Meninggalkan Comfort Zone, Berani?

Rappler.com
Meninggalkan Comfort Zone, Berani?
Berada dalam comfort zone, bisa membunuh ambisi sehingga akhirnya kita melupakan impian dan cita-cita yang kita inginkan

Pernah nggak mengalami stuck di satu titik?

Saya pernah. Beberapa waktu lalu, saya merasa hal yang saya lakukan sangat rutin. Itu lagi, itu lagi. Nyaman sih, nggak bosan juga. Tapi jadwal harian saya jadi ketebak. Setelah melakukan A, maka saya pasti melakukan B, lalu C dan seterusnya. Belum lagi karena semua yang saya lakukan selalu mencapai ekspektasi yang diinginkan tanpa usaha yang berlebihan. Duh!

Berdasarkan banyak artikel yang saya baca, hal ini berarti saya berada di comfort zone. Dan itu bahaya!

Kenapa bahaya?

Saat kita terjebak dalam comfort zone, hal yang pertama terjadi adalah kita merasa percaya akan kemampuan diri. Lho, bagus dong? Ya sih, tapi juga berarti kita nggak bisa mengembangkan kemampuan diri kita sendiri karena merasa apa yang kita lakukan itu sudah bagus. Hal ini kerap berkembang menjadi sikap tak mau menerima pendapat atau kritik dari orang lain.

Itu baru untuk pengembangan diri, bagaimana dengan kesempatan yang bisa kita dapatkan di luar comfort zone? Saat berada di dalam comfort zone, seringkali kita merasa puas dengan apa yang kita dapatkan. Rutinitas yang kita lakukan seperti membuat kita seperti melakukan saja apa yang harus kita lakukan tanpa tujuan tertentu.

Padahal menurut sebuah riset bertahun-tahun yang lalu, hal pertama yang dimiliki oleh seseorang yang sukses adalah memiliki tujuan yang nyata.

“Banyak orang di dunia ini bisa sukses jika mereka bisa menentukan tujuan yaitu seberapa besar kesuksesan yang mereka inginkan dan bagaimana mereka mau mengevaluasi kesuksesan tersebut.”

Memiliki tujuan adalah salah satu yang membuat seseorang lebih hidup. Coba kebayang nggak kalau dalam satu hari kita nggak memiliki tujuan apapun?

  

“Aduh, sudah di usia sekarang ini mau cari apa lagi sih? Gaji sudah oke, posisi di kantor sudah nyaman, pokoknya sudah enak!”

Bisikan itu memang kerap mampir ke telinga kita semua saat sudah nyaman dengan kondisi tertentu. Mau ada tujuan kek, enggak kek. Pokoknya kerja, dapet duit!

Seorang psikolog mengatakan bahwa berada dalam kondisi yang terlalu nyaman bisa membunuh ambisi yang akhirnya kita melupakan impian dan cita-cita yang kita inginkan.

“Kita hidup di lingkungan di mana kenyamanan menjadi nilai dan tujuan hidup. Tapi perlu diketahui, bahwa kenyamanan bisa mengurangi motivasi kita untuk merasakan pentingnya perubahan dalam hidup. Sedihnya lagi, kenyamanan seringkali menghalangi kita dari mengejar mimpi. Banyak dari kita akhirnya seperti singa di kebun binatang – mendapat makanan enak, tapi hanya duduk manis. Kenyamanan sama dengan kebosanan dan percaya bahwa semua yang ada tak bisa berubah.”

Yang sering kita lupa adalah, usia kerap menjadi alasan. Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh WhatisMyComfortZone.com terhadap 1500 orang secara acak, di usia 34 seseorang berada dalam puncak kenyamanannya. Padahal usia ini masih termasuk dalam rentang usia produktif, lho! Bahkan usia 34 biasanya seseorang mencapai stabilitas dalam karirnya.

Menonton video wawancara dengan Pak Habibie berikut ini, jujur bikin saya malu. Di usianya yang ke- 80 tahun, lihat air muka beliau, matanya yang selalu bersinar tanda bahwa semangatnya masih hidup bak usia 17, kalau katanya di video ini!

Saya, di usia 34 tahun (tahun lalu) memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan memulai kehidupan baru di karir saya. Tantangannya? Berat! Saya percaya, bahwa setiap tantangan selalu berpasangan dengan jawaban kalau saya mau berani mendorong diri saya sendiri ke langkah berikutnya, keluar dari comfort zone tanpa kompromi. Persis seperti Samsung Note7 dengan campaign terbaru mereka Life without Compromise.

Hari ini, saya sadar bahwa ada nilai yang tak terbayarkan saat saya berhasil menjawab tantangan tersebut. Bagaimana dengan kamu? – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.