Kilas balik kinerja TNI dalam 3 tahun terakhir

Rappler.com
TNI ikut turun dalam penanganan bencana alam di Indonesia, tapi beberapa oknum anggota ada juga yang mencoreng nama institusi tersebut

Prajurit TNI mengikuti upacara peringatan HUT ke-71 TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, pada 5 Oktober 2016. Foto oleh M Agung Rajasa/Antara

JAKARTA, Indonesia — Setiap 5 Oktober menjadi hari yang bersejarah untuk keamanan bangsa Indonesia. Di tanggal tersebut pada 1945, ditetapkan sebagai hari kelahiran Tentara Keamanan Rakyat (TKR), atau yang kini dikenal sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI).

72 tahun sudah TNI bergerilya di Indonesia. Sejumlah prestasi dan keberhasilan mampu diraih. 

Selain menjalankan tugas kemiliteran, TNI juga sering melakukan beberapa aksi penyelamatan korban bencana alam yang terjadi di Indonesia. 

Contohnya, pada Agustus lalu, TNI bersama dengan angkatan militer Malaysia juga melakukan pelatihan evakuasi korban.

Berikut adalah 5 kasus bencana alam selama 3 tahun terakhir yang dibantu oleh TNI dalam penanganannya:

Banjir di Garut dan longsor di Sumedang

TNI turut berkontribusi dalam salah satu bencana alam yang belum lama terjadi di Indonesia, yaitu banjir bandang di Garut pada 21 September. 

Air sungai Cimanuk dan Cikamuri yang meluap membuat banjir bandang dengan ketinggian mencapai 1,5 – 2 meter. 

Selain itu, 5 dusun di Desa Ciherang, Sumedang, juga mengalami longsor pada 20 September yang menimbun beberapa rumah dan mengakibatkan korban tewas.

TNI dalam bencana ini mengambil peranan penting untuk penyelamatan dan evakuasi korban bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang, Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), hingga relawan dan masyarakat.

Kebakaran hutan di Riau

Prajurit TNI dan anggota Kepolisian memadamkan api di lahan gambut di Desa Parit Indah, Kampar, Riau, pada 9 September 2015. Foto oleh EPA

Bencana kebakaran hutan di Riau yang terjadi sejak tahun lalu menghebohkan masyarakat, bukan hanya warga Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. 

Dalam bencana ini, TNI turut terlibat dalam memadamkan kebakaran yang terjadi, utamanya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Tercatat pula satu orang prajurit AD yang ditemukan tewas terbakar di lokasi Karhutla saat sedang memadamkan api. 

Selain itu, TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau juga membantu proses pelepasan sandera staf Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan oleh sebuah perusahaan sawit hingga akhirnya dibebaskan.

(BACA: Kisah prajurit memadamkan api, mulai dari dikejar gajah hinggasulit cari air)

Siaga bencana alam di Bandung Barat

Sebanyak kurang lebih 789 personel TNI dikerahkan dalam rangka antisipasi dan penanggulangan bencana alam di Kapubaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada April lalu. 

Hujan yang terus turun dengan intensitas yang tinggi memungkinkan memicu bencana alam, seperti longsor dan pergerakan tanah di wilayah yang cukup rawan ini. 

Berbagai peralatan dan logistik untuk proses evakuasi dan membantu korban pun disiapkan oleh TNI, mulai dari tenda, perahu karet hingga distribusi makanan. 

Banjir di Sumatera Barat

Aksi penyelamatan dari bencana alam banjir juga dilakukan TNI saat banjir melanda di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pada Februari lalu. 

Banjir ini merendam lebih dari 300 unit rumah di beberapa Kecamatan di Sumatera Barat. 

Secara aktif, TNI memberikan bantuan, seperti air bersih, penyediaan sembako, hingga pakaian bekas yang merupakan kerja sama dengan pemerintah dan para donatur. 

Longsor di Purworejo

Pada Juni 2016, terjadi bencana alam longsor di 3 Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo.

Sebagian besar korban, sekitar 22 orang meninggal dunia dan 18 korban tidak berhasil ditemukan dalam proses pencarian. Hal ini terjadi lantaran curah hujan yang cukup tinggi dan angin yang kencang. 

TNI beserta Polri pun langsung turun ikut mengevakuasi para korban longsor ini. Namun proses pencarian juga menghadapi situasi yang menantang karena hujan yang terus turun dan angin yang kencang menimbulkan kekhawatiran terjadinya longsor susulan.

Menyambut hari jadi ke-71 TNI, KontraS membahas kinerja dan profesionalisme institusi TNI terkait frekuensi kekerasan yang dilakukan TNI baik secara institusi atau personel dalam setahun terakhir, pada 5 Oktober 2016. Foto oleh Rosa Panggabean/Antara

Namun di luar keterlibatan dalam proses evakuasi dan bantuan dalam bencana, tak sedikit oknum TNI yang luput dari sejumlah pelanggaran, misalnya dalam masalah hak asasi manusia (HAM).

Berikut adalah 5 pelanggaran HAM yang diduga dilakukan oknum TNI dalam 2 tahun terakhir:

Tukang ojek di Cibinong ditembak anggota TNI

Peristiwa ini terjadi pada 3 November 2015 , di Cibinong, Bogor. 

