Pidato politik, Agus Yudhoyono sebut Jakarta banyak ketimpangan

Rappler.com
Agus mengatakan aspirasi warga yang direlokasi oleh Pemprov DKI menjadi amanat baginya untuk memimpin Jakarta kelak

Calon Gubernur DKI Jakarta, Agus Yudhoyono, menyampaikan pidato politik di Jakarta, pada 30 Oktober 2016. Foto oleh Puspa Perwitasari/Antara

JAKARTA, Indonesia — Calon Gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono, mengungkapkan alasannya mengukuhkan niat untuk menjadi orang nomor satu di ibu kota.

Dalam pidato politik yang disampaikannya pada Minggu, 30 Oktober, ia mengaku terkesan setelah kunjungannya ke kawasan Luar Batang, Jakarta Utara.

Tempat ini merupakan area yang pernah direlokasi oleh gubernur petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, dan diwarnai perlawanan warga. Agus mengunjungi daerah tersebut pada Jumat, 21 Oktober, lalu.

(BACA: Atas nama Wisata Bahari)

“Ketika saya turun ke lapangan, berjalan menuju Masjid Luar Batang untuk menunaikan salat Jumat, dan melintasi pemukiman padat penduduk, tiba-tiba seorang ibu separuh baya meraih, lalu menggenggam tangan saya erat-erat,” kata Agus dalam pidatonya.

Kepada Agus, ibu tua itu mengungkapkan keterkejutannya atas kedatangan seorang calon gubernur, meski saat itu belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta.

Sembari menggenggam tangan putra sulung Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, sang ibu mengatakan kalau ia dan warga lainnya membutuhkan keadilan.

Mereka, ujar Agus, berada dalam kecemasan karena takut wilayahnya akan terkena gusur. Seperti warga Luar Batang lain yang sudah terlebih dahulu dipindahkan ke Rumah Susun (Rusun) Marunda dan Rawa Bebek.

BERMAIN. Anak-anak Kampung Luar Batang bermain di reruntuhan bangunan di Pasar Ikan, pada 10 April 2016, sehari sebelum digusur oleh Pemprov DKI. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Malamnya, Agus mengaku masih terngiang-ngiang dengan kata-kata sang ibu tua. Ia bertanya-tanya, apakah kalimat tersebut merupakan godaan, atau justru suatu amanat.

Usai menunaikan salat istikharah, ia sampai pada suatu keyakinan.

Bismillahirrahmanirrahim, keputusan saya untuk mengakhiri ikatan dinas di TNI dan maju sebagai calon gubernur DKI, saya yakini sebagai sebuah panggilan tugas suci untuk membela hak-hak warga yang tertindas dan diperlakukan tidak adil seperti yang dialami warga Luar Batang, serta untuk pembangunan kemashlahatan seluruh umat yang lebih besar, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan antar golongan,” kata Agus.

‘Jangan ada warga terpinggirkan demi pembangunan’

Agus Harimurti Yudhoyono  berfoto bersama pendukungnya usai menyampaikan pidato politik. Foto oleh Puspa Perwitasari/Antara

Bagi suami Annisa Pohan ini, Luar Batang dulu merupakan salah satu titik perlawanan terhadap penjajah Belanda. Kini, sebagian masyarakat menempatkan Luar Batang sebagai salah satu titik perlawanan terhadap ketidakadilan dan kesenjangan sosial.

Agus mengakui perkembangan Jakarta sangatlah penting, dan tak terhindarkan. Namun, bukan berarti pelebaran kesenjangan antar golongan dapat dimaklumkan.

“Tidak boleh lagi ada warga Jakarta yang takut terhadap pemerintahnya sendiri atau khawatir diperlakukan tidak adil. Pembangunan Jakarta haruslah untuk rakyat, bukan untuk segelintir golongan,” kata Agus yang berpasangan dengan Sylviana Murni dalam Pilkada DKI ini.

Pemerintah, ujarnya, wajib memastikan rakyatnya bisa hidup, aman, adil, sejahtera, dan makmur.

“Untuk itu, saya hadir di sini untuk mengawali kerja lapangan, memenangkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, agar kelak tidak ada lagi warga Jakarta yang termajinalkan meski pembangunan fisik dan infrastruktur dilakukan,” katanya.

“Saya akan gunakan semua ilmu dan pengalaman, penugasan, serta pendidikan bahkan network internasional saya, untuk membangun Jakarta yang berkelas dunia,” kata Agus.

Jakarta, yang dihuni oleh 14 juta jiwa, tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang kaya. Orang yang miskin dan lemah, ucap Agus, juga memiliki hak dan aspirasi yang wajib didengarkan para eksekutif.

Ia juga menyinggung masalah perlambatan ekonomi yang memang sudah menjadi momok sejak 2 tahun lalu. Akibatnya, ada peningkatan kemiskinan, pengangguran, serta jumlah orang tak mampu turus meningkat.

“Perasaan tidak adil seperti inilah, ditambah dengan ketimpangan sosial-ekonomi yang menganga membuat rakyat kecil merasa kalah, tersisih.. dipinggirkan dan ditinggalkan,” kata Agus.-Rappler.com