekitar 30 ribu warga Rohingya yang sudah terlanjur kabur menuju ke Bangladesh menghadapi permasalahan baru. Alih-alih diterima oleh Pemerintah Bangladesh, mereka malah ditolak. Bangladesh justru menyerukan kepada Pemerintah Myanmar untuk menghentikan agar warga Rohingya tidak kabur dari Tanah Airnya.

Penjaga di wilayah perbatasan kembali mendorong delapan kapal yang memuat warga Rohingya yang tengah menyeberang Sungai Naf untuk menuju ke selatan Bangladesh. - dengan laporan AFP/Rappler.com