Serda Yoyok merenggut nyawa Japra (40 tahun) seorang tukang ojek di Cibinong, lantaran mobil yang dikendarai Serda Yoyok disalip dari kiri ke kanan oleh motor Japra.

Menurut versi Kodam Siliwangi, Serda Yoyok menembak Japra di bagian kepala setelah mobil Honda CRV yang dikendarainya disalip dari kiri ke kanan.

Namun menurut keterangan saksi, keduanya sempat terlibat adu mulut dan saling dorong terlebih dulu, sebelum akhirnya Serda Yoyok menembak mati Japra.

Penembakan 2 warga sipil di Timika

Dua warga sipil bernama Imanuel Mairimau (23 tahun) dan Martinus Apokapo (24 tahun) tewas usai ditembak oleh 2 anggota TNI Angkatan Darat di Timika, Papua, 28 Agustus 2015.

Insiden tersebut terjadi ketika, menurut versi pihak TNI yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Wuryanto, anggota TNI AD bernama Serka Makher yang sedang mabuk, dikeroyok oleh warga. Makher kemudian dicari oleh 2 rekannya, Sertu Anshar dan Praka G.

Sertu Anshar kemudian menghubungi ponsel Makher, dan meminta untuk bertemu di Pertigaan Titi Teguh. Ketika mereka bertemu, Sertu Anshar dan Makher justru dikeroyok oleh warga.

Saat dikeroyok, Sertu Anshar mengisi senjata dan melakukan dua kali tembakan peringatan, namun tak digubris. Bahkan, beberapa warga, menurut Wuryanto, berusaha merebut senjata tersebut.

Dengan itu, Sertu Anshar mencoba membela diri dengan menendang, lalu menembak dengan sasaran kaki. Namun akhirnya meleset, menewaskan 2 warga sipil.

Bentrok TNI AU-warga Kelurahan Sari Rejo

Warga Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, Medan, terlibat bentrok dengan TNI Angkatan Udara (AU) pada 15 Agustus 2016. Bentrok terjadi akibat adanya pematokan tanah oleh TNI AU di Jalan Pipa Medan.

Warga setempat kemudian memblokade Jalan SMA Negeri 2 Medan dan persimpangan CBD Polonia Medan dengan kayu dan ban yang dibakar, lantaran kesal dan menganggap tentara mengambil lahan mereka.

Konflik terjadi ketika ban yang dibakar berusaha dipadamkan TNI. Warga kemudian melempari TNI dengan botol air mineral. Pihak TNI kemudian balas mengejar warga.

TNI kemudian menyusuri gang-gang dan terjadi bentrok di beberapa gang. Buntutnya, sebanyak lebih dari 9 warga dan 2 jurnalis yang bertugas terluka akibat serangan dari pihak TNI.

Bentrok Sari Rejo, 2 jurnalis terluka

Sejumlah jurnalis Medan menggelar aksi unjuk rasa memprotes penganiayaan jurnalis oleh oknum TNI, di Sumatera Utara, pada 5 Oktober 2016. Foto oleh Septianda Perdana/Antara

Selain warga yang terluka pada bentrok di Kelurahan Sari Rejo, ada pula 2 jurnalis, yakni Array dari Tribun Medan dan Andry Syafrin dari MNC TV, yang menjadi korban kekerasan oknum TNI.

Selain dipukuli, peralatan lapangan mereka juga diambil secara paksa.

Array mengaku, ia yang awalnya meliput kemudian ditarik dan dipukuli TNI. Padahal, ia telah mengatakan bahwa ia adalah wartawan sambil menunjukkan identitasnya.

Tak berbeda jauh, Andry juga dipukuli meski ia mengatakan bahwa TNI telah mengetahui bahwa ia adalah wartawan. Tak hanya itu, dompet, ponsel, dan handycam miliknya juga diambil oleh TNI, lalu dirusak.

Pemukulan jurnalis di Madiun

Jurnalis kontributor NET TV di Madiun, Jawa Timur, Sony Misdananto, mengalami luka setelah dikeroyok oleh anggota TNI AD di depan Markas TNI AD, pada 2 Oktober.

Kronologinya, Sony hendak meliput kejadian kecelakaan lalu lintas antara rombongan konvoi sebuah perguruan pencak silat dan wanita pengendara motor. 

Ketika ia merekam kejadian, ia mengatakan sempat dipanggil oleh petugas Provost ke pos pengamanan.

Ia kemudian mengatakan bahwa ia adalah wartawan, sambil menunjukkan identitasnya. Namun petugas justru memintanya untuk menghapus rekaman tersebut. Tak berselang lama, Sony merasakan hantaman di bagian belakang kepalanya.

Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit oleh Komandan Yonif Para Raider 501/Bajra Yudha dan Wakapolres.

Mengenai peristiwa ini, Kodim 0803/Madiun, Letkol Infantri Rahman Fikri telah meminta maaf secara langsung kepada Sony. Meski demikian, pihak NET. TV tetap melaporkan penganiaya Sony kepada Detasemen Polisi Militer (Denpom) Madiun. —Rappler.com