Pak Nasrul: Memotret untuk hidup

Nadia Vetta Hamid
Fotografer jalanan yang viral di media sosial ini pernah merasakan pulang tanpa ada siapa pun yang dipotret

VIRAL. Pak Nasrul, seorang fotografer keliling yang kisahnya viral di media sosial. Foto oleh Nadia Vetta Hamid/Rappler

“Sebentar ya, saya sampai di situ setengah jam lagi.”

Begitu kata Pak Nasrul kepada saya melalui telepon. Setelah dua hari berturut-turut saya mencoba menghubungi fotografer jalanan yang akhir-akhir ini menjadi viral di media sosial, akhirnya ia mengangkat panggilan telepon saya pada Rabu, 26 Oktober. 

“OK Pak, nanti ketemu di tempatnya Bapak, ya, jam satu,” saya menjawab Pak Nasrul.

Sebenarnya saya sudah tiba di depan gedung Bank OCBC yang terletak di antara Mal Ambassador dan AXA Tower-Kuningan City, Jakarta Selatan, sejak pukul 12 siang. Namun, karena ia masih mencetak foto, akhirnya pertemuan kami molor satu jam.

Tidak sulit untuk menemukan sosok Pak Nasrul di antara para pejalan kaki yang lalu lalang di trotoar Jalan Prof. Dr. Satrio. Hanya ia seorang kakek yang mengalungi sebuah kamera SLR. Saya menghampiri Pak Nasrul untuk selanjutnya memperkenalkan diri, “Tadi saya yang nelepon.”

Pak Nasrul hanya manggut-manggut. Saya melihat ada sebuah tas besar, jaket berwarna kuning, dan juga tumpukan foto-foto hasil Pak Nasrul yang belum diambil oleh pelanggan—diletakkan di atas boks yang mengamankan lampu jalan.

Saya sempat melihat sekilas hasil-hasil foto Pak Nasrul, yang mengingatkan saya dengan hasil jepretan fotografer yang suka tiba-tiba muncul di lobby gedung tempat acara wisuda atau pernikahan.

Tidak lama kemudian, tiga orang perempuan muda menghampiri kami. Seperti saya, mereka juga minta difoto oleh Pak Nasrul. Saya minta izin mewawancarai pria berusia 76 tahun itu setelah ia selesai memotret.

Tiga perempuan yang baru saja datang: Sheila, Bella, dan Rahma meminta Pak Nasrul untuk ikut berfoto dengan mereka. Saya dengan senang hati mengiyakan agar bisa memotret mereka dengan kamera Pak Nasrul.

FOTO. Banyak juga pelanggan yang ingin berfoto bersama Pak Nasrul, seperti Sheila, Bella, dan Rachma. Foto oleh Nadia Vetta Hamid/Rappler

Namun, nampaknya Pak Nasrul kebingungan dengan permintaan mereka karena ia tetap membidik kamera ke pelanggan barunya. Barulah setelah dua kali memotret, saya memotret Sheila, Bella, dan Rahma bersama Pak Nasrul menggunakan kamera smartphone milik mereka.

Saya sempat berbincang singkat dengan ketiga perempuan itu. Bella mengatakan ia mengetahui Pak Nasrul lewat jejaring media sosial LINE, sedangkan Rahma melihat unggahan Instagram temannya yang baru saja melewati area Kuningan. Namun Sheila mengaku baru melihat Pak Nasrul hari ini, meskipun ketiganya berkantor di salah satu gedung yang berada di sekitar situ.

Apa yang membuat mereka mendatangi Pak Nasrul? Ketiganya kompak mengatakan bahwa mereka kasihan dan ingin tahu lebih banyak tentang fotografer keliling yang sudah berada di Jakarta sejak 1973 ini.

Sebuah rombongan karyawan berseragam batik biru mendatangi kami. “Bapak, yang fotografer itu, kan?” tanya salah satu dari mereka. Pak Nasrul hanya mengangguk, seolah tak pernah melihat kerumunan orang sebanyak ini menghampirinya. Mereka menawarkan Pak Nasrul agar memotret di kantor mereka saja, namun langsung ditolaknya dengan alasan, “Tas saya berat.” 

Rombongan tersebut pun akhirnya berfoto bersama di tempat. Setelah mereka pergi, saya baru bisa bebas berbincang dengan Pak Nasrul di tengah bisingnya lalu lintas siang itu.

