Apakah Justin Bieber sudah sepenuhnya siap menjadi bintang pop?

Alanda Kariza
Ia terlihat seolah-olah tidak ingin tampil di panggung

Justin Bieber saat tampil di Telia Parken Stadium in Copenhagen, 2 Oktober 2016. Foto oleh Jens Astrup/AFP.

BIRMINGHAM, Inggris – Apa yang Anda dapatkan ketika seorang pemuda berusia 22 tahun, yang muncul ke permukaan sebagai sensasi di YouTube, melakukan tur keliling dunia? Pertunjukan yang jauh lebih ambisius dibanding bintangnya itu sendiri.

Konser Justin Bieber di Birmingham hari Selasa, 18 Oktober malam lalu menjadi pertunjukan keenamnya di Britania Raya, menyisakan sepuluh pertunjukan lagi untuk melengkapi perjalanannya di negeri tersebut.

Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa di banyak lagu, terutama yang bertempo cepat dan memaksanya untuk memamerkan kebolehannya bergerak dan menari, sang solois bahkan tidak terlihat tertarik untuk berusaha menampilkan pertunjukan yang spektakuler.

Segera setelah intro dari lagu pertama, Mark My Words, dimainkan, kita bisa melihat bagaimana konser ini direncanakan untuk memanjakan mata dan membuat mulut terbuka seperti konser fenomena pop lainnya.

Justin Bieber memasuki panggung melalui sebuah boks transparan yang menggantung di udara, setelah potongan-potongan video tematik yang ia bintangi sendiri diproyeksikan di latar panggung.

Teknologi projection mapping dan desain panggung memiliki peranan besar di konser ini, memberinya kesempatan untuk berloncat-loncat di atas trampolin yang menggantung di udara ketika menyanyikan lagu Company atau bernyanyi dan bergerak di bawah hujan yang turun dengan derasnya pada lagu Sorry.

Foto dari website Justin Bieber Music.

Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan kualitas bintang yang prima dari Justin Bieber. Ia terlihat seolah-olah ia tidak ingin tampil di sana. Ini tidak terlalu aneh jika dilihat, mengingat ia sudah disambut dengan teriakan penggemar yang tiada henti-hentinya tanpa perlu tampil maksimal.

Di lagu Boyfriend, Been You dan No Sense, contohnya, Justin Bieber, yang pada bagian pertama dari konser tersebut hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek kargo, melakukan lipsync sepanjang lagu.

Praktek lipsync yang dilakukan oleh bintang pop di konser bukanlah hal baru, tetapi ia tidak menggunakan mikrofon yang menempel di sisi wajahnya malam itu.

Penonton bisa melihat dengan jelas bahwa ia melakukan lipsync ketika Justin Bieber tidak mendekatkan mikrofon ke mulutnya tetapi suaranya tetap menggema di Barclaycard Arena.

Konser akhirnya berubah haluan ketika ia mulai menikmati apa yang ia lakukan. Di tengah-tengah konser, tanpa penari maupun visual yang berlebihan di latar panggung, Justin Bieber menyanyikan aransemen akustik dari salah satu lagu hit terbarunya dengan Major Lazer, Cold Water.

Fragmen ini menunjukkan bagaimana Justin Bieber, yang meroket ke kancah permusikan dunia di usia remaja, mampu melakukan transisi dari suara pubertas menuju suara dewasa tanpa cela.

Penampilannya juga begitu memukau, mengingatkan kita mengapa ia berhasil menjadi musisi pertama yang memiliki tujuh lagu dari album debut berada di Billboard Hot 100 ketika usianya baru 16 tahun.

Penampilan akustik ini, di mana Justin Bieber meninabobokan penonton dengan gitar yang ia petik sendiri, diikuti balada Love Yourself dan lagu Fast Car dari Tracy Chapman yang diaransemen ulang.

Penyanyi Kanada ini menunjukkan bahwa ia bisa tampil mempesona jika ia mau melakukannya: menyanyi dengan sempurna, meluruhkan keglamoran yang terkadang mendistraksi kita.

Setelah istirahat 20 menit di tengah pertunjukan, akhirnya Justin Bieber bisa lebih menikmati pertunjukan, terutama ketika ia mulai berinteraksi dengan penonton melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis yang ia lempar soal anak-anak (Children), hidup (Life is Worth Living), dan tujuan hidup (Purpose). Ia juga memberikan pertunjukan yang sangat baik dalam single What Do You Mean? dan Baby, sebelum menutup malam dengan lagu Sorry.

Kita berkesempatan untuk melihat bagaimana Justin Bieber telah berani mengeksplor musikalitas, menghasilkan album yang brilian dengan arahan artistik yang semakin dekat dengan jati dirinya.

Ia terlihat lebih tahu soal apa yang ia mau dan tidak mau lakukan. Sayangnya, hal ini belum berjalan berdampingan dengan kualitas bintang yang kita harapkan bisa dimiliki oleh seorang bintang yang melakukan tur keliling dunia.

Fenomena pop yang terdahulu seperti Britney Spears bahkan sudah memberikan salah satu pertunjukan ikonik dengan ular di bahunya ketika usianya baru 20 tahun.

Walaupun pihak manajemen Justin Bieber mungkin berharap untuk bisa menjadikan dirinya bintang pop, Justin Bieber terlihat bahwa ia masih ingin menjadi anak muda biasa – atau paling tidak, sekedar personalita YouTube.

Melihat Justin Bieber akan mengingatkan kita pada teman laki-laki di SMA yang tahu bagaimana ia begitu diinginkan oleh banyak orang, dan terus-terusan berusaha menjaga faktor ‘keren’ yang ia miliki.

Bagaimanapun juga, bahkan ketika ia berdiri tanpa melakukan apa-apa, semua perempuan di sekitarnya sudah berteriak-teriak fanatik.

Purpose World Tour direncanakan untuk menjadi tur yang berjalan selama satu tahun, dimulai di Amerika Utara pada Maret 2016 dan berakhir pada Maret 2017 di Australia.-Rappler.com.