‘Raise the Red Lantern’: Kisah cinta klasik berujung tragis

Yetta Tondang
Pertunjukan balet yang ditampilkan The National Ballet of China ini berlangsung 2-3 November di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta

Gelaran bertajuk 'Raise the Red Lantern' ditampilkan oleh The National Ballet of china di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta, Rabu, 2 November 2016. Foto oleh Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO.

JAKARTA, Indonesia – Gelaran ini digagas oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, bekerjasama dengan Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial dan Budaya Indonesia-Tiongkok dalam rangka memperingati 67 tahun hubungan diplomasi antara Tiongkok dan Indonesia.

Digelar selama dua hari, 2-3 November 2016 di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta, pertunjukan Raise the Red Lantern ini memang tidak dibuka untuk umum.

Namun panitia mengundang tamu dari berbagai institusi termasuk murid-murid yang sedang menekuni bidang tari dan anak-anak disabilitas yang berkesempatan menonton sesi rehearsal, Rabu, 2 November sore.

“Kami sangat senang diundang oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok. Karena anak-anak di yayasan kami juga sering mementaskan teater. Jadi ini bisa menjadi bahan pelajaran untuk mereka,” kata Bayu Indra Kusuma, Pimpinan Yayasan Dilts Foundation, yang memfasilitasi rumah singgah untuk anak-anak jalanan di area Pasar Minggu.  

Selain itu, ada pula 40 orang perwakilan dari Program Studi Seni Drama, Tari dan Musik Universitas Negeri Jakarta yang juga berkesempatan melihat penampilan Raise the Red Lantern oleh The National Ballet of China.

“Kami mengapresiasi betapa The National Ballet of China ini sangat disiplin dalam latihan.  Mereka sangat total dalam latihan. Dan keseriusan itu yang perlu kami contoh,” ujar Ida Bagus Ketut Sudiasa, Sekretaris Program Studi Seni Drama, tari dan Musik Universitas Negeri Jakarta.

Perjalanan setengah abad

Yang ditampilkan The National Ballet of China lewat kisah Raise of the Red Lantern ini memang berbeda dengan pertunjukan balet lainnya. Ada nuansa balet klasik tapi juga ada sentuhan elemen gaya seni Tiongkok klasik, termasuk akrobat, permainan bayangan (shadow play), Opera Peking, kostum dan arsitektur.

Sesaat setelah layar panggung dibuka pun, terlihat jelas persiapan matang dalam bentuk set panggung yang megah dan mewah serta detail hingga ke bagian-bagian terkecil sekalipun.

Set panggung Raise of the Red Lantern yang ditampilkan di Ciputra Artpreneur Theatre pun sama dengan yang mereka tampilkan di seluruh dunia sejak memulai lakon ini di tahun 2001 silam. Sejak saat itu, mereka sudah tampil 400 kali di berbagai kota di belahan dunia.

Selain cerita yang apik dan skill penari yang luar biasa, tampilan warna-warni kostum, aksesoris dan set panggung yang atraktif menjadi daya tarik pertunjukan 'Raise the Red Lantern'. Foto oleh Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO.

Meski untuk panggung di Jakarta ini, sejumlah penyesuaian harus dilakukan mengingat area panggung yang lebih kecil dari biasanya. Sebanyak hampir seratus personel, baik penari maupun seluruh kru pendukung pun hadir di Jakarta.

The National Ballet of China sudah berusia lebih dari setengah abad. Sejak didirikan pertama kali di Desember 1959, ballet company ini sudah merekrut ratusan penari profesional.

Mereka sudah pernah mementaskan beragam karya tari terkenal seperti Swan Lake, Don Quixote, Giselle, Carmen, Onegin sampai The Little Mermaid.

Ini adalah kali kedua The National Ballet of China menyambangi Tanah Air. Yang pertama saat mereka berkesempatan  tampil di Jakarta hampir 20 tahun yang lalu.  Uniknya, Xu Gang, yang dulu tampil di Jakarta sebagai penari, kini datang kembali sebagai Master Ballet.

Butuh waktu dua tahun perencanaan dan satu tahun persiapan sebelum akhirnya The National Ballet of China bisa mementaskan Raise of the Red Lantern di Jakarta.

“The National Ballet of China tidak hanya memperlihatkan skill luar biasa, tapi juga mempresentasikan China yang lebih modern sekaligus mempererat persahabatan antara warga dua negara,” ujar Xie Peng, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia.

