10 cara merayakan earth hour setiap hari

Febriana Firdaus
10 cara merayakan earth hour setiap hari

ANTARA

PLN sempat menilai efektivitas Earth Hour masih rendah, oleh sebab itu masyarakat butuh diedukasi soal penghematan listrik.

 

JAKARTA, Indonesia—Perayaan Earth Hour sudah lama dikritik karena dinilai kurang efektif. Pemadaman listrik di sejumlah daerah selama satu jam ini bukannya menghemat listrik, justru menambah beban. 

Seperti yang diungkap oleh Pelaksanaan kegiatan Earth Hour tahun 2015, PT Perusahaan Listrik Negara yang justru mengungkap data beban sistem kelistrikan daerah Jawa, Madura, dan Bali naik setelah Earth Hour.  

Apa penyebabnya? Saat mematikan lampu, ada daya yang naik karena banyaknya penggunaan air conditioner (AC).

PLN mencatat, beban sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali pada Sabtu, 28 Maret 2015, pukul 21.00 WIB sebesar 19.680 megawatt (MW) atau naik 1,99 persen dibanding beban pada jam dan hari yang sama dua pekan lalu yang mencapai 19.295 MW.

Menurut Agus Trimukti, Bagian Humas Kantor Pusat PLN saat itu, melalui siaran persnya pada 29 Maret 2015 lalu, efektivitas Earth Hour tahun lalu masih kecil. 

Selain karena maraknya penggunaan AC, partisipasi masyarakat untuk mengikuti program yang diselenggarakan oleh World Wild Fund (WWF) ini masih rendah. Masyarakat butuh diedukasi soal penghematan listrik, kata Agus. 

Tahun ini, WWF Indonesia akan kembali menggelar kampanye global Earth Hour di Tanah Air. Di tahun kesembilan peringatannya di Indonesia dan tahun ke-10 di dunia, WWF mengajak publik untuk mematikan lampu pada Sabtu, 25 Maret pada pukul 20:30 WIB – 21:30 WIB. Tema global Earth Hour tahun ini adalah “Shine A Light on Climate Action – from Moment to Movement” yang akan dilaksanakan di seluruh Tanah Air. 

Plt CEO WWF Indonesia, Benja Mambai, mengatakan jika dalam aksi tahun ini pihaknya juga mengajak publik untuk berpartisipasi mengurangi sampah plastik. 

“Caranya dengan mengikuti gerakan #SejutaAksi dari komunitas Earth Hour Indonesia untuk mengumpulkan tas belanja dan mengurangi sampah plastik,” ujar Benja dalam keterangan tertulis WWF pada 16 Maret lalu. 

Aksi tersebut sebagai bentuk nyata terhadap dukungan program pemerintah Gerakan Indonesia Bebas Sampah Plastik 2020 yang dimulai pada Hari Peduli Sampah Nasional tahun ini. 

Nah, agar acara ini tak sekedar menjadi perayaan simbolik tahunan, apa yang seharusnya dilakukan masyarakat selain menghemat listrik dan menyelamatkan bumi dalam kehidupan sehari-hari? 

Menurut peneliti Kepala Bidang Program dan Fasilitas, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN Didi Satiadi, pesan dari Earth Hour adalah penghematan energi atau agar masyarakat tidak mengkonsumsi energi yang berlebihan, sehingga merusak lingkungan. 

Ia memberikan tips bagaimana menghemat energi dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, menggunakan listrik seefisien mungkin, sesuai kebutuhan. “Siang hari tak perlu menyalakan lampu. Pakai cahaya alami dari matahari, dan buka jendela,” katanya pada Rappler, Minggu, 19 Maret. Ia juga menyarankan agar masyarakat menggunakan lampu hemat energi yang ditawarkan di supermarket. 

Kedua, menaikkan suhu pendingin AC. “Levelnya bisa dinaikkan, maksudnya tidak terlalu rendah. Idealnya ya sesuai untuk kenyamanan badan kita,” katanya. Tapi jika Anda tinggal di daerah dataran tinggi, seperti Bandung, sebaiknya hindari gunakan AC. 

Ketiga, kurangi level pendingin di kulkas. “Di Kulkas biasanya ada level dingin 0-4, barangkali enggak harus dipasang full dingin, bisa secukupnya saja,” katanya. 

Keempat, menerapkan prinsip reduce dan recycle. Reduce artinya kita menggunakan sumber daya tapi kita kurangi, dan menggunakan kembali sumber daya yang ada. “Seperti kantung plastik jangan dibuang, tapi digunakan kembali. Itu kan lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis,” katanya. 

Kemudian recycle, mendaur ulang sampah yang ada. Kemudian menggunakannya lagi sebagai pupuk alami. “Atau kalau belanja jangan pakai tas plastik, bawa kantung sendiri biar ramah lingkungan,” ujarnya. 

Kelima, penghematan bahan bakar mobil. Selain itu pengendara mobil seharusnya mengecek rutin kondisi mesinnya setiap 6 bulan sekali. “Mesin yang tak fit kondisinya juga menimbulkan emisi,” katanya. 

Selain itu, jadilah pengemudi yang baik. Menurut Didi seorang pengemudi yang agresif selain membahayakan dirinya sendiri dan penumpang, juga boros bahan bakar. “Kalau kita mengerem mendadak, ngebut, tekanan gasnya cepat, maka konsumsi BBM-nya lebih boros,” katanya. 

Keenam, memakai tisu secukupnya. Semakin banyak tisu yang anda pakai, semakin banyak pohon yang ditebang. 

Ketujuh, mana lebih hemat energi, kompor gas atau kompor listrik? “Mungkin gas lebih baik, tapi tergantung listriknya juga. Kalau listrik dihasilkan di tenaga diesel, banyak polusi. Kalau dihasilkan dari listrik terbarukan, seperti listrik dari bendungan, hydro, tenaga surya, angin, itu sangat baik, karena berasal dari alam,” katanya. 

Kedelapan, terlalu banyak memakai kosmetik juga akan mempengaruhi keseimbangan alam. Sebab bahan kosmetik sebagian berasal dari minyak bumi. “Jadi penggunaannya seperlunya juga,” ujarnya.

Kesembilan, penggunaan spray yang menggandung zat CFC yang merusak lapisan ozon.“Jika anda memilih parfum spray, pilih yang aman,” katanya. 

Kesepuluh. Santapan dan cara memasak bahan makanan yang Anda pilih juga mempengaruhi keselamatan bumi ita. “Produksi makanan tertentu kan tergantung dari minyak bumi juga, dan ada yang pakai pestisida,” katanya. Karena itu Didi menyarankan untuk memilih bahan makanan organik. 

“Cara pengolahannya juga harus yang sederhana, jangan memasak terlalu lama, selain menghabiskan energi, juga mengkikis vitaminnya,” ujarnya. 

Nah, apakah anda siap merayakan Earth Hour di rumah sendiri?—Rappler.com

BACA JUGA: 

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.