Perantau dari Gunung Merah Putih

AKSI. Pak Nasrul mengarahkan pelanggannya sebelum difoto. Foto oleh Nadia Vetta Hamid/Rappler

Ketika saya bertanya mengenai daerah asal Pak Nasrul, ia menunjuk bendera Merah Putih yang berkibar di tiang depan gedung Bank OCBC.

“Merah Putih,” katanya singkat. Saya sempat mengira ia menjawab kalau ia tinggal di Indonesia, tentu saja. Sependengaran saya, Pak Nasrul menjawab Solo — yang belakangan saya ketahui kalau ia berasal dari Gunung Merah Putih, sekitar Danau Singkarak yang berada di nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. 

Pak Nasrul mengaku pernah bekerja di bidang minyak bersama Suku Sakai, salah satu masyarakat terasing di Provinsi Riau hingga akhirnya ia berpindah-pindah kota sebelum menetap di ibu kota. Kepada saya, Pak Nasrul berkata ia tak langsung menjadi fotografer setelah bekerja di Riau. Ia sempat tak memiliki pekerjaan di Jakarta.

Kini, ia bermukim di kawasan Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Timur. Setiap harinya, ia menumpang bus Kopaja untuk mencapai Kuningan. Ia mengatakan bahwa kini ia tinggal seorang diri meskipun telah memiliki seorang anak. 

Sebelumnya pernah viral

Ini bukanlah kali pertama kisah hidup Pak Nasrul diangkat oleh netizen ke media sosial. Ia pertama kali dikenal publik pada November 2014 berkat sebuah unggahan di jejaring sosial Path. Berikutnya, pada 2015, Iqbal Fahri dan kawan-kawannya bertemu dengan Pak Nasrul saat ia menjajakan jasanya di Plaza Festival, Kuningan. 

Pada November 2014 dan juga di unggah Facebook tadi, Pak Nasrul terlihat lebih lusuh dibandingkan dengan saat saya bertemu dengannya. Ia juga dideskripsikan membawa dua kamera: “Satu kamera DSLR merek Minolta yang berfungsi sebagai pajangan dan satu kamera digital merek Canon yang sudah usang”.

Di hari itu, ia mengalungkan kamera digital merek Nikon. Sayangnya, ia tak mau menjawab pertanyaan saya mengenai kameranya.

Setelah sosoknya dikenal banyak orang di internet, apakah berarti semakin banyak orang yang menggunakan jasanya? “Enggak tentu. Kadang kosong, kadang juga lima,” jawab Pak Nasrul, “Ada juga, lah, dikit.”

Satu hal yang pasti, kini nasibnya sudah lebih baik dibandingkan saat kisahnya menjadi viral untuk kali pertama. Saya merasakan adanya semangat di nada bicaranya, yang diselingi dengan tawa.

Dengan antusias, ia bercerita bahwa ia baru saja mencetak 200 lembar foto sebelum kami bertemu. Sayangnya, tak jarang juga pelanggan yang tidak kunjung mengambil hasil foto mereka di Pak Nasrul.

‘Tidak ada jalan hidup lain’

 

Lantas, apakah ia benar-benar menyukai fotografi? Pak Nasrul mengaku ada yang tidak suka dengan apa yang ia lakukan, meskipun ia tak menjelaskan siapa mereka. “Suka, tapi musuhnya banyak. Orang banyak yang menghina karena saya cetak, cetak, cetak foto kerjaannya,” akunya.

Apakah Pak Nasrul menyenangi pekerjaannya ini? “Ya, habis enggak ada jalan lain. Untuk hidup enggak ada jalan lain. Ini ajalah yang ringan-ringan.”

Dengan tarif yang cukup terjangkau —Rp20.000 untuk satu kali foto— Pak Nasrul bisa menyambung hidupnya sehari-hari. Hasil foto baru bisa diambil setelah lima sampai 6 hari, meskipun sebelumnya dilaporkan kalau hanya butuh tiga hari untuk mengambil hasilnya.

Mungkin hasil foto Pak Nasrul tidak sekeren foto-foto yang kamu biasa unggah di Instagram, namun karena sang fotografer adalah orang yang spesial, hasil tersebut akan menjadi kenang-kenangan yang tak ternilai.

Rasanya saya tidak sabar ingin bertemu kembali dengan Pak Nasrul dan menunjukkan kepadanya kalau masih banyak orang yang peduli dengan dirinya —meskipun hanya di dunia maya. — Rappler.com