Lakon tiga babak

Salah satu adegan di pertunjukan 'Raise the Red Lantern' saat istri ketiga sang tuan bertemu kekasih setianya, seorang seniman Oper Peking. Foto oleh Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO.

Raise the Red Lantern sebenarnya adalah kisah yang didasari novel Wives and Concubines karya penulis Su Tong dan kemudian diadaptasi ke bentuk film berjudul serupa yang disutradarai oleh sutradara kenamaan, Zhang Yimou.

Film Raise the Red Lantern dirilis tahun 1991 dan sempat memenangkan grand prize di ajang World Film Critics Association di Venice Film Festival ke-44.

Cerita berlatar belakang kehidupan di Tiongkok di era 1920-an. Tentang seorang tuan yang menikahi tiga perempuan.

Kisah dibuka dengan perintah sang tuan untuk menyalakan lampion merah untuk menyambut kedatangan seorang wanita muda yang menjadi istri ketiganya. Padahal sang wanita hanya menyimpan cinta pada seorang seniman muda yang bekerja di sebuah grup Opera Peking.

Lakon pertama pun diawali dengan perayaan pernikahan sang tuan dengan istri ketiganya. Pada malam pengantin, sang istri ketiga mencoba menolak tapi apa daya, ia tak kuasa. Di sini, permainan shadow play dtampilkan sangat apik oleh para ballerina.

Pertunjukkan 'Raise The Red Lantern' oleh National Ballet Of China telah dipentaskan hampir 400 kali dan sangat berpengaruh bagi karya seni balet di Tiongkok. Foto oleh Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO.

Setelah diselingi interval, lakon kedua bergulir saat sang tuan membawa serta ketiga istrinya untuk menonton Opera Peking dan bermain mahjong. Set panggung pun berubah dengan meja-meja yang dijadikan sebagai media bagi penari untuk mempertontonkan skill balet mereka.

Tak hanya skill menari yang mencuri perhatian penonton, tapi juga warna-warni kostum, aksesoris dan dandanan para penari yang sangat atraktif.

Di sini diceritakan sang istri ketiga mencuri waktu bertemu dengan kekasih gelapnya. Sayang, pertemuan mereka diketahui istri kedua yang membawa penonton ke lakon ketiga.

Istri kedua akhirnya tak bisa menahan diri untuk menceritakan hubungan yang terjadi antara istri ketiga dan kekasihnya pada sang tuan. Tapi ia diabaikan. Marah karena merasa tidak ditanggapi, istri kedua mengambil tongkat pemantik lampion dan menyalakan lampion.

Tindakan istri kedua ini memicu kemarahan sang tuan yang akhirnya memutuskan untuk menghukum mati istri keduanya.

Sebagai penutup, tersaji adegan mengiris emosi jelang detik-detik eksekui mati sang istri ketiga dan kekasih gelapnya. Terlihat serombongan penari pria memukul rotan raksasa yang sudah dibubuhi cat merah ke tembok putih sehingga memberi efek drama eksekusi yang mengena.

Sang istri ketiga dan kekasihnya berpelukan penuh cinta sampai akhirnya ajal menjemput mereka. Saat itulah dari atas panggung turun potongan-potongan kertas putih yang terlihat seperti butiran salju, menambah dramatisasi di penghujung kisah.

Dihadiri para petinggi

Gelaran Raise the Red Lantern  oleh The National Ballet of China di hari pertama, Rabu, 2 November, juga banyak dihadiri tamu penting. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, terlihat hadir mewakili Presiden Joko Widodo.

Menko PMK Puan Maharani, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri serta Duta Besar Repbulik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Xie Feng dan istri, Wang Dan, menikmati pertunjukan 'Raise the Red Lantern' oleh The National Ballet of China, Selasa, 2 November 2016 di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta. Foto oleh Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO.

Bersama Puan ikut pula Megawati Soekarnoputri, Presiden RI kelima. Beberapa petinggi lainnya yang turut menkmati pertunjukan malam itu antara lain adalah Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto beserta istri, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, mantan Ketua DPR Marzuki Alie beserta istri, Ketua umum Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial dan Budaya Indonesia-China, Sukamdani Sahid Gitosardjono, serta masyarakat dari berbagai kalangan.

Seluruh penari, pendukung acara dan tamu VVIP berfoto bersama usai pertunjukan 'Raise the Red Lantern' di Ciputra Artpreneur Theatre, Rabu, 2 November. Foto oleh Yetta Tondang/Rappler.com.

Total sekitar 1.200 orang hadir dan menikmati pertunjukan Raise the Red Lantern malam itu. -Rappler